Medan, Dinamika Online – Setelah menunggu beberapa tahun, akhirnya akreditasi Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) dinyatakan berubah status menjadi B pada tanggal 9 Januari 2015 oleh BAN-PT berdasarkan surat keputusann No.004/SK/BAN-PT/AKRED/5/1/2015 yang menyatakan bahwa status akreditas PBI yang semula C telah berubah status menjadi B.
Hal ini dibenarkan oleh Kajur PBI. “Jadi, BAN-PT mengeluarkan suratnya itu pada tanggal 9 januari 2015 No.004/SK/BAN-PT/AKRED/5/1/2015,” ujar Hj. Dr. Tien Rafida, M. Hum.
Hal ini juga kemudian dibenarkan oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Prof. Dr. Syafarudin, M.Pd. “Baru-baru ini jurusan yang berubah status menjadi B yaitu PBI dan PGMI yang diresmikan pada tanggal 14 januari lalu,” pungkasnya.
Menurut kajur PBI, kendala utama yang dihadapi dalam perbaikan status akreditasi menjadi B adalah masalah pendanaan. Namun, menurut dekan FITK, yang menjadi kendala adalah program pendukung, khususnya di bidang penelitian para dosen walaupun akhirnya dapat diatasi.
Status akreditas memang dapat saja berubah sewaktu-waktu. Jika tidak bergegas memperbaiki sarana dan prasarana penunjangnya, maka ada kemungkinan status akreditasi B bisa berubah menjadi C kembali, dan tidak menutup kemungkinan akan semakin menanjak ke A jika benar-benar diperbaiki segala fasilitas pendukungnya, seperti lab bahasa dan Sistem Akademik dan Administrasi (SIAKAD).
Mahasiswa PBI yang sudah mengetahui perubahan akreditas ini merasa senang.“Kalau aku tahu kenaikannya dari Mam Tien sendiri sih, aku senang dengan naiknya akreditasi PBI menjadi B, karena lebih mudah untuk melamar PNS,” ujar Siti Maryam mahasiswa PBI semester II.
Kajur juga menyampaikan harapan-harapannya untuk PBI kedepan, “Harapan saya untuk semua mahasiswa saya itu, tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia dan kemudian kita mengutamakan kualitas bukan kuantitas lagi, karena kualitas itu sangat penting. Seperti di UNIMED, USU, memiliki kualitas dan memiliki kapabilitas yang baik, tapi di kampus kita IP nya tinggi namun kapabilitasnya rendah.” ungkapnya.
Reporter : Safitri Adriani Nasution dan Atika Winari Putri


