
Penulis: Wanda Hadinata
Semua itu butuh proses. Mungkin terlihat biasa saja, tetapi kalimat ini penuh dengan makna, hampir semua yang kita lakukan itu butuh proses karena hidup adalah proses. Kita bisa tumbuh menjadi dewasa juga melalui proses dan setiap bentuk aktivitas yang kita lakukan butuh proses. Bahkan mi instan pun, namanya saja yang instan, tetapi ketika ingin memakannya harus dimasak terlebih dahulu, dan itu juga termasuk proses. Jadi, tidak ada yang instan.
Dalam Islam juga butuh proses, setiap ibadah yang dilakukan oleh umat muslim membutuhkan proses, ada rukun-rukun ataupun syarat-syarat yang harus dipenuhi. Seperti salat, misalnya ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap umat muslim dalam praktiknya juga memiliki proses, kita harus bersuci (berwudu) terlebih dahulu, kemudian menutup aurat, berniat, dan seterusnya. Tidak ada yang instan seperti mengedipkan mata. Ibadah yang lain juga demikian, seperti puasa, zakat, haji, juga melewati proses-proses tertentu. Maka dari itu, penulis katakan semua itu butuh proses.
Di dalam Al-Qur’an surah Al-mu’minun ayat 12-14 Allah Subhanahu wa ta’ala juga menjelaskan proses penciptaan manusia. “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka maha suci Allah, pencipta yang paling baik.”
Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa manusia bisa hidup di dunia juga melalui proses penciptaan-Nya. Di zaman sekarang ini, kita sering berkeinginan menjadi orang yang sukses, bahagia dan tenang menjalani hidup. Namun, itu semua tidak semudah yang kita kira, butuh proses, usaha dan doa, serta sungguh-sungguh dalam menggapainya. Tidak ada yang terlahir menjadi orang sukses, terkadang kita harus merasakan gagal, jatuh, bangkit lagi, jatuh, sedih, untuk bisa merasakan apa artinya hidup. Itulah proses dalam hidup, terus berputar sesuai takdir yang diberikan Tuhan.
Hidup ini adalah proses, tanpa sebuah proses tak akan ada hasil. Semakin berkualitas proses yang dilakukan oleh seseorang, maka yakinlah hasil yang diperolehnya juga akan memuaskan dan terasa nikmat. Memang rasanya akan terasa nikmat apabila hasil yang kita dapat melewati proses yang sangat panjang, tetapi ketahuilah dengan adanya niat yang baik serta ikhlas menjalani berbagai prosesnya hasil yang didapat juga akan terasa cukup dan untuk menggapainya juga dengan cara yang halal.
Proses hidup itu akan berhenti ketika kita tidak dapat menghirup udara di alam dunia ini, saat itulah proses hidup kita berhenti dan berlanjut ke proses kehidupan berikutnya. Jadi, nikmatilah proses hidup selagi Tuhan masih memberikan kita kesempatan, tidak ada kata terlambat, yang ada hanya kita lupa dan tidak sadar untuk apa proses hidup kita. Banyak orang yang mengira hidupnya akan panjang, tetapi ketahuilah yang namanya hidup pasti ada batasnya dan tidak ada satupun orang yang tahu batas hidupnya sampai kapan.
Kita hidup di dunia ini seperti berlayar, yaitu mencari satu arah tujuan. Di tengah perjalanan, kita berhenti di suatu pulau mungkin hanya sebagai tempat persinggahan saja, banyak orang yang sadar dia hanya berhenti sebentar hanya untuk mencari bekal ataupun peralatan yang bisa dibawa ke arah tujuannya nanti. Namun, ada juga orang yang terlena di tempat persinggahan tersebut, dia malah bersenang-senang, mencari kekayaan di pulau tersebut sampai lupa arah tujuannya sehingga dia terjebak di pulau tersebut dan tidak merasakan kebahagiaan.
Begitulah ilustrasi hidup ini, melewati berbagai proses. Tentunya, dalam Islam kita meyakini bahwa tujuan hidup kita adalah di negeri akhirat, dunia ini hanya sebagai tempat persinggahan saja (sebuah jembatan yang mengantar kita ke akhirat), hanya sebagai tempat mencari bekal ataupun modal yang bisa membawa kita mendapatkan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya, yakni kehidupan di akhirat. Untuk bisa sampai di sana yang pasti kita akan melalui berbagai proses kehidupan, merasakan kesenangan, kesedihan, karena itu semua adalah pelajaran dari proses hidup. Hidup ini susah, seperti yang telah Allah Subhanahu wa ta’ala katakan dalam Al-Qur’an dalam surah Al-balad ayat 4, “Sungguh, kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”
Kita akan terus mendapatkan cobaan, ujian, maupun rintangan di dunia ini, karena kita masih hidup. Tidak ada satu orang pun yang tidak diberikan ujian oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, bahkan seorang Nabi pun juga mendapat banyak cobaan dan ujian dari Allah, bahkan cobaan yang dihadapi mereka sangat berat. Jangan menyalahkan Tuhan ketika kita sedang diuji karena Tuhan ingin melihat bagaimana sikap kita dalam menikmati proses hidup. Apakah kita jauh dari-Nya atau sebaliknya, kita selalu bersamanya dalam segala hal.
Orang-orang yang sudah meninggal dunia selalu berkeinginan untuk kembali ke dunia, karena dia terlambat sadar dia telah menghabiskan proses hidupnya untuk hal yang tidak bermanfaat. Kesempatan hidup hanya sekali, jika dua kali mungkin manusia akan berbuat semena-mena di dunia ini. Maka dari itu, teruslah kita berusaha melakukan kebaikan, melakukan hal yang bermanfaat, karena hidup akan terus berproses.
Kita lihat cara hidup kupu-kupu. Kupu-kupu bisa terbang dan terlihat indah dipandang juga melalui berbagai proses, dari yang tadinya sebuah ulat, lalu berubah menjadi kepompong dan pada akhirnya akan menjadi sebuah kupu-kupu. Dari hal ini kita dapat belajar bahwa kita bisa meraih apa yang kita inginkan itu butuh proses yang harus dilewati, kadang terasa cepat, maka disitulah Allah melatih kita untuk bersyukur, kadang terasa lambat dan di situlah Allah menguji kita untuk bersabar.
Jangan pernah merasa hidupmu gagal. Tidak ada yang gagal, hanya saja rasa putus asa yang menguasai hatimu. Ingatlah, Allah Subhanahu wa ta’ala masih memberikan kita peluang untuk hidup, peluang itu tidak akan selamanya datang, ada saatnya kita tidak mendapatkan peluang dan malah kita diserang, di situlah nikmat kita diambil oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
So, selagi kita masih menjalani proses hidup ini gunakanlah sebaik mungkin, mungkin tulisan ini akan menjadi motivasi buat kita semua terutama untuk penulis sendiri. Teruslah berjuang, giat berusaha serta tidak lupa dengan pemilik alam semesta ini, yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala. Kalau kita mengakui status kita adalah hamba, maka berlakulah seperti seorang hamba. Hamba tidak mempunyai kekuasaan, hamba hanya menyembah dan terus mengabdi. Ada yang selalu mengawasi hidup kita dan Dia tidak pernah lelah melihat aktivitas kita di dunia ini. Seperti apa pun bentuk kesalahan kita ada yang terus mengetahui, yaitu yang Maha Mengetahui. “Man antum wa liman antum?” Hidup akan terus berproses, dan proses akan berhenti pada waktunya.
“Life will continue to proceed, and the process will stop in due course.”
Biodata Penulis:
- Nama: Wanda Hadinata
- Fakultas: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
- Jurusan: Pendidikan Agama Islam
- Semester: IV (Empat)
- Instagram: @hadinata_w

