
Penulis: Mhd. Abidzar Alghifari
Takdir adalah ketetapan Allah Swt. kepada setiap makhluk ciptaan-Nya. Takdir baik dan buruk bagi semua makhluk hidup di seluruh penjuru alam semesta semuanya murni ditentukan oleh Allah Swt. Setiap umat muslim di dunia ini wajib mengimani-Nya. Percaya dengan adanya takdir, menjadi salah satu rukun iman. penetapan takdir itu merupakan hak Allah Swt. dan tidak ada seorang pun yang mampu mengetahui.
Takdir sudah pasti berkaitan dengan qada dan qadar. Qada adalah ketetapan Allah Swt. sejak zaman sebelum diciptakannya alam semesta ini. Sementara qadar yaitu perwujudan dari qada atau ketetapan Allah dalam kadar tertentu sesuai dengan kehendak-Nya. Qadar–Nya ini juga biasa kita sebut dengan istilah takdir. Qada diibaratkan seperti rencana, sedangkan qadar sebagai perwujudan. Sebagai umat Islam, kita tentu wajib memahami takdir sebagai bagian dari rukun iman keenam, yaitu percaya kepada qada dan qadar.
Baca Juga: Addin 463: Ibadah dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan
Kadang kala, kita sebagai manusia biasa pasti pernah merasakan suatu momen di mana kita mengeluh tentang apa yang telah terjadi, kita tidak terima dengan apa yang sudah digariskan Allah untuk kita, “Ya Allah, kok, takdirku begini, ya?” Lalu perasaan tidak bersyukur itu muncul dan membuat kita menjadi orang yang kufur kepada takdir Allah, padah Ia sudah menakdirkan segala sesuatu kepada manusia dengan dua cara. Pertama, dengan memberikan qudrah atau kekuatan. Kedua, yaitu membuat segala sesuatu dengan ukuran tertentu atau cara-cara tertentu menurut kadar ketentuannya. Contohnya itu seperti sebutir biji kurma telah ditakdirkan hanya akan menumbuhkan jenis pohon kurma saja , artinya apa? Sebutir biji kurma itu tidak dapat menumbuhkan buah apel ataupun buah zaitun. Jadi, seperti itulah perumpaan yang Allah berikan kepada kita.
Allah Swt. berfirman di dalam Al-Qur’an : “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Furqan: 2)
Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa Allah itu adil. Ia menciptakan apa yang dia kehendaki kepada kita itu sesuai dengan kadar kemampuan kita sebagai hamba-Nya, perumpamaannya adalah ketika kita jatuh sakit, tidak mungkin Allah memberikan cobaan kepada hamba-Nya begitu saja, melainkan karena dia mampu melewati ujian itu. Karena ketika seorang manusia dengan sadar memilih berusaha keras agar sakitnya itu berubah menjadi sehat dan itu berhasil dilakukannya, sebenarnya dia tak mengubah sedikit pun takdir-Nya. Takdirnya bukanlah sakit kemudian dilawan hingga berubah menjadi sehat, tetapi takdir-Nya adalah sakit lalu berusaha keras untuk sembuh. Dengan begitu tidak relevan sama sekali, menanyakan apakah usaha dapat mengubah takdir sebab usaha itu sendiri adalah juga bagian dari takdir.
Demikian juga sebaliknya ketika ada seseorang yang lahir dalam kondisi kaya lalu bermalas-malasan sehingga jatuh miskin. Keadaan ini tak dapat diartikan seolah dia ditakdirkan kaya kemudian mengubah takdirnya dengan bermalas-malasan. Yang terjadi adalah dia memang ditakdirkan lahir dalam keadaan kaya lalu ditakdirkan bermalas-malasan lalu jatuh miskin. Apa yang telah terjadi, itulah yang kita ketahui sebagai takdir. Dengan demikian, takdir selalu selaras dengan realitas yang terjadi dan tak mungkin berbeda sehingga bisa dipertentangkan.
Tapi apakah takdir bisa diubah? Bagaimana, sih, cara kita mengubah takdir itu? Tentu bisa, kita bisa mengubah takdir, kita bisa mengubah takdir itu dengan cara menawar. Menawar yang dimaksudkan adalah dengan cara usaha dan doa, takdir yang bisa diubah itu adalah takdir muallaq, takdir muallaq adalah ketetapan Allah yang masih bisa berubah tergantung pada usaha dan doa manusia. Contohnya, seseorang yang rajin berikhtiar dan berdoa, mungkin akan mendapatkan hasil yang berbeda dengan orang yang tidak berusaha dan berdoa, meskipun keduanya memiliki takdir yang sama di awal. Berdoa dan berusaha adalah cara untuk mengubah takdir. Doa bisa menjadi sebab tertolaknya suatu takdir yang telah ditentukan, seperti yang dijelaskan dalam hadis Nabi kita Muhammad saw. “Tidak ada yang dapat menolak takdir, kecuali doa”. Usaha juga berperan penting dalam mengubah takdir, karena Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri.
didukung dengan firman Allah Swt. dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11, yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra’d ayat 11)
Banyak orang yang masih salah paham mengenai kata “keadaan” pada ayat itu, dengan menyebutkannya sebagai takdir Allah yang telah ditetapkan dalam lauhulmahfuz. Padahal, maksud dari kata tersebut yaitu kondisi mendapat nikmat dari Allah. Namun, nikmat ini tentunya bisa ditentukan oleh kaum itu sendiri, karena apabila ia banyak melakukan maksiat maka nikmat tersebut akan berubah menjadi musibah dan bencana.
Seseorang harus yakin bahwa Allah akan mendengar dan mengabulkan doa serta memberikan pertolongan bagi hambanya yang memohon, pentingnya keyakinan seorang hamba juga menjadi sebab terkabulnya doa, karena selain berdoa kita juga harus berikhtiar dengan penuh keyakinan, bahwa Allah pasti akan mengabulkan permohonan kita. Menghindari keputusasaan dan tetap berdoa serta berusaha adalah cara untuk merubah takdir yang bisa diubah. Takdir yang tidak bisa diubah tetaplah harus diterima dengan sabar dan ikhlas, serta tetap mengimani bahwa Allah memiliki rencana yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.
Jadi, janganlah kita berburuk sangka kepada Allah, yakinlah bahwa apa yang telah ditakdirkan untuk kita, itu pasti yang terbaik. Dan takdir yang dapat diubah itu adalah takdir muallaq, jika kita hendak mengubah takdir itu, jangan lupa, tawarlah takdir itu. Tawarlah ia dengan usaha dan doa, bersimpuhlah kita dihadapan Allah sebagai hamba yang lemah, mintalah dengan penuh harap, agar Allah mau mengabulkan doa kita. Karena sejatinya tidak ada usaha yang berhasil tanpa diiringi dengan ikhtiar dan doa. Terima kasih sudah membaca tulisan ini, semoga Allah Swt. senantiasa memberikan keberkahan dan kemudahan-Nya kepada kita semua.
Baca Juga: Addin 462: Manajemen Waktu ala Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wa Sallam

