Lindungi Suaka Margasatwa Rawa Singkil, FJL Gelar Webinar

- Advertisement - Pfrasa_F
(Kamerawan: Elza Hasyim Nasution)

Medan, Dinamika Online–Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) menggelar webinar dengan tajuk “Masa Depan Rawa Singkil” pada Kamis, 4 November 2021. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring via Zoom ini mengundang empat pemateri, yakni Agus Arianto selaku Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, M. Yacob Ishadamy selaku Dir. Konservasi YEL, AKBP Ardanto Nugroho selaku Kepala Polres Aceh Selatan, dan Dr. Monalisa selaku Koordinator Riset di Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh (ACCI) Universitas Syiah Kuala (USK). 

Kepala BKSDA Aceh menjelaskan perbedaan antara suaka margasatwa dengan kawasan konservasi lainnya dan juga upaya perlindungan. “Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil berbeda dengan kawasan konservasi lainnya, yang mana SM Rawa Singkil itu berdekatan dengan area perkebunan masyarakat maupun swasta, makanya tekanan di SM Rawa Singkil ini sangat tinggi,” ujar Agus Arianto.

Lebih lanjut, Agus menambahkan. “Upaya perlindungan dan pengamanan kita lakukan dalam pengawasan SM Rawa Singkil, yakni untuk desa, yang mana daerahnya dekat dengan Rawa Singkil, yaitu Kab. Aceh Selatan, Singkil, dan Kota Subulussalam, di tiga daerah itu ada 34 desa yang berbatasan langsung dengan SM Rawa Singkil. Kami sedang Mencoba melakukan upaya pendampingan kepada masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat agar masyarakat dapat melakukan dukungan terhadap kelestarian dan keberadaan margasatwa SM Rawa Singkil,” tambahnya.

Risma Daulay, salah satu peserta dari USK menyampaikan hal yang didapatnya saat mengikuti webinar ini. “Seminar Masa Depan Rawa Singkil intinya menggambarkan kondisi terkini Rawa Singkil beserta regulasi pengelolaan di dalamnya. Rawa Singkil harus dapat perhatian lebih mengingat ancamannya yang makin meningkat dari tahun ke tahun,” katanya.

Lanjut lagi. “Mengenai konflik yang terjadi di Rawa Singkil, pemerintah Indonesia memang sudah waktunya mengganti sistem pembangunan ke green economy, dan tidak menjadikan sawit sebagai komoditi unggulan yang diekspor, karena dengan adanya sawit maka luasan kawasan hutan (bahkan hutan konservasi) akan terus berkurang. Sawit adalah ancaman, bukan hanya bagi lahan tapi juga satwa,” tegasnya.

Reporter : Elza Hasyim Nasution dan Khairatun Hisan

Editor      : Nurul Liza Nasution

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles