
Penulis: Nurul Hidayat
Hidayah berasal dari kaya hada-yahdii-hidayatan yang berarti menunjuki. Hidayah sendiri berarti petunjuk. Lebih dalam lagi, petunjuk adalah suatu panduan, kumpulan instruksi yang harus dilaksanakan dalam mencapai suatu tujuan.
Dalam buku Beyond The Inspiration karya Ustadz Felix Siauw, menyebutkan bahwa dana untuk mengkristalisasi pemahaman tentang hidayah ini, seorang muslim harus memahami bahwa hidayah dalam Al-Qur’an sedikitnya mempunyai tiga makna: Pertama, Hidayah Al-Khalqi, yaitu hidayah yang datang bersama penciptaan manusia, maksudnya adalah akal manusia yang memiliki kemampuan untuk berpikir dan memahami sesuatu.
Kedua, Hidayah Al-Irsyad wa Al-Bayan, yaitu hidayah yang diturunkan Allah Swt. dengan diturunkannya Al-Qur’an dan diutusnya Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh manusia. Hal ini berfungsi sebagai guidance atau tuntunan bagi manusia dalam melaksanakan tugasnya di dunia sebagai wakil Allah. Ketiga, Hidayah at-Taufiq, yaitu persetujuan atau kemudahan yang datang dari Allah Swt. ketika seseorang menjalankan aktivitas menaati-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Definisi hidayah ini menjadi penting karena banyak kesalahan dalam pembahasan berawal dari salahnya definisi. Termasuk banyaknya kesalahpahaman tentang hidayah. Kebanyakan dari umat Islam salah paham dalam memaknai dan mengartikan hidayah. Pada umumnya, umat Islam sering kali mengkaitkan hidayah dengan suatu perkara yang tidak terjangkau oleh manusia, atau sesuatu yang langsung datang dari Allah Swt. dan bersifat mistis atau sebaliknya. Bahkan, tak jarang mereka menepikan usahanya untuk meraih hidayah Allah Swt.
Banyak dari umat Islam yang memahami bahwa hidayah adalah suatu hal yang diberikan oleh Allah Swt. secara cuma-cuma sehingga banyak dari mereka yang mengabaikan usaha untuk mendapatkannya karena berpikir pasti akan datang sendiri kepada dirinya jika sudah Allah berikan dan takdirkan.
Padahal, jika berbicara mengenai petunjuk, sebenarnya Allah Swt. sudah memberikan petunjuk kepada kita yaitu berupa Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah petunjuk (Al–Huda) yang memuat alamat-alamat petunjuk kepada surga-Nya. Hal ini disampaikan dalam Q.S. An-Nahl ayat 89 yang artinya, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.
Baca Juga: Addin 413: Sarang Dosa Manusia
Meskipun Al-Qur’an telah diyakini kebenarannya oleh seorang muslim, tetapi terkadang sebagian muslim yang telah membacanya atau bahkan menghafalnya akan merasakan terkontradiksi petunjuk seperti ragu, bimbang, pusing, dan juga salah dalam menafsirkannya.
Atas dasar inilah, kita bisa mengatakan bahwa hidayah itu sebenarnya sudah turun di tengah-tengah manusia yaitu dalam bentuk Al-Qur’an dan As-Sunah sehingga tidak akan relevan apabila seseorang mengatakan “Saya belum mendapatkan hidayah,” mungkin yang lebih tepatnya diganti menjadi “Saya belum meraih hidayah.”
Maka hal yang wajar apabila seorang muslim merasa belum memiliki hidayah karena hidayah itu diraih dengan petunjuk yang sudah Allah turunkan melalui Al-Qur’an bukan ditunggu. Cara yang paling mudah untuk seorang meraih hidayah dan menjalankannya tanpa keraguan dan ketakutan akan bisikan setan yaitu dengan take action. Mengambil tindakan segera karena kemudahan dan taufik Allah akan datang pada orang yang mengambil langkah nyata untuk meraih hidayah Allah Swt.
Action inilah yang nantinya akan memperkuat keyakinan kepada seseorang karena sering kali kita mendengar alasan “belum siap” jika seseorang diminta menjalankan suatu kewajiban dan amanah sebagai seorang muslim, umat Nabi Muhammad saw. Padahal, kesiapan dan keyakinan itu justru akan muncul dengan sendirinya ketika kita menjalankan petunjuk atau hidayah yang telah datang kepada diri kita.
Contoh sederhana, ketika seorang muslimah diminta untuk menutup aurat secara sempurna sesuai dengan syariat Islam dengan cara mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh dan kerudung yang menutup dada. Mereka sering kali melindungi diri dengan alasan belum siap, belum yakin, dan takut tidak istikamah. Padahal itu karena mereka tidak mengambil tindakan (action) dan terus menunda untuk mengambilnya sampai mereka yakin sehingga dari hasil menunggu keyakinannya akan menghasilkan muslimah yang tidak akan pernah menutup auratnya.
Singkatnya, dalam berbuat baik jangan terlalu banyak berpikir, tetapi pikirkanlah baik-baik ketika kita akan berbuat maksiat kepada Allah Swt. Dalam menjalankan hidayah Allah Swt., jangan pernah sekalipun menggunakan rumus “Belum cukup baik untuk menjalankannya”, karena jika kita menunggu baik terlebih dahulu untuk menjalankan hidayah, maka tidak akan pernah kita raih hidayah tersebut.
Berangkat dari pemahaman di atas, maka ada persamaan antara hidayah dengan takdir yang dibahas dan dipahami oleh umat Islam, yaitu dicampuradukkannya antara aktivitas Allah Swt. yang di dalamnya terdapat ilmu Allah, kehendak Allah, dan laufulmahfuz dengan segala aktivitasnya tidak dimintai pertanggungjawaban. Ada aktivitas pilihan, yaitu manusia diberi hak untuk memilih dalam melakukan suatu perbuatan atau menentukan pilihan dengan diberi pertanggungjawaban atas setiap pilihannya.
Dengan demikian, disimpulkan bahwa hidayah bukanlah sebuah takdir, melainkan pilihan. Pilihan apakah kita ingin mengambil tindakan untuk meraih dan menjalankan hidayah yang telah Allah turunkan, atau menunggu keyakinan yang tidak kunjung hadir karena merasa diri belum mampu untuk meraihnya.
Ini menunjukkan bahwa hidayah akan datang lebih mudah seandainya kita berada pada tempat dan berkumpul dengan orang-orang yang tepat sehingga seseorang tidak dikatakan serius dalam mencari hidayah apabila ia tidak pernah meninggalkan teman-teman yang mendukungnya dalam kebaikan. Seseorang tidak bisa dikatakan sungguh-sungguh dalam mencari hidayah apabila dia tidak meninggalkan tempat yang bisa membuatnya berbuat kemaksiatan.
Jika hidayah adalah takdir, seharusnya setiap umat Islam sudah mampu mengambil tindakan untuk meraih hidayah dan menjalankannya. Namun, Allah Swt. tidak serta merta dengan mudah memberikan hidayah kepada setiap manusia apabila manusia tersebut tidak segera mengambil tindakan dan juga bersama dengan orang-orang yang memberikan dukungan untuk berbuat baik serta meninggalkan hal-hal yang mendatangkan berbuat maksiat.
Baca Juga: Addin 414: Istikamah Tidak Mudah, Bukan Berarti Tidak Mungkin
Biodata Penulis
Nama : Nurul Hidayat
Fakultas : Dakwah dan Komunikasi
Jurusan : Komunikasi dan Penyiaran Islam
Semester : VI (Enam)
No. Hp : 0822-1301-9488
Sosial Media : @_nrllhdyt

