Addin 405: Menjaga Hati dari Pujian

- Advertisement - Pfrasa_F
(Illustrator: Har’ys Hidayat)

Penulis: Rika Annisa Sihombing

Sebagai manusia, tentulah kita menyukai kata-kata atau kalimat-kalimat yang indah, halus, lembut, atau kalimat pujian. Manusia pasti tidak menyukai tutur kata yang kasar berupa bentakan, hinaan, atau kalimat yang menyakitkan lainnya. Sehingga, apabila kita dipuji atau diberi sanjungan, kita akan senang atau berbangga diri. Sebaliknya, jika kita mendapatkan bentakan atau kata-kata yang kasar, tentulah kita merasa marah atau tidak menyukai hal tersebut.

Lalu, bagaimana Islam memandang pujian itu sendiri? Dalam Islam, tidak selamanya kita boleh memuji dan tidak semuanya harus diberi pujian.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya:

“Jika kalian melihat orang-orang yang suka memuji, maka tumpahkanlah debu ke mukanya.”(HR.Muslim)

Mayoritas ulama menyepakati bahwa boleh memuji orang lain. Tetapi, memuji kepada orang lain haruslah memperhatikan adab dan syarat sebagai berikut:

Orang yang hendak dipuji diyakini terjaga dari sifat ria

Kalau yang memuji yakin bahwa orang yang hendak dipuji itu tidak akan ria, maka boleh memujinya. Tetapi jika yang memuji ragu atau tidak yakin dengan orang yang hendak dipuji itu, maka sebaiknya janganlah memujinya. Sebagaimana saran dari Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar.

Menurut Imam An-Nawawi:

Artinya: “Adapun  memuji orang yang berada di hadapan kita, ada beberapa hadis yang membolehkan dan ada pula hadis yang melarang. Para ulama berkata, cara mengakomodasi beberapa hadis tersebut dalam praktiknya adalah bila orang yang dipuji sempurna keimanannya, keyakinannya bagus, dan pengetahuannya sempurna, sekira-kira tidak ada fitnah dan lalai bila dipuji dan hatinya juga tidak goyah, maka memuji tidak haram dan tidak pula makruh. Kalau dikhawatirkan hal seperti itu akan terjadi, sangat dimakruhkan memujinya.”

Menurut Imam An-Nawawi, cara memahami hadis tersebut adalah dilihat dari konteksnya. Kalau memang orang yang dipuji keimanannya kuat dan tidak akan lalai dan sombong bila dipuji orang lain, maka pujian untuk orang tersebut dibolehkan. Sebaliknya, bila orang yang dipuji itu imannya tidak kuat atau gampang tergoda dan sombong bila dipuji orang, maka pujian untuknya tidak boleh. Memujinya dibolehkan, kalau orang yang dipuji tidak ada di hadapan kita

Sesuatu hal yang ingin dipuji pada orang tersebut haruslah ada atau nyata

Maksudnya, janganlah memuji orang lain dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Misalkan, seseorang memuji si Fulan karena yang ia tahu si Fulan sangat dermawan. Padahal si Fulan adalah orang yang sangat pelit. Memberikan pujian kepada seseorang berdasarkan sesuatu yang tidak ada atau tidak nyata adalah hal yang dilarang. Contoh lainnya adalah ketika seseorang dipandang sebagai wanita yang sangat tulus dan ikhlas, padahal wanita itu sendiri menyadari bahwa dirinya tak se-ikhlas dan tak se-tulus yang orang lain kira. Jika hal ini terjadi pada diri kita, hendaknya kita membaca doa, sebagaimana Abu Bakar Shiddiq berdoa kepada Allah:

Artinya: “Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al- Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ Al-Ahadits, Jalaluddin As-Suyuthi, 25: 145, Asy-Syamilah).

Pujian adalah ujian. Di mana Allah menguji kita dengan sesuatu yang berbeda dari ujian biasanya. Di mana kita diuji dengan serangkaian kata-kata indah nan lembut. Di sini kita diberi kebanggaan, diberi kesenangan, ataupun perasaan bahagia ketika dipuji. Jika kita larut dalam kesenangan pujian tersebut, tentulah kita akan lupa siapa yang memberikan kita kenikmatan tersebut dan siapa yang meminjamkan kita bakat atau kelebihan tersebut. Sehingga apapun yang kita lakukan tidak lagi karena Allah semata, melainkan karena ingin dipuji manusia lagi dan lagi.

Imam Al-Ghazali Rahimahullah mengatakan,

“Orang yang dipuji hendaknya waspada, jangan sampai ia terjatuh dalam kesombongan, ujub dan bentuk futur lainnya. Seseorang bisa selamat dari hal-hal jelek tadi, hanya dengan mengetahui hakikat keadaan dirinya. Hendaklah ia renungkan akan bahaya jika berada dalam akhir hidup yang jelek. Hendaklah ia waspada akan bahaya ria dan terhapusnya amalan. Hendaknya ia kenali diri orang yang memuji pun tidak mengenalnya. Kalau saja orang yang memuji itu tahu kejelekan yang ada pada dirinya, tentu ia tak akan memuji. Baiknya, ia tampakkan pula bahwa ia tidak suka pada pujian tersebut.”(Ihya’ Ulum Ad-Diin,3:236).

Untuk orang yang memuji hendaknya meluruskan niat, bahwa pujiannya itu adalah semata mata karena Allah ta’ala dan bukan karena menginginkan sesuatu dari orang yang hendak dipujinya itu. Memuji diperbolehkan jikalau memang keadaan tersebut pantas.

Bagaimana dengan memuji orang yang menyimpang?

Asy-Syaikh Zaid Al-Madkhali rahimahullah berkata:

“Bukan termasuk manhaj salaf, melembekkan dakwah di jalan Allah dengan memberikan pujian harum kepada orang yang menyimpang dari kalangan ahli bidah, di hadapan ahlussunnah, di majlis-majlis dan perkumpulan-perkumpulan. Mentazkiyah (memuji) mereka (ahli bidah) demi meraih simpati mereka dan simpati para pengikut mereka.”

Memuji orang yang menyimpang dari syariat tidak diperbolehkan. Karena sama saja kita setuju atau ikut membenarkan sesuatu yang salah.

Lalu, bagaimana agar hati tetap terjaga dari segala pujian manusia?

Ingat pada Allah

Ingatlah bahwa apa yang kita punya, apa yang kita miliki, kelebihan yang ada pada kita, itu semua hanyalah karena kebaikan Allah meminjamkannya kepada kita.

Ikhlas dan luruskan niat

Ikhlas adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Seseorang yang ikhlas akan lebih mudah untuk menjaga hati dan selalu menyerahkan segala sesuatunya hanya pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hanya pada-Nya ia menggantungkan semua harapan. Juga sama-sama kita belajar untuk meluruskan niat, semata-mata karena Allah Azza wa Jalla dan bukan untuk mendapatkan pujian atau sanjungan dari manusia.

“Innamala’maalu bin niyyah.”

Artinya: “Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat”.

Selamat menjaga hati!

Biodata Penulis 

  • Nama: Rika Annisa Sihombing
  • Fakultas: Kesehatan Masyarakat
  • Jurusan: Ilmu kesehatan Masyarakat
  • Semester: V
  • Instagram: @neutrofil_ 
  • Facebook: Ica

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles