Tragedi dan Kutukan Kecantikan di Kota Halimunda

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://www.goodreads.com/book/show/37365703-cantik-itu-luka)

Judul: Cantik Itu Luka

Penulis: Eka Kurniawan

Genre: Fiksi, Realisme Magis, Sejarah

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2002 (Cetakan terbaru 2015)

Jumlah Halaman: 478 halaman

Peresensi: Riska Nurasnida Siregar

Novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan ini dibuka dengan kutipan yang langsung terasa tajam, “Tak ada yang lebih buruk daripada menjadi cantik di tengah dunia yang penuh dengan lelaki lapar.” Dari awal saja, pembaca sudah diajak masuk ke suasana yang tidak biasa, gelap, pahit, tetapi juga jujur.

Cerita dimulai dengan peristiwa yang aneh sekaligus menarik, di mana Dewi Ayu bangkit dari kuburnya setelah lebih dari dua puluh tahun meninggal. Dari situ, kisah perlahan dibuka, membawa pembaca menelusuri kehidupan panjangnya di Kota Halimunda, sebuah kota fiktif yang terasa sangat hidup. Lewat Dewi Ayu, kita melihat bagaimana masa kolonial pendudukan Jepang, hingga situasi politik setelah kemerdekaan ikut membentuk jalan hidup seseorang.

Baca Juga: Cinta yang Tumbuh Diam-Diam di Tengah Deru Ombak Kapuas

Yang menarik, kecantikan dalam novel ini bukanlah sesuatu yang membahagiakan. Justru sebaliknya, kecantikan menjadi sumber masalah. Dewi Ayu sendiri dikenal sebagai perempuan cantik, tetapi hidupnya penuh luka. Hal yang sama juga terjadi pada anak-anak perempuannya. Bahkan, ada bagian yang cukup ironis ketika ia berharap anak terakhirnya lahir dengan wajah buruk agar tidak mengalami nasib serupa dan itu benar-benar terjadi.

Selain tokoh Dewi Ayu, pembaca juga diperkenalkan dengan anak-anaknya seperti Alamanda, Adinda, dan Maya Sore yang masing-masing memiliki kisah tragis dengan cara yang berbeda. Setiap tokoh seolah membawa luka masing-masing dan menariknya, luka itu tidak pernah benar-benar selesai. Di sinilah terasa bahwa cerita ini bukan hanya tentang satu orang, tetapi tentang warisan penderitaan yang terus berulang dari generasi ke generasi.

Menurut saya, kekuatan utama novel ini ada pada cara penulis menggabungkan cerita keluarga dengan sejarah. Alurnya memang maju-mundur, dan terkadang membuat sedikit bingung di awal, apalagi karena tokohnya cukup banyak. Namun, lama-lama justru terasa seperti sedang menyusun potongan puzzle. Setiap bagian memiliki keterkaitan, dan ketika mulai dipahami, ceritanya terasa semakin dalam.

Gaya penceritaan dalam novel ini juga cukup berani. Penulis tidak ragu menampilkan hal-hal yang dianggap tabu, seperti kekerasan, seksualitas, dan sisi gelap manusia. Namun, semua itu tidak terasa berlebihan karena justru menjadi bagian dari realitas yang ingin ditunjukkan. Pembaca dibuat sadar bahwa sejarah tidak selalu indah, dan sering kali menyisakan trauma yang panjang.

Selain itu, suasana cerita terasa sangat kuat. Ada unsur mistis, ada kekerasan, ada juga kisah cinta yang tidak selalu masuk akal. Semua itu bercampur jadi satu. Tidak semua bagian nyaman dibaca, beberapa bahkan cukup brutal, tetapi di situlah letak kejujurannya. Novel ini seperti tidak berusaha menyenangkan pembaca, melainkan mengajak pembaca untuk melihat kenyataan dari sisi yang jarang dibicarakan.

Jika dilihat lebih dalam, novel ini juga menyimpan kritik sosial yang cukup tajam, terutama tentang posisi perempuan. Tubuh perempuan dalam cerita ini sering kali menjadi objek, diperebutkan, bahkan dijadikan alat kekuasaan. Hal ini membuat pembaca berpikir ulang tentang bagaimana perempuan dipandang dalam masyarakat, baik di masa lalu maupun sekarang.

Kalau dilihat dari sisi kekurangan, menurut saya alur yang tidak linear bisa jadi tantangan, terutama untuk pembaca yang belum terbiasa. Beberapa bagian juga terasa sangat gelap, jadi mungkin tidak semua orang akan cocok dengan gaya ceritanya. Selain itu, banyaknya tokoh kadang membuat pembaca harus ekstra fokus agar tidak kehilangan alur.

Secara keseluruhan, novel ini bukan sekadar cerita biasa. Ada banyak hal yang bisa dipikirkan setelah selesai membacanya, terutama tentang bagaimana masa lalu bisa terus membekas dalam kehidupan seseorang. Novel Cantik Itu Luka terasa seperti cerita yang aneh, tetapi justru itu yang membuatnya sulit dilupakan. Novel ini cocok untuk pembaca yang ingin menikmati cerita dengan lapisan makna yang dalam, sekaligus siap menghadapi kisah yang tidak selalu nyaman, tetapi sangat membekas.

Baca Juga: Teror Dosa Masa Lalu dalam Film Kafir Gerbang Sukma

Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles