Addin 366: Kamu Tidak Berguna?

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Syifa Zanjabila)

Penulis: Siti Tridia Utamy

Sebagian besar dari kita pasti pernah berada di fase Quarter Life Crisis. Kondisi di mana psikologis kita terganggu dengan tidak yakin kita terhadap diri sendiri. Perasaan tertekan akibat selalu disalahkan, perasaan terbebani karena tak bisa memenuhi tuntutan dari orang-orang sekitar, merasa tidak berguna. “Untuk apa hidup kalau cuma jadi beban orang tua?”

Tenang, kamu tidak sendiri, kok. Ada ribuan bahkan jutaan orang yang masih kebingungan harus memulai dari mana. Berbagai tips dari artikel, seminar, maupun video tutorial seperti “Bagaimana membangun kegiatan produktif” sudah banyak kamu tonton. Sekejap, itu saja bisa membuatmu bersemangat, lalu sedetik kemudian api gelora itu sontak melempem bak kerupuk disiram air.

Kamu mendengar lagi kata-kata toxic. Begitulah anak muda mengistilahkan kata-kata atau kalimat yang bisa memicu seseorang untuk merasa rendah, tak punya keahlian apa-apa, tak berguna, lalu kamu pun merasa rendah diri, jatuh sejatuh-jatuhnya.

Apalagi ketika orang tua membandingkanmu dengan anak tetangga, maka otomatis perasaan pun jadi hancur. Padahal niat orang tuamu itu amat mulia. Begitulah cara orang tua memotivasi anak-anaknya agar semangat memperbaiki diri. “Jangan mau kalah sama anak tetangga!”

Jika sudah begitu apa yang bisa kamu lakukan?

Marah, membantah argumen orang tua, atau justru hanya bisa memendam rasa sakit hati itu sekuat mungkin di dalam dadamu, dan memilih untuk menumpahkannya di pojok kamar? Pilihan terakhir mungkin lebih bijak. Selama apa yang dikatakan orang tua tidak melanggar syariat, kita tidak boleh membantahnya. Sebagai anak kita harus mengalah, walau yang dikatakan orang tua tidak semuanya benar.

Menangislah, menangis sepuasnya. Tumpahkan air matamu sebanyak yang kamu bisa, sampai kamu sudah tidak sanggup lagi untuk menangis. Setelah itu, aku yakin kamu akan merasa lega, bahkan ada setidaknya sedikit rasa penyesalan, karena tadi sempat membenci orang tuamu sendiri. Maka bergegaslah ke dapur, lihat piring-piring kotor yang menunggumu minta dicuci, lantai rumah yang minta disapu, atau kamar mandi yang minta disikat. Buatlah hati orang tuamu senang.

Mungkin dirimu sering kali berpikir, melihat kemampuan teman di sana rasanya diri ini tak ada artinya. Mereka semua hebat, tahu apa yang hendak mereka dapat. Sedangkan kamu? Masih sibuk merebahkan diri tanpa tahu apa yang hendak dicari. Kamu jadi takut sendiri, takut akan masa depan. Ke arah mana hidup ini akan dijalankan?

Namun, coba ingat kembali hal-hal yang telah kamu lakukan. Seperti membantu ibu ketika dibutuhkan, memberikan makan ke kucing jalanan, atau sekadar mendengarkan keluh kesah seorang teman.

Hal paling kecil sekali pun tentu tidak akan sia-sia, bukankah itu artinya dirimu memiliki makna? Karena pada hakikatnya Allah tidak melihat siapa kamu di dunia, tetapi seberapa banyak orang yang bahagia dengan adanya kamu di hidupnya.

Bukankah teladan kita Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, manusia yang sudah terkenal paling luhur budi pekertinya pernah bersabda bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain?

Demikian pun Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam Al-Quran surah Al-Isra’ ayat 7 yang artinya:

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri”.

Kebaikan sekecil apa pun yang kamu lakukan tentu memiliki manfaat pada hal apa pun itu, termasuk menyiram tanaman yang kekeringan dengan sisa air minummu. Kamu tidak bisa mendengarnya, tetapi aku yakin tanaman itu berterima kasih kepadamu karena kamu telah menyelamatkan hidupnya. Maka tersenyumlah, peluk dirimu sendiri, berikan tepukan di punggungmu, dan katakan: “Kamu telah bermanfaat untuk makhluk lain”.

Itu merupakan bukti bahwa Allah menciptakan segala sesuatu pasti ada gunanya. Semua yang ada di langit dan di bumi memiliki hikmahnya masing-masing bahkan seekor nyamuk sekali pun. Sebagaimana dalam firman-Nya dalam Al-Qur’an surah Sad ayat 27 yang artinya:

“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia”. 

Pernahkah berpikir mengapa Allah menciptakan nyamuk? Untuk apa ada nyamuk di bumi ini? Bukankah kehadiran nyamuk hanya membuat makhluk lain terutama manusia dirugikan karena nyamuk kerjanya hanya menghisap darah dan menyebabkan penyakit demam berdarah, chikungunya, dan juga malaria? Apakah Allah menciptakan nyamuk secara cuma-cuma tanpa pertimbangan yang matang untuk sekadar menjadi pelengkap spesies yang menghuni bumi?

Allah telah menjelaskan mengenai sebab penciptaan nyamuk ini dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 26 yang artinya:

”Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”.

Nyamuk adalah salah satu hewan yang diciptakan Allah sebagai bukti kebenaran dan kebesaran Allah. Dari ayat tersebut, bisa dilihat bahwa orang yang benar-benar beriman pasti akan percaya dengan segala firman-Nya dan selalu berusaha untuk mengambil hikmah dari setiap apa yang Allah ciptakan, tak terkecuali dengan penciptaan nyamuk. Allah tidak mungkin menciptakan atau menakdirkan segala sesuatu tanpa ada hikmah di dalamnya.

Maka, pelajaran yang bisa kita ambil di sini, jika seekor makhluk kecil menjengkelkan yang bernama nyamuk itu saja memiliki hikmah, tentu kehadiranmu dalam perut ibumu, kelahiranmu ke dunia ini, keberadaanmu di tengah teman-temanmu, dan keadaanmu yang sehat seperti ini, pasti juga ada hikmahnya. Terbukti dengan kamu mau meluangkan waktu membaca tulisanku sekarang, tanpa sadar di detik ini, kamu telah membuatku merasa terapresiasi. Aku senang sekali.

Sekali lagi, aku ingin berterima kasih kepadamu. Dengan adanya kamu di dunia ini, pada detik ini pula satu manusia merasa dihargai. Keberadaanmu telah berguna untuk seseorang seperti “Aku” yang masih tertatih dan berlatih mengembangkan tulisannya.

Biodata Penulis

  • Nama : Siti Tridia Utamy
  • Fakultas : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
  • Jurusan : PAI
  • Semester : VII (Tujuh)
  • IG : @mimistu.chan

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles