Oleh : Ahari Ardiansyah*
Sungai Deli adalah sungai yang dahulu menjadi ikon kota Medan. Sungai Deli ini dahulunya adalah jalur transportasi pada jaman penjajahan Belanda.
Sungai Deli seperti lagu Melayu. “Sungai Deli airnya biru, tempat nak dara mencuci muka”. Itulah sepenggal lagu yang menjelaskan bahwa, Sungai Deli dahulu airnya berwarna biru, dan bisa berkaca-kaca. Tapi, sekarang sungai Deli sangatlah berbeda, warnanya cokelat dan banyak sampah. Masyarakat setempat di sungai Deli menggunakan airnya untuk mandi, air minum, dan mencari ikan. Tapi, masyarakat kota Medan kurang peduli akan bergunanya sungai Deli ini untuk kehidupan masyarakat sungai Deli sehari-hari.
Ada satu himpunan yang terdiri dari beberapa orang yang mengadakan usaha dan menyadarkan kepada masyarakat peduli terhadap sungai Deli, himpunan itu adalah Save Our Rivers Consortium.
Save Our Rivers Consortium mempunyai cita-cita untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan, peduli dan penyadaran masyarakat terhadap sungai Deli. Save Our Rivers Consortium mempunyai salah satu program menyelamatkan sungai Deli yaitu dengan pendekatan Sosial. Pendekatan sosial itu ada beberapa yang salah satunya adalah menulis. Jadi Save Our Rivers mempunyai acara untuk melakukan yang namanya Pelatihan Workshop Jurnalisme Pariwisata & Lingkungan.
Workshop ini bertemakan “Membangun Komitmen untuk Sungai Deli yang lebih baik” yang diadakan Save Our Rivers yang bekerja sama dengan Laskar 71,91 (Komunitas Peduli Sungai Deli). Kegiatan di workshop ini lebih ditekankan dan difokuskan kepada pemuda-pemuda. Karena pemuda-pemuda itu semangatnya tinggi. Untuk itulah workshop ini mengajak para pemuda-pemuda Medan untuk bisa lebih peduli dan sadar akan pentingnya kebersihan di sungai Deli dan bahwa sungai Deli ini adalah ikon kota Medan.
Workshop ini dihadiri dari beberapa sekolah dan universitas, yaitu SMK Sandi Putra, MAN 1 Medan, Alumni UMSU, STiKes Bandung, UIN Sumatera Utara dan teman-teman peduli sungai Deli.
Workshop Jurnalisme Pariwisata & Lingkungan ini dimulai dari jam 08.00 WIB sampai 18.30 WIB di Taman Edukasi Avros, Jalan Avros No. 60B Medan, Sumatera Utara, Minggu (17/5)
Belajar Menulis Feature
Di dalam workshop ini dijelaskan bagaimana cara menulis feature dan membekali para pemuda untuk bisa menulis feature tentang tema tersebut yang nantinya tulisan-tulisan tersebut akan di bukukan. Peserta dibagi ke dalam 3 kelompok yang nantinya peserta menulis feature per kelompok.
Sebelum menulis feature, para peserta terjun langsung melihat-lihat keadaan sungai Deli menyusurinya dengan menggunakan perahu karet. Peserta diajak untuk bisa menggunakan 5 indra di Sungai Deli, seperti “Dirasa, Dicium, Didengar, Dilihat dan Diraba”. Dan setelah menyusuri sungai Deli, para peserta menyinggahi rumah masyarakat, yaitu Kampung Aur. Para peserta diberi arahan untuk bisa wawancara kepada masyarakat yang tempat tinggalnya di pinggir sungai Deli. Setelah menyinggahi rumah masyarakat, para peserta kembali ke tempat workshop.
Fasilitator memberikan pengarahan kepada peserta mengenai hal terpenting saat awal menulis feature adalah dengan pikiran yang rileks, tenang, dan tidak boleh terbebani.
Peserta cukup antusias dalam menulis feature. Setelah semua kelompok selesai dalam menulis feature, peserta di ajak untuk bisa menjelaskan isi feature masing-masing kelompok kepada para kelompok lain.
Salah satu kelompok menjelaskan, “Kalau kita peduli dan menjaga kebersihan sungai Deli, tidak akan seperti ini. Jadi kita pemuda-pemuda harus bisa peduli dan menyadarkan masyarakat bahwa sungai Deli ini penting buat kehidupan. Jangan disalahkan pemerintah, tapi kita harus bantu pemerintah dan sadar diri”.


