PJTLN UKM LIMA Makassar; Jurnalisme Sejarah

- Advertisement - Pfrasa_F
Fotografer : Siti Rogayah
Fotografer : Siti Rogayah

Makassar, Dinamika Online – Tepuk tangan meriah dari 320 peserta terdengar riuh dari dalam Gedung Auditorium, sambutan Walikota Makssar dan Wakil Rektor III UIN Alauddin Makassar  menghantar pembukaan PJTLN (Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional) UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) LIMA (Lembaga Informasi Mahasasiswa). Pembukaan kemudian dilanjutkan  dengan Talk Show (10/10).

Pelatihan yang bertemakan “Jurnalisme Sejarah” merupakan kali pertama UKM LIMA UIN Alauddin Makassar menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan PJTLN yang akan berlangsung dari 10 hingga 16 Oktober mendatang. Dengan rangkaian kegiatan Talk Show yang mengangkat tema “Budaya Literasi Kita” mengajak mahasiswa untuk mengenal budaya membaca dan menulis.

Talk Show yang dibagi menjadi 2 sesi ini mengundang Prof. Qasim yang merupakan Guru Besar UIN Alauddin, Alwi Rahman, dan Dr. Sabri Ar yang merupakan penulis. Sementara Ruslan, Arief Balla, dan Aan Mansyur yang sangat dikenal sebagai penulis, seniman, dan sastrawan hadir untuk mengisi sesi kedua dengan materi “Literasi vs Gadget”.

Antusiasme para mahasaiswa dengan hadirnya Aan Mansyur membuat Rahmawati selaku MC Talk Show memilih untuk membatasi jumlah peserta yang ingin mengajukan pertanyaannya. Ada satu ungkapan yang dirasa patut untuk dikutip dari seorang Aan Mansyur, menurutnya internet membuat kita tidak punya waktu untuk membaca, “Kita sebenarnya tidak melek internet, kita hanya terpukau, terpukau membuat kita tidak bisa berpikir. Itulah yang membuat perpustakaan makin sepi,” paparnya.

Sementara Alwi Rachman juga punya ungkapan tersendiri untuk mengomentari budaya literasi Indonesia, “Literasi adalah sebagai ingatan. Namun kelemahan Indonesia adalah tidak (malas) mendengarkan budaya literasi organg lain dibandingkan dengan budaya literasi sendiri, kita menjadi narapidana literasi sendiri, dan budaya sendiri”. Pernyataan ini merupakan hal yang patut untuk direnungkan, hal ini berbarengan dengan anak muda Indonesia yang sudah mulai meninggalkan budaya literasi sebagai budaya Indonesia, terlepas dari segala perbedaan adat, suku, dan kultur budaya itu sendiri.

Peserta Talk Show yang berjumlah 320 mahasiswa UIN Alauddin Makassar bertubi-tubi melontarkan pertanyaan demi pertanyaan kepada para pemateri. Salah satunya adalah Silvi, pertanyaannya mengenai peran generasi muda untuk melestarikan budaya literasi. Menurutnya sangat sedikit generasi Indonesia yang sadar akan  pelestarian budaya “Anak muda sekarang sangat sedikit yang sadar akan menjaga budaya literasi, harusnya literasi sebagai budaya mahasiswa di kampus,” tuturnya.

Acara pembuakaan serta Talk Show ini diikuti 18 peserta PJTLN dari 13 universitas di Indonesia, di antaranya peserta delegasi dari LPM Dinamika UIN SU, Pers Mahasiswa Suara USU, LPM PIJAR USU, Teropong UMSU, LPM Bahana Unri, SKK Ganto UNP, LPM Aklamasi UIR, LPM Sketsa Universitas Mulawarman, Tabloid Visi Universitas Lancang Kuning, LPM Profesi Universitas Negeri Makasssar, LPM Patriotik Universitas Batanghari Jambi, PK Identitas Universitas Hasanuddin, UKM LIMA UIN Alauddin Makassar.

Reporter         : Nurtiandriyani S

Fotografer      : Siti Rogayah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles