BRT Trans Mebidang, Solusi Kemacetan Lalu Lintas

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto : Dinamika
Foto : Dinamika

Harapan masyarakat dan pemerintah kota Medan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas kemungkinan akan tercapai dengan adanya Bus Rapid Transit (BRT) Trans Mebidang (Medan-Binjai-Deli Serdang) yang merupakan sumbangan dari Kementrian Perhubungan dan dioperasikan oleh Perum Damri Kantor Cabang Medan.

Rute dari Trans Mebidang untuk koridor Medan-Lubuk Pakam dimulai dari Pusat Pasar (Jl. Sambu), Jalan Asia, Jalan Pandu, Jalan Sisingamangaraja, Jalan Medan, Tanjung Morawa, dan Terminal Lubuk Pakam. Sementara di koridor Medan-Binjai rutenya dimulai dari Terminal Binjai, Jalan Medan, Binjai, Jalan Gatot Subroto, Jalan Kapten Maulana Lubis, Jalan Raden Saleh, Jalan Balai Kota, Jalan Bukit Barisan, Jalan Stasiun KA, Jalan MT Haryono, dan Pusat Pasar. Untuk satu bus Trans Mebidang ditanggungjawabi oleh dua orang, yaitu supir dan kernet.

Selain diharapkan mengurangi kemacetan, Trans Mebidang juga melayani dan membantu perekonomian masyarakat dengan tarif ongkos yang lebih murah. Contohnya jika hendak akan berpergian dari Binjai menuju Medan dengan menggunakan jasa angkot (angkutan kota), kita harus membayar Rp5.000 untuk perjalanan dari Binjai menuju Kampung Lalang, kemudian harus pindah angkot lagi dari Kampung Lalang menuju Medan dengan membayar ongkos Rp5.000. Jadi untuk perjalanan dari Binjai menuju Medan. kita harus membayar ongkos sebesar Rp10.000. Berbeda halnya jika kita berpergian dengan menggunakan Trans Mebidang, kita tidak perlu menyambung angkutan umum dari Binjai menuju Medan, dengan begitu akan mempermudah perjalan. Tarif ongkos yang lebih murah juga menjadi keunggulan dari Trans Mebidang, kita hanya perlu membayar ongkos sebesar Rp6.000 untuk perjalanan dari Binjai menuju Medan.

Kelebihan lain yang akan didapatkan oleh penumpang adalah space di dalam bus lebih luas dibandingkan dengan angkot. “Kalau naik angkot duduknya sempit-sempitan. Kalau naik Trans Mebidang lapang, tidak sempit-sempitan dengan penumpang lain,” jelas Puspita, penumpang Trans Mebidang tujuan Petisah.

Keamanan penumpang Trans Mebidang juga akan lebih terjaga dibandingkan dengan angkutan lainnya, hal ini diungkapkan Ervin selaku supir bus Trans Mebidang, “Kalau naik Trans Mebidang ini dek, lebih murah dibandingkan naik angkot, lebih nyaman karena gak perlu nyambung-nyambung lagi, keamanannya juga lebih bagus. Kejadian seperti pencopetan atau hipnotis itu gak mungkinlah terjadi di Trans Mebidang ini,” ungkapnya.

Untuk mendukung pengoperasian Trans Mebidang, setidaknya dibutuhkan 12 unit halte di Deli Serdang, 8 unit di daerah Binjai, dan 18 unit di daerah Medan. Halte yang nantinya digunakan sebagai tempat untuk menaikkan dan menurunkan penumpang ternyata hingga sekarang masih ada lima titik di daerah Deli Serdang yang seharusnya menjadi halte tetapi belum juga dibangun. “Dimohonkan kepada Dishub Deli Serdang untuk segera merampungkan halte di daerah Diski, Pasar Besar, Mandiri, KM 12, dan juga Pardede,” jelas Ranto Hutabarat selaku Timer PPA.

Kurangnya halte di daerah Deli Serdang, menyebabkan para supir Trans Mebidang terpaksa menaikkan penumpang di jalan, bukan di halte. Hal ini yang membuat terjadinya keributan antara supir Trans Mebidang dengan supir angkot. Banyak supir angkot yang marah kepada supir Trans Mebidang mengenai hal ini. “Woy, dari halte kalian naikkan penumpang itu,” ujar Pak Ranto menirukan ucapan supir angkot yang marah.

Berbagai pengalaman buruk yang dirasakan supir Trans Mebidang dalam mengoperasikan transportasi ini, diantaranya ada yang pernah diberhentikan di tengah jalan, dibentak atau diteriaki dengan kalimat yang kasar, dan masih banyak pengelaman yang lain. Namun dari semua pengalaman tersebut, sejauh ini yang paling buruk adalah pengalaman yang dialami Pak Ervin, dia pernah merasakan di rem paku oleh oknum yang tidak diketahui ketika mengendarai bus, “Yang paling parahnya itu kami pernah berhenti di tengah jalan karena busnya gak bisa jalan lagi. Pas dilihat ternyata banyak paku di ban bus,” ungkap Pak Ervin.

Jika banyak masyarakat yang berpendapat dengan adanya Trans Mebidang ini akan membuat lalu lintas menjadi lebih lancar, maka berbeda halnya dengan Suriadi yang bekerja sebagai supir angkot. Dia beranggapan bahwa bus Trans Mebidang bukanlah solusi dari kemacetan lalu lintas, bahkan dengan adanya Trans Mebidang ini membuat lalu lintas semakin macet. “Adanya Trans Mebidang ini malah buat jalan makin macet dan mengurangi penumpang di angkot,” ungkapnya. Saat ditanyai mengenai harapannya, dengan cepat dia menjawab agar Trans Mebidang tidak menjadi penghambat bagi supir angkot, “Kalok kami ini apalah dek, cuma orang kecil yang suaranya tidak akan didengarkan,” ungkapnya. Di akhir pembicaraan, dia menyampaikan solusi yang tepat menurutnya, “Tambahin aja Trans Mebidang ini, tambahin sebanyak-banyaknya, jadi kalok sudah makin macet nanti pemerintah akan berpikir apa penyebabnya, jadi nanti pemerintah akan buat jalan layang untuk mengurangi kemacetan,” ucap Pak Suriadi dengan nada bicara tinggi.

Kemacetan lalu lintas kemungkinan besar akan teratasi jika seluruh masyarakat menyadari dan memberdayakan kegunaan dari Trans Mebidang ini, tentunya dengan tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi. Jika masyarakat tidak sadar akan pemanfaatan Trans Mebidang tersebut, maka sebanyak apapun bus Trans Mebidang dan transportasi umum yang disediakan oleh pemerintah, kemacetan lalu lintas akan tetap terjadi, karena jumlah kendaraan umum semakin bertambah dan kendaraan pribadi juga terus bertambah dari tahun ke tahun.

 

Penulis           : Isnaini Wulandari

Editor             : Nurtiandriyani S

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles