
Medan, Dinamika Online – Keputusan Presiden Jokowi untuk membangun proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dan listrik berskala besar diangkat menjadi persoalan yang diperdebatkan dalam ajang lomba debat antar universitas di Sumatera yang diselenggarakan oleh Fokis (Forum Kajian Ilmu Syariah) di Aula Fakultas Syariah dan Hukum UIN SU (05/04).
Proyek pembangunan infrastruktur berskala besar yang dipelopori oleh pemerintah yang juga adalah program kerja Presiden Jokowi tentunya merupakan hal yang urgen dan bukanlah proyek biasa. Permasalahan inilah yang menjadi perdebatan antar mahasiswa yang terbagi menjadi tim pro dan tim kontra.
Di pihak tim kontra yaitu Aznan Helmi, Dicky wahyudi, dan Azhar Hikmawan yang mewakili UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara). Tim kontra yang tidak setuju dengan keputusan Presiden Jokowi menyampaikan argumennya bahwa pemerintah terlalu memiikirkan investasi dan bisnis, sementara utang luar negeri makin menggunung, “Pemerintah terlalu memiikirkan investasi dan bisnis, dengan investor China dan harus ngutang ke luar negeri sehingga utang luar negeri Indonesia makin menggunung. Mengingat belum ada izin dari AMDAL selaku yang berwenang dalam hal ini. Mega Proyek ini menghabiskan dana US$ 5,5 milliar atau senilai 7,7 triliun Rupiah,” ungkap tim kontra.
Sementara itu dari tim pro yang mewakili Universitas Sriwijaya (UNSRI) setuju dengan keputusan Presiden Jokowi tentang pembangunan proyek kereta cepat, mengingat urgensinya yang sangat bagus dan bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat, “Kami sangat menyetujui dan merespon positif atas pembangunan tersebut, melihat dari segi urgensinya yang memang sangat bagus dan bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat,” ungkap tim pro.
Di akhir perlombaan, tim yang berasal dari Unsyiah diikuti tim UMSU dan UNSRI keluar sebagai pemenang dalam lomba debat.
Reporter : Rahmanuddin
Editor : Nurtiandriyani S

