Titipan-Nya /2/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Hary’s Hidayat Abdillah Simanjuntak)

Penulis: Syahda Khairunnisa

“Zalila suapin, ya?” 

Masih dengan nada yang sangat lembut, anak laki-laki itu membujuk. Tiba-tiba netra ibu menatapnya tajam, jantungnya berdegup hebat. Sesuatu pasti akan terjadi, dan—

PRANG! 

“PERGI DARI SINI, ZALILA SIAL!”

Perempuan yang dipanggil ibu itu melempar makanan yang sudah diletakkan di piring dengan brutal sambil menjerit. Ia hampir terkena lemparan botol kaca itu jika tidak menghindar dengan cepat. Anak itu mengerjap bingung, bukan sekali atau dua kali ibu dan ayahnya berkata sambil berteriak seperti itu. Jujur saja ia sangat ketakutan setiap kali diteriaki dan hendak dipukul oleh orang tuanya.

“Ibu lagi sakit makanya marah, Zalila nakal, ya, hari ini, Bu? Zalila minta maaf kalau selalu membuat Ibu marah. Zalila janji besok bakal cari uang yang lebih banyak lagi, biar kita bisa beli rumah seperti orang kaya itu,” lirihnya terdengar begitu tulus. Ia tidak mengerti mengapa ibu selalu bersikap seperti itu padanya. Tetap saja bocah itu masih sangat menyayangi ibunya.

“Enyah dari hadapan saya,” jawab ibu dingin dan pelan, tapi terdengar begitu menusuk. Anak itu hanya bergeming di tempatnya. 

“SAYA BILANG PERGI, PERGI!” jeritnya. Sang anak tersentak, tangannya gemetar. Ia yakin kalau hari ini ia tidak nakal. Ia hanya pergi mencari uang dan pulang membawa makanan. Akan tetapi, kenapa ibu memarahinya? 

“Ada apa lagi ini?” Ayah datang dari luar setelah mendengar suara keributan. 

“Kalian berdua pergi. Kalian sudah menghancurkan hidup saya,” Tatapan ibu menatap penuh kebencian terhadap dua laki-laki berbeda umur itu. 

“KALIAN HARUS MATI! HARUS MATI!” teriaknya seperti orang yang kehilangan akal sehat. Wanita itu membuang semua benda di dekatnya. Menjerit seperti orang kerasukan, dan melempar benda-benda di sekitarnya. 

PLAK! 

BUGH! 

Suami dari perempuan itu menampar wajah istrinya kuat, memukul kepalanya keras. Memaksa untuk meminum obat penenang hingga beberapa menit kemudian si ibu tertidur. Kejadian sembilan tahun silam benar-benar mengguncang mentalnya. Kadang kala ia tertawa, marah-marah, dan tersenyum tanpa sebab. Bocah yang diberi nama Zalila itu selalu bingung. Ia ketakutan jika ibunya kambuh, tapi di sisi lain ia selalu senang jika ibunya tertawa. Kala seperti itu waktu yang tepat untuk menyuapi sang ibu.

“Kau,” kata ayah dengan tatapan penuh dendam kepada bocah itu, “Cari uang yang banyak, dan jangan pulang sebelum semua jualanmu habis!” lanjutnya sambil mendorong anaknya hingga terjatuh. 

***

Sembilan tahun lalu, sebuah kejadian tidak diinginkan terjadi. Sarminda, seorang perempuan yang baru masuk kerja diperkosa oleh teman kerjanya sendiri. Pada suatu malam, ia berjalan di jalanan sempit seperti gang yang dijadikan sebagai jalan pintas untuk cepat sampai ke rumah. 

Mulutnya tiba-tiba dibekap oleh seseorang hingga akhirnya pingsan. Ia tidak ingat apa pun, saat ia terbangun tubuhnya sudah tidak memakai sehelai benang pun. Di kamar lusuh, ia sendirian. Dunianya hancur, ia merasa menjadi orang yang paling hina di muka bumi. Sampai ketika ia tahu bahwa dirinya mengandung, Sarminda sempat melakukan beberapa kali percobaan bunuh diri. 

Ayahnya langsung shock ketika mendengar kabar tersebut, hingga akhirnya meninggal dan tidak dapat tertolong. Sarminda benar-benar tidak memiliki harapan lagi. Jika bukan ibu yang menolongnya, ia tidak akan terselamatkan. Singkat cerita, karena dorongan dari ibunya dan tidak ingin menanggung malu sendirian, ia terpaksa menikah dengan orang yang sudah melecehkannya.

Editor: Nisrina Ardra Hafizha 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles