
Penulis: Novilya Musfira Bahri
Ketika napas terakhir terhembus dan dunia perlahan menjauh, seseorang akan memasuki babak baru yang sunyi dan tak terlihat, alam kubur. Di sanalah awal dari kehidupan akhirat dimulai. Berarti permulaan dari sebuah perjalanan yang panjang menuju tempat kembali yang abadi. Alam barzakh menyimpan rahasia yang tak bisa dijangkau oleh mata manusia, namun Allah dan Rasul-Nya telah memberi kita isyarat, bahwa di balik sepi itu, ada cahaya atau kegelapan. Semuanya tergantung pada apa yang kita bawa dari dunia. Dan seperti seorang musafir yang menyiapkan pelita sebelum malam turun, kita pun harus menyiapkan cahaya melalui amalam-amalan yang akan menyinari alam kubur dan akan menjadi teman di saat semua telah pergi.
Salat
Bayangkan, salat seperti lentera yang tak pernah padam. Di setiap ruku qdan sujud, seorang hamba tengah menaburkan cahaya yang kelak akan menerangi jalannya di alam barzakh. Salat bukan hanya kewajiban, tetapi hadiah yang menghubungkan hati manusia dengan Tuhannya. Allah berfirman dalam QS. Al-Ankabut ayat 45 yang artinya, “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar.” Selain itu, juga disampaikan dalam Hadis Riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Salat adalah cahaya.” Betapa indahnya, jika setiap salat yang kita jaga dengan ikhlas menjadi cahaya yang menyapa ketika tubuh terbaring dalam kesunyian. Maka jagalah salat seperti menjaga cahaya hidupmu, karena ia adalah penentu cahaya setelah kematianmu.
Baca Juga: Addin 470: Menjaga Hati untuk Menjadi Muslim yang Istikamah
Membaca Al-Qur’an
Selanjutnya, Al-Qur’an. Firman Allah yang buka sekadar bacaan, tetapi teman sejati yang akan datang membawa syafaat. Ia adalah kalam yang menuntun jiwa, yang ketika dibaca dengan hati yang hadir, mampu menenangkan yang gelisah dan menerangi yang gelap. Dalam QS. Asy-Syura ayat 52 Allah berfirman yang artinya, “Kami menjadikannya cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” Disampaikan juga oleh Rasulullah SAW dalam HR. Muslim artinya, “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” Terutama Surah Al-Mulk, yang dengan tiga puluh ayatnya mampu menjadia pelindung dai siksa kubur. Bayangkan, setiap malam sebelum tidur, ketika kita membuka Al-Qur’an dan membacanya dengan perlahan, kita sedang menyalakan lentera untuk malam panjang yang belum tiba. Al-Qur’an tidak akan meninggalkan kita, bahkan ketika semua telah berlalu.
Berbakti kepada Kedua Orang Tua
Dan dalam dekapan kasih orang tua, tersimpan amalan yang mampu menembus langut dan bumi. Berbabkti kepada mereka bukan sekadar kewajiban, melainkan sumber keberkahan yang terus mengalir. Setiap doa yang kita panjatkan untuk ibu dan ayah adalah cahaya yang menerangi jalan mereka di alam kubur. Allah berfirman dalam QS.Al-Isra ayat 23 yang artinya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” Rasulullah juga mengingatkan dalam Hadis Riwaya Muslim yang artinya, “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakannya.” Ketika kita berkata lembut, mendengar keluh kesah mereka dengan sabar, atau sekadar menggenggam tangan yang mulai lemah, kita tengah menyiapkan cahaya yang akan menuntun mereka dan suatu saat, menuntun kita pula.
Bersedekah
Sedekah adalah cahaya yang tak pernah padam. Ia mengalir seperti air, menghidupkan yang kering, dan menyinari yang kelah. Allah menggambarkannya dengan begitu indah dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 yang artinya, “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai seratus biji.” Dan Rasulullah SAW bersabda pada Hadis Riwayat Tirmidzi yang artinya, “Sedekah itu memadamkan api siksa.” Bayangkan, setiap rupiah yang kita keluarkan untuk membangun sumur, menyumbang musola, atau memberi makan orang kelaparan, akan kembali kepada kita dalam bentuk cahaya yang menghangatkan alam kubur. Sedekah tak menunggu kaya, cukup dengan hati yang peduli.
Menjalin Silaturahmi
Silaturahmi, hubugan kasih antar manusia adalah jembatan cahaya antara dunia dan akhirat. Slaing menyaoa, memaafkan, membantu, dna menjaga hubugan keluarga serta sesama adalah bentuk cinta yang memantul hingga ke barzakh. Allah mengingatkan kita dalam Q.S An-Nisa ayat 1 untuk memeliharanya, “… dan peliharalah hubungan silaturahmi.” Juga disampaikan juga oleh Rasulullah pada HR. Bukhari dan Muslim yang artinya, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” Mungkin terlihat kecil, seperti sebuah pesan ingkat, kunjungan saat lebaran atau sekadar senyum. Tapi semua itu adalah cahaya yang dikumpulkan, satu dmi satu, hingga cukup menerangi perjalanan di alam sana.
Berdzikir
Lalu, ada dzikir dan istighar. Ditengah hiruk pikuk dunia, menyebut nama Allah dengan penuh kesadaran adalah ketenangan yang membawa cahaya. Allah berfirman dalam Q.S Al-A’raf ayat 205 yang artunya, “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut…” Dalam HR. Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa yang mengucapkan ‘Subhanallah wa bihamdihi’ seratus kali dalam ehari, dosa-dosanya akan diampuni meskipun banyak buih di lautan.” Bayangkan dalam setiap “Astaghfirullah” ada cahaya yang membersihkan. Dalam setiap “La ilaha illallah” ada sinar yang memurnikan jiwa. Dzikir bukan hanya amalan ringan, tapi peliya yang menyala dalam diam.
Pada akhirnya, kubur adalah cermin dari kehidupan kita. Ia bisa menjadi taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka. Namun Allah Maha Adil dan Maha Penyayang. Diberinya kita petunjuk, jalan menuju cahaya melalui salat, Al-Qur’an, berbakti kepada orangtua, sedekah, silaturahmi, dzikir dan harapan untuk syahid. Semua itu bukan beban, melainkan anugerah. Lentera yang bisa kita nyalanan dari sekarang, sebelum malam bnar-benar datang.
Penulis : Novilya Musfira Bahri
Jurusan : Sistem Informasi
Fakultas : Sains dan Teknologi
Semester : 4
Media Sosial (IG) : _novone
Baca Juga: Addin 469: Perubahan Diri dalam Kehidupan Sehari-hari (Hijrah)
Editor: Muhammad Daffa

