
Penulis: Nurhasanah Hutabarat
Manusia tidak mampu menjalani kehidupannya sendiri, artinya setiap orang harus mampu berinteraksi dengan orang lain di lingkungan terdekatnya. Hubungan antar manusia tidaklah sempurna, setidaknya setiap individu pasti mengalami kesedihan, duka, atau kebencian terhadap orang lain akibat perbuatan orang lain. Sejatinya rasa marah, kecewa, dan sakit hati ini wajar jika seseorang melakukan kesalahan, bahkan lebih buruk lagi jika itu sangat mematikan.
Terkadang, kejadian fatal tersebut membuat kita terus menerus mengamatinya. Ketika kita mengamatinya, atau memersepsinya, menyebabkan kita menjadi sedih, marah, kecewa, sakit hati, dan pada saat itulah semua emosi negatif juga akan terpatri dalam pikiran kita dan menyebabkan kejadian itu terjadi, jika tidak segera menghentikan kejadian itu.
Umat manusia memiliki dua hubungan yang harus dijunjung tinggi sesuai dengan ajaran Islam. Hubungan vertikal pertama dengan Allah disebut Hablun minallah, dua hubungan vertikal lainnya disebut Hablun minannas dan hubungan manusia. Hal termudah yang mereka lakukan adalah terhubung dengan Allah.
Sama halnya, kita manusia mempunyai keterbatasan, oleh karena itu kita harus berhati-hati untuk bersikap baik kepada satu sama lain, meskipun kita membaca dengan cermat. Namun, menjaga hubungan antar manusia satu sama lain tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Manusia pada umumnya sulit untuk dipahami. Ada sedikit rasa kesal dan kecewa.
Memaafkan dalam Islam adalah suatu konsep yang sangat penting dan dianjurkan. Memaafkan dianggap sebagai tindakan mulia yang mendatangkan pahala dari Allah swt. Dalam Islam, memaafkan berarti melepaskan dendam, kebencian, atau kesal terhadap orang lain yang telah melakukan kesalahan atau menyakiti kita. Allah swt. mengajarkan umat-Nya untuk menjadi hamba-Nya yang penuh kasih sayang dan pengampunan. Dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 134 disebutkan: “Dan (orang-orang) yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Dengan memaafkan, seseorang dapat membersihkan hati dari rasa marah dan membuka pintu rekonsiliasi, serta perdamaian antara individu-individu. Rasulullah saw. juga memberikan contoh teladan dengan selalu memaafkan, bahkan kepada musuh-musuh beliau. Jadi, dalam Islam, memaafkan merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah swt. dan cara untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia serta meraih kedamaian batin bagi diri sendiri.
Dalam Islam, memaafkan dapat dianggap sebagai bentuk sedekah yang sangat mulia. Meskipun secara harfiah tidak disebutkan bahwa memaafkan adalah sedekah dalam Al-Qur’an atau Hadis, tetapi konsep pemberian maaf kepada orang lain memiliki nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip-prinsip sedekah.
Berikut ini beberapa alasan mengapa memaafkan bisa dianggap sebagai bentuk sedekah dalam Islam, Pertama, ketika seseorang memberikan maaf kepada orang lain, ia sebenarnya melakukan pengorbanan emosional dan spiritual dengan melepaskan rasa sakit hati dan dendamnya. Hal ini mirip dengan pengorbanan materi dalam memberikan sedekah. Kedua, kebaikan tanpa pamrih. Memaafkan merupakan tindakan kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih atau imbalan dari pihak lain, seperti halnya ketika memberikan sedekah untuk mencari keridaan Allah swt. semata. Ketiga, mendatangkan pahala. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa setiap langkah menuju perdamaian membawa pahala besar dari Allah swt. Dengan demikian, tindakan memaafkan juga dapat mendatangkan pahala bagi pelakunya. Keempat, Menyucikan hati. Seperti tujuan utama dari sedekah, yakni membersihkan harta benda agar menjadi suci dan diberkahi, demikian pula memaafkan membantu menyucikan hati dan jiwa seseorang dari rasa marah dan kebencian.
Meskipun tidak ada ayat Al-Qur’an atau Hadis yang secara eksplisit menyatakan bahwa “memaafkan itu adalah sedekah”, tetapi konsep-konsep tersebut saling terkait karena keduanya menunjukkan sikap kedermawanan, kemurahan hati, serta niat baik untuk menciptakan hubungan harmonis antar sesama makhluk Allah swt.
Selain itu, Idulfitri juga merupakan kesempatan baik untuk memperkuat ikatan interpersonal yang lemah. Jika kita mempunyai konflik atau perselisihan dengan orang lain, maka Idulfitri bisa menjadi saat yang tepat untuk menjalin kembali silaturahmi tersebut dengan hati yang patah dan semangat yang patah. Namun, jika kita mampu berhubungan dengan orang lain, maka kita akan mengalami kehilangan yang sangat berarti di hati. Selain itu, dengan berinteraksi dengan orang lain, kita juga akan merasakan nikmat Allah swt. Sesuai dengan apa yang dikatakan dalam hadis Rasulullah, “Barangsiapa berdamai dengan orang lain, maka ia akan mendapat bagian yang besar dan dermawan dari Allah.”
Agar tidak membalas perilaku orang lain yang zalim kepada kita, Rasulullah memberi rambu-rambu atau memberi peringatan kepada umatnya. Jika kita menelaah Surat Ibrahim ayat 42-43, Allah berfirman, “Dan jangan lupa bahwa Allah akan membiarkan kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang zalim.”
Untungnya, Allah memberi mereka hikmah sampai hari kiamat. Ketika hari hampir berakhir, mereka yang zalim terus memperoleh mudarat dari perbuatannya dan tidak menerima kemajuan apa pun. Ayat ini menandakan bahwa Allah swt. tidak membenarkan perilaku maksiat yang dilakukan orang lain, melainkan menganugerahkan kemampuan untuk memperbaiki diri dan hubungan seseorang dengan orang tersebut.
Biodata Penulis:
- Nama : Nurhasanah Hutabarat
- Jurusan : Fisika
- Nomor Ponsel : 081287317989
- Instagram : @nrhsnah.ht
Editor: Fadillah Hanum

