Ternyata, Kampusku Tak Aman dari Pungli /1/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Dina Febriyanti)

Penulis: Rofitrah Fadli Sihombing

Kriiinggg…

Kriiiinggg…

Bunyi alarm masih dihiraukan oleh pemilik gawai yang masih berbunyi itu. Memang benar kata orang, daya tarik gravitasi di pagi hari itu sangat kuat, sehingga manusia yang dengan wajah kusut satu ini masih enggan membuka mata.

“Ali, ayo, bangun. Ini hari pertama kamu masuk kuliah. Jangan kesiangan, nanti macet, malah telat,” ujar wanita cantik yang berperan sebagai ‘malaikat tak bersayap’ bagi lelaki itu.

“Astaga, sudah jam enam, malah belum salat Subuh lagi,” dengan terburu-buru, Ali langsung bangun dan pergi ke kamar mandi, melakukan ritual pagi dan bersih-bersih, tak lupa selesai itu, menunaikan kewajibannya sebagai muslim.

“Lain kali jangan begadang Ali, kan, jadinya kamu kesiangan,” nasihat Fatma, Ibu Ali. Dengan wajah yang lembut, memberi nasihat kepada putra semata wayangnya sembari menghidangkan sarapan di teras rumahnya.

“Bunda, sih, tidak membangunkan Ali lebih awal,” ia pun duduk di teras yang telah dibentang tikar sebelumnya.

“Heh, kamu yang tidurnya kayak kebo, ya, malah menyalahkan Bunda,” lantang Fatma.

“ADUH ADUH, BUN, SAKIIIIIT,” teriak Ali, lantaran sang Bunda menjewer telinganya hingga tampak memerah.

Usai puas menjewer telinga anaknya yang malang itu, Fatma duduk di teras menghadap sarapan, lalu menuangkan nasi ke piring miliknya dan Ali.

“Baca doa makan!” titahnya mutlak.

Allaahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaaban naar

“Bunda, mah, seram banget wajahnya kalau sudah marah, baik-baik kenapa, Bund, sama anak sendiri, aelah” pinta Ali dengan wajah merengut, tetapi dalam hatinya ingin tertawa. ‘bunda seperti di film horor-horor saja’ batinnya.

“…”

“Pantas ayah pergi meninggalkan kita.”

“ALI!”

“Hehehe, maaf, Bund, keceplosan.”

“Keceplosan, makan, nih, keceplosan,” Fatma menyuapi anaknya dengan kasar. Tidak bisa menjaga keseimbangan, Ali jatuh, otomatis Fatma menimpa anaknya dan melanjutkan aktivitas suap dengan paksa itu.

“Bundaaaa, hahahahah ….”

Anak dan orang tua itu terlihat bahagia pagi itu. Yah, begitulah mereka hari-harinya, terlihat bahagia selalu, sampai-sampai jika orang-orang melihat kedua insan sedarah itu seperti tidak ada masalah yang menimpa mereka. Padahal nyatanya tidak, isu tersebut sangat bertolak belakang dengan kondisi realitasnya.

.

.

.

Ali menyesal! Sangat menyesal. Ia berani bersumpah tidak akan bangun kesiangan lagi. Ini sudah pukul 07.50 WIB, sedangkan acara kampusnya mulai pukul 08.00 WIB.

“Aduuuhh, pasti telat,” gusarnya. Pasalnya, dia masih berada di angkot, jalanan benar-benar macet, sesuai ucapan Bundanya. Waktu dari lokasinya sekarang ke kampus membutuhkan waktu 15 menit, ditambah macet, jadi bertambah lagi waktu telatnya.

30 menit berlalu …

“Pinggir, Uak,” lantangnya.

Ali turun dari angkot itu, lalu memberi satu lembar uang bergambar pahlawan Idham Chalid dan satu lembar uang bergambar pahlawan Mohammad Hoesni Thamrin. Usai berterima kasih, Ali berlari menuju gerbang kampus yang terbuka dengan lebar menyambut mahasiswa baru yang kian berdatangan.

“Aduh,” ujar seorang laki-laki yang berstatus sama seperti Ali. Ia mengeluh, lantaran Ali menabraknya cukup keras.

“Eh, maaf-maaf, tidak sengaja. Saya buru-buru, tadi tidak ada rem, jadinya menabrak, deh. Maaf yaaa,” sesalnya, sambil memeriksa kondisi laki-laki yang ditabraknya barusan dengan alasan “rem blong” itu.

“Hahahaha, apaan tidak ada rem, kan, bisa jalur alternatif lain, rem pakai gigi.”

“Saya matic, Bang.”

“Hahaha,” tawa mereka lepas, tanpa menghiraukan atensi publik yang kini memperhatikan mereka.

“Sudah, tidak apa-apa, santai saja. Lagian kamu kenapa buru-buru, sih?” tanya laki-laki itu, yang Ali masih belum ketahui namanya. Ali hanya tahu, dia cukup tinggi, lebih tinggi darinya, kulitnya putih, gigi yang rapi, dan berpenampilan seperti orang yang memiliki banyak uang. Ini dibuktikan dengan pakaian dan aksesoris yang bermerek mahal. Ali tidak bodoh untuk tidak mengetahui seberapa mahal yang dipakai lelaki itu sekarang.

“Mau ospek, ini sudah telat, jadi, buru-buru,” ujar Ali.

“Kamu maba juga, ya?”

“Iya, kenapa?” balas Ali.

“Tidak apa-apa, aku juga maba di sini. Perkenalkan, aku Hamzah,” dengan menyodorkan tangan, Hamzah memperkenalkan diri.

“Aku Ali,” sambut Ali dengan ramah sambil meraih tangan Hamzah untuk menjabat tangannya.

“Ali, aku pastikan acaranya belum mulai,” tegas Hamzah.

“Kok kamu bisa tahu?”

“Ayo, kita buktikan sekarang!” Mereka berdua berjalan menuju lokasi kegiatan berlangsung. Tanpa mereka sadari, hubungan mereka menjadi akrab.

Bersambung….

Editor  : Aqlia Matslina Fattah 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles