

Penulis: Ayu Nurizain
Kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan psikologis di mana seseorang mampu mengenali dirinya, bekerja secara produktif, mengatasi masalah hidup, dan bergaul dengan komunitasnya. Padahal, kesehatan mental adalah fondasi yang penting bagi kesejahteraan individu. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, banyak orang yang terjebak dalam tekanan, kecemasan, dan stres yang berkepanjangan. Sangat disayangkan, meskipun pembahasan gangguan mental sudah dilakukan secara intens, masih banyak stigma negatif dan ketidakpahaman yang muncul di masyarakat.
Bayangkan, seorang remaja yang berjuang dengan kecemasan sosial. Setiap kali dia berada di keramaian, rasa cemasnya meningkat, membuatnya sulit untuk berbicara atau berinteraksi. Dia mungkin merasa kesepian, tetapi tidak tahu kepada siapa harus berbicara. Di sinilah masalah kesehatan mental yang utama muncul, yaitu ketidakmampuan untuk mencari bantuan karena takut akan penilaian dari orang lain. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 264 juta orang di dunia mengalami depresi, dan banyak dari mereka tidak pernah mendapatkan perawatan yang diperlukan. Ini adalah situasi yang tidak bisa kita biarkan terus berlanjut.
Baca Juga: Remaja dalam Genggaman Algoritma, Siapa yang Mengendalikan Gaya Hidup Kita?
Dampak dari masalah kesehatan mental tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh seluruh lingkungan yang ada di sekitarnya, baik itu di masyarakat, sekolah, atau keluarga. Ketidakmampuan untuk bekerja, penurunan produktivitas, dan peningkatan biaya kesehatan adalah beberapa konsekuensi yang muncul. Sebuah laporan dari McKinsey & Company menunjukkan, bahwa gangguan mental dapat menyebabkan kerugian ekonomi global hingga $1 triliun setiap tahun. Angka ini mencerminkan bahwa masalah ini sangat serius, sehingga penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk mengambil tindakan.
Namun, stigma adalah musuh terbesar dalam perjuangan ini. Banyak orang merasa malu untuk mengakui bahwa mereka mengalami masalah kesehatan mental. Menurut survei oleh Mental Health America (MHA), sekitar 70% individu dengan gangguan mental tidak mencari bantuan profesional karena takut dihakimi. Ketidakadilan dalam akses layanan kesehatan mental juga menjadi tantangan. Di banyak negara, terutama yang berpenghasilan rendah, layanan ini masih sangat terbatas. WHO mencatat bahwa lebih dari 75% orang dengan gangguan mental di negara-negara dengan sumber daya terbatas tidak mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.
Kita perlu mengubah narasi ini. Masyarakat, baik itu dari kalangan remaja, orang tua, pemerintah, dan lainnya harus meningkatkan kesadarannya terhadap kesehatan mental. Pendidikan tentang kesehatan mental dapat membantu mengurangi stigma dan membuka ruang bagi individu untuk berbicara tanpa merasa tertekan. Salah satu contohnya, di tempat kerja, perusahaan dapat menyediakan program kesehatan mental yang mencakup konseling dan pelatihan keterampilan coping. Program ini bukan hanya tentang membantu individu, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang sehat dan produktif untuk semua orang.
Kesehatan mental bukanlah tanggung jawab individu semata, tetapi tanggung jawab kolektif kita sebagai masyarakat. Kita perlu memberi dukungan kepada mereka yang berjuang, serta menumbuhkan rasa empati di antara kita. Apabila kita memberikan ruang yang aman dan terbuka bagi seseorang untuk merawat kondisi mentalnya, maka kita telah membantunya menciptakan pola hidup yang lebih baik .
Akhirnya, kesehatan mental adalah bagian yang tak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan. Dengan meningkatkan kesadaran, mengurangi stigma, dan memastikan akses yang adil ke layanan kesehatan mental, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan lebih bahagia. Mari kita satukan langkah untuk mendukung kesehatan mental, bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang-orang di sekitar kita. Kita semua berhak mendapatkan dukungan yang kita perlukan untuk menjalani hidup yang lebih baik.
Baca Juga: Dedi Mulyadi, Sesosok Pemimpin Rakyat dalam Cahaya Islam
Editor: Aqlia Matslina Fattah

