Addin 372: Ayo, Manfaatkan Masa Mudamu

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Nurul Sakinah)

Penulis: Linda Syafitri Siagian

Di era digital ini, hiruk pikuk kehidupan tidak menjadi persoalan asing lagi. Masalah-masalah sering kali saling berbenturan. Hasilnya, terciptanya konflik besar yang meluas dan berkepanjangan. Untuk mengatasi hal ini, tentu dunia membutuhkan sosok penggerak yang bisa meredakan konflik dan menciptakan suatu peradaban yang lebih baik lagi. 

Di sinilah peran anak muda sangat dibutuhkan. Sebab, masa muda inilah totalitas semangat berada di puncak tertinggi. Di tangannya menggenggam sebuah tekad kuat yang menjadi harapan banyak orang, yaitu terbangunnya perubahan serta peradaban Islam. Tidak heran, kalau masa muda sering disebut sebagai masa keemasan.

Sebagai bukti nyata adalah Muhammad Al-Fatih, seorang pemuda yang menjadi penakluk Konstantinopel pada masa Daulah Utsmaniyah. Perannya sebagai pemimpin tidak diragukan lagi. Sosok yang jenius, jujur, dan bertanggung jawab ini berhasil meruntuhkan Kekaisaran Romawi Timur atau Kekaisaran Bizantium dengan usahanya yang menakjubkan. 

Tak hanya itu, sejarah mencatat banyak kisah-kisah para pemuda Islam yang membuat hati begitu bergetar kala mendengar atau membaca kisahnya. Selain kisah Muhammad Al-Fatih, terdapat kisah lain yang juga mengundang rasa takjub. 

Tentu kita sering mendengar kisah Ashabul Kahfi, kisah para pemuda yang tertidur selama beberapa ratus tahun di dalam gua, karena bersembunyi dari pemerintah zalim yang memaksa para rakyat untuk menyembah berhala. Kemudian, Allah membangunkan mereka saat masa pemerintahan sudah berganti.

Allah mengabadikan kisah mereka di surah Al-Kahfi ayat 9 hingga 26. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya, mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”. (QS. Al-Kahfi (18): 13). 

Kisah tersebut tak hanya sekadar kisah, banyak pelajaran yang dapat dipetik di dalamnya. Allah memberi petunjuk dan menolong orang-orang yang melakukan ketaatan dan teguh terhadap keimanannya. Pemuda Ashabul Kahfi ditolong Allah dari pemerintah zalim, karena keteguhan mereka menolak untuk menyembah berhala. Padahal, mereka masih muda yang notabene rentan terbawa arus. Tetapi, tingkat keimanan mereka begitu kuat dan tak runtuh hanya karena ancaman dari seorang penguasa.

Bisa dilihat dari segi karakter, pemikiran, dan usaha tentu perbedaan anak muda zaman sekarang dan dulu sangat jauh perbandingannya. Mungkin dari segi fasilitas di zaman ini lebih maju, tetapi dari segi kualitas jauh tertinggal di belakang. 

Menjalani kehidupan di masa muda memang terkesan labil. Semangat untuk menuntut ilmu kerap naik turun. Terkadang semangatnya menggebu dan terkadang menurun tanpa arah. Padahal di saat itulah fokus sangat diperlukan dan disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat. Banyak mengkaji ilmu, beramal saleh, dan mengurangi waktu bermain yang sering kali melalaikan.

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang kematianmu”. (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadroknya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At-Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadis ini dikatakan sahih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir).

Di hadis tersebut menjelaskan bagaimana harusnya kita memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya. Sebab, masa muda tidak akan kembali, jika masa tua sudah menghampiri.

Seiring berkembangnya zaman, maka ilmu teknologi juga semakin canggih. Salah satu teknologi yang hampir seluruh penduduk bumi dapat gunakan saat ini adalah gawai. Benda pipih yang merupakan alat multifungsi ini memang banyak memberikan manfaat. Bahkan kalau kita mau, dari segenggam gawai dapat memberikan sebuah perubahan. Sayangnya, dampak dari penggunaan gawai sendiri tak hanya bernilai positif. Banyak sisi yang mengarah ke arah negatif dan menjadi momok baru bagi tiap pengguna. 

Dampak itu terjadi tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Sebagian memanfaatkan untuk menggali segudang ilmu. Sebagian lagi memanfaatkan untuk hiburan semata yang sering kali menyia-nyiakan waktu.

Menyia-nyiakan waktu terkadang dianggap sepele. Padahal, sedetik saja waktu berlalu tanpa makna dan kita akan kesulitan mengejar ketertinggalan. Kita masih kekurangan ilmu dan mengambil peran. 

Segera ambil peran untuk peradaban, buang jauh-jauh rasa malas dan pergilah untuk mengemban tugas selayaknya anak muda. Di zaman ini, kita tidak kekurangan anak muda, tetapi kita hanya kekurangan karakter yang seharusnya dimiliki oleh sosok-sosok muda bertekad baja.

Biodata Penulis:

  • Nama                      : Linda Syafitri Siagian
  • Fakultas                  : Sains dan Teknologi
  • Jurusan                   : Biologi
  • Semester                 : VII
  • Media Sosial           : Ig. @Linda_siagian10
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles