
Penulis: Miftahul Alfi Khairina
Banjir yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat dalam beberapa pekan terakhir meninggalkan dampak yang besar. Tidak hanya terlihat dalam bentuk kerusakan fisik, tetapi juga pada ancaman kesehatan yang mengintai di dalam genangan air yang mulai surut. Di balik peristiwa alam ini, ada sebuah kenyataan yang tak bisa diabaikan, yakni rumah yang terendam banjir harus segera dibersihkan, bukan hanya untuk mengembalikan kondisi fisik, tetapi untuk menghindari risiko kesehatan yang bisa merusak tatanan hidup setelah banjir.
Setiap rumah yang terendam air banjir tidak hanya membawa lumpur dan kotoran, tetapi juga potensi ancaman penyakit yang mengintai dari air yang tercemar. Dalam laporan Word Healty Organization (WHO), air banjir biasanya mengandung kotoran hewan, kotoran manusia (feses), sampah organik dan anorganik, bangkai hewan, limbah industri, dan limbah pertanian. Lingkungan yang kaya kontaminan inilah yang menjadi rumah ideal bagi bakteri dan virus yang berjeniskan Escherichia coli, Vibrio cholerae, Virus hepatitis A, hingga Parasit.
Baca Juga: Pentingnya Pemulihan Trauma dan Lingkungan Pasca Banjir Sumatra
WHO juga mencatat peningkatan signifikan kasus penyakit Diare, Leptospirosis, Hepatitis A, dan penyakit kulit setelah peristiwa banjir yang melanda suatau wilayah. Dengan kata lain, pembersihan rumah pascabanjir bukan hanya soal mengembalikan kebersihan dan kenyamanan, tetapi juga menyelamatkan kesehatan penghuni rumah dari potensi wabah penyakit yang mengintai.
Memasuki fase pascabanjir, banyak yang berpikir bahwa tugas utama adalah menggangkat lumpur dan membersihkan kotoran yang berada di dalam rumah. Namun, pembersihan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks dari itu. Ketika air surut, hal pertama yang dilakukan adalah memastikan bahwa rumah dalam kondisi aman. Kerusakan struktural sering kali tak terlihat di permukaan. Retakan pada dinding, kerusakan pada atap atau pondasi, semua itu bisa menjadi masalah serius jika tidak diperiksa dengan cermat. Sebelum membersihkan rumah, sebaiknya melakukan pengecekan kerusakan pada struktur bangunan untuk memastikan bahwa rumah masih aman untuk dihuni.
Setelah memastikan bahwa rumah aman dari kerusakan, langkah berikutnya adalah membersihkan air dan lumpur yang tertinggal. Sebagian besar rumah yang terendam banjir akan dihadapkan pada lantai penuh lumpur tebal, sampah, dan juga perabotan rumah tangga yang tidak sempat diselamatkan sebelumnya. Pembersihan ini memerlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, serta peralatan yang memadai. Penggunaan masker, sarung tangan dan sepatu bot sangat dibutuhkan untuk menghindari kontak langsung dengan kotoran dan material yang terkontaminasi bakteri serta virus.
Pembersihan rumah tidak hanya sampai mengeluarkan lumpur dan sampah dari dalam rumah. Proses ini harus dilakukan secara menyeluruh pada seluruh bagian rumah seperti dinding, lantai hingga atap rumah. Dinding yang terendam air sebaiknya dibersihkan dengan disinfektan untuk membunuh kuman yang mungkin menempel. Begitu pula dengan perabotan rumah tangga yang ikut terendam air. Harus dibersihkan atau bahkan dibuang jika sudah rusak dan terkontaminasi parah oleh air banjir.
Selain memberihkan rumah, langkah selanjutnya yaitu melakukan disinfeksi saluran air dan sumur untuk mencegah pencemaran yang bisa menyebabkan penyakit. Jika sumur atau sumber air bersih di rumah terkontaminasi, maka bisa menjadi sumber utama penularan penyakit.
Pembersihan rumah pascabanjir adalah langkah pertama dalam proses pemulihan. Namun yang tidak boleh dilewatkan adalah pemulihan lingkungan pascabanjir yang sangat penting. Wilayah yang terdampak banjir seringkali harus menghadapi kerusakan besar pada ekosistem alam, seperti hutan dan lahan pertanian yang menjadi penopang kehidupan banyak orang.
Salah satu solusi jangka panjang yang dapat diterapkan adalah reboisasi yaitu pemulihan kembali lahan yang gundul. Program reboisasi ini akan mencegah terjadinya kembali banjir dan juga tanah longsor yang bisa terjadi kapan saja, apalagi jika curah hujan yang cukup tinggi.
Pemulihan pascabanjir yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat tidak hanya melibatkan pembersihan rumah, tetapi juga melibatkan langkah-langkah yang lebih luas dalam menjaga kesehatan masyarakat dan lingkungan. Proses pembersihan yang menyeluruh sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit, sementara pemulihan ekosistem alam harus menjadi prioritas utama agar bencana serupa tidak terjadi lagi.
Baca Juga: Seblak Kekinian, Makanan Enak yang Membahayakan Kesehatan
Editor: Ranum Aisyah

