
Penulis: Ridho Fauzan
Seblak merupakan jajanan khas yang berasal dari Bandung. Pada saat ini seblak telah menjadi kuliner kekinian dan sudah menyebar luas hampir ke seluruh daerah di Indonesia. Peminat dari jajanan seblak ini rata-rata terdiri dari kalangan anak muda dan remaja. Cita rasa yang unik, berpadu dengan rasa pedas dan gurih membuat seblak semakin diminati oleh anak muda. Namun di balik rasa enaknya, jajanan seblak juga mengandung risiko yang cukup besar.
Dikarenakan jajanan seblak ini banyak peminatnya, maka menjadi peluang untuk meningkatkan ekonomi, dimana para pedagang berlomba-lomba untuk membuat dan menyediakan tempat jajanan seblak. Penyebaran outlet jajanan seblak ini sangat signifikan, hampir di setiap daerah sudah tersedia outlet jajanan seblak dipinggiran jalan maupun di sebuah angkringan.
Baca Juga: Di Balik Senyum, Menguak Realita dan Tantangan Kesehatan Mental Masa Kini
Banyaknya konten ekstrim dan tantangan-tantangan mukbang seblak di platform media diduga menjadi pemicu banyaknya anak muda yang tertarik dan ingin mencoba melakukan tantangan tersebut. Ini juga menjadi salah satu fenomena yang cukup menggegerkan warga Indonesia, karena anak muda lebih lebih mengutamakan makan seblak, tanpa memikirkan risiko dan kesehatan mereka.
Banyak fenomena terjadi yang disebabkan oleh jajanan seblak, salah satunya itu ialah “Viral Indonesia disebut darurat seblak, pakar gizi: malnutrisi di depan mata”. Istilah ini muncul karena semakin banyak kalangan remaja yang dalam satu hari hanya lebih mementingkan makan seblak ketimbang makan nasi. Keluhan yang sering terjadi akibat terlalu sering makan seblak seperti nyeri perut, lemas, dan lain-lain. Dikutip dari laman detik health.com dokter umum yang berpraktik di Bandung Barat, tersebut mengaku beberapa kali menemukan kasus serupa yang diakibatkan dari jajanan seblak tersebut.
“Meningkatnya popularitas seblak sebagai jajanan kekinian di kalangan anak muda Indonesia sering kali tidak diimbangi dengan kesadaran akan kandungan bahan, proses pengolahan, serta dampak kesehatannya. Banyak penjual menggunakan bahan tambahan seperti kerupuk berpewarna, bumbu instan atau (Monosodium Glutamate) MSG tinggi biasa disebut micin dan minyak yang dipakai berulang kali, sehingga menimbulkan potensi risiko kesehatan jangka panjang bagi konsumen.
Seblak kini menjadi jajanan favorit banyak orang, terutama anak muda. Rasanya yang pedas dan gurih membuat siapa pun mudah ketagihan. Namun, terlalu sering makan seblak ternyata bisa berdampak buruk bagi kesehatan.
Beberapa sumber kesehatan menyebutkan bahwa seblak dapat menyebabkan berbagai penyakit jika dikonsumsi berlebihan. Salah satunya adalah gangguan pencernaan. Dikutip dari kabarwonosobo.com, kuah seblak yang pedas dan penuh rempah bisa membuat lambung iritasi. “Kuah yang pedas dan rempah yang kuat dapat mengiritasi lambung, menyebabkan sakit perut, diare, maag, atau naiknya asam lambung,”
Seblak juga memiliki kandungan garam (sodium) yang tinggi. Dikutip dari laman kompas.com, terlalu sering makan seblak bisa meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal. “Makan seblak yang tinggi sodium secara terus-menerus bisa meningkatkan risiko seseorang terkena hipertensi dan penyakit kronis lainnya,”
Kandungan gizi dalam seblak juga tidak seimbang. Berdasarkan radarmojokerto.com, seblak umumnya mengandung banyak karbohidrat dan lemak, tetapi sedikit protein. Kondisi ini bisa menyebabkan anemia atau kekurangan darah. “Seblak dapat menyebabkan anemia bila dalam semangkuk seblak memiliki lebih banyak karbohidrat dan lemak, tetapi kurang protein,”
Selain itu, seblak juga bisa memicu malnutrisi atau kekurangan gizi, seperti dijelaskan oleh gwsmedika.com, seblak tinggi kalori dan natrium, namun rendah serat dan protein. “Ketidakseimbangan ini dapat meningkatkan risiko malnutrisi yang berujung pada masalah kesehatan serius.”
Ahli kesehatan menyarankan agar masyarakat tidak terlalu sering makan seblak. Sesekali boleh saja, tetapi perlu diimbangi dengan makanan bergizi lain, seperti sayur, buah, dan sumber protein, agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit.
Baca Juga: Remaja dalam Genggaman Algoritma, Siapa yang Mengendalikan Gaya Hidup Kita?
Editor: Ranum Aisyah

