
Penulis: Tri Puji Astuti
Varian baru dari Covid-19, yaitu Omicron sudah mewabah di beberapa negara, tetapi kita semua berharap segala hiruk-pikuk wabah penyakit ini cepat pergi dan dunia pulih kembali. Berbicara tentang virus, kita juga harus hati-hati terhadap virus lain yang menyerang kawula muda. Walau virus ini tidak mematikan, namun setiap manusia yang sudah menjadi korban virus ini biasanya akan mendapatkan rasa sakit pada fisik dan mentalnya. Virus ini memang sengaja disebar dan akan semakin memburuk lagi setiap Februari.
Virus apakah itu? Benar, virus merah jambu alias cinta. Bagi mereka yang sudah terserang virus ini, Februari menjadi waktu yang dinanti-nanti. Harus merayakannya dengan pasangan tersayang, lalu mulai mengabaikan aturan Tuhan yang menciptakan cinta.
Jika rasa cinta itu melanda, salah tidak, sih? Terus, apa yang harus dilakukan agar cinta tidak menorehkan luka? Apakah ada obat dari virus ini? Lantas, apa hakikat cinta yang sebenarnya? Teman-teman tidak perlu panik. Ingat saja, virus ini sudah menjadi fitrah dari-Nya. Lihat nih, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 11.
“Allah pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak yang juga diciptakan berpasang-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia yang Maha Mendengar, Maha Melihat”.
Rasa cinta atau kecenderungan terhadap lawan jenis itu fitrah alami yang akan terjadi. Tidak hanya manusia, hewan pun, Allah Subhanahu wa ta’ala ciptakan berpasang-pasangan untuk berkembang biak. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala atas segala apa yang telah diciptakan-Nya.
Lalu, bagaimana agar cinta sebagai fitrah dapat dicapai sesuai dengan aturan yang menciptakan cinta itu sendiri. Pertama, coba memaknai hakikat cinta itu terlebih dahulu. Tujuan Allah Subhanahu wa ta’ala menghadirkan cinta dalam kehidupan dunia untuk menjadi potensi hidup bagi manusia. Rasa cinta itu untuk wasilah atau jalan berkembang biaknya keturunan. Jadi, agar makhluk hidup terutama manusia tetap eksis di muka bumi.
Selain itu, dengan cinta pula kita berharap kedamaian. Yang dimaksud adalah ketika kita mencintai saudara sesama Muslim, karena Allah Subhanahu wa ta’ala. Inilah tujuan mulia rasa cinta yang sebenarnya dan ini tidak bisa dicapai begitu saja berdasarkan hawa nafsu belaka.
Kita tentu tahu, setiap apa pun yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, semuanya punya aturan atau syariat yang mengikatnya. Agar apa? Agar senantiasa terjaga dan tidak dilakukan sebebas-bebasnya. Maka, untuk mencapai cinta tanpa mengabaikan aturan-Nya kita perlu menjalankannya sesuai syariat agar tujuan mulia tersebut bisa terwujud dengan jalan yang mulia pula.
Untuk itulah ada syariat pernikahan. Dalam pandangan Islam, rasa cinta hanya dicapai dengan jalan halal atau pernikahan. Nah, ini dia syarat kedua. Melalui pernikahan kesucian cinta terjaga dan nantinya lahirlah generasi baru yang bertakwa. Jadi, tidak salah punya rasa cinta, itu pertanda kita manusia yang normal. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana cara kita menyikapinya. Mau memuliakan cinta atau sebaliknya, inilah yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya.
Bukan semata-mata karena hawa nafsu ingin memiliki tanpa ikatan yang jelas dan halal. Inilah virus cinta yang bisa memberi rasa sakit pada fisik dan mental. Ketika rasa cinta melanda dicapai dengan jalan hawa nafsu apalagi namanya kalau tidak pacaran? Parahnya, virus cinta ini sudah diterima dan menjadi biasa di kalangan manusia terkhusus bagi kawula muda. Bahkan, menjadi suatu kebanggaan tersendiri ketika mengambil jalan perzinaan itu, naudzubillah.
Cukup miris melihat mereka yang sudah terjebak malapraktik cinta ini, mencapai naluri cinta bukan dalam aktivitas yang semestinya. Gaul bebas, pacaran, dan sampai kepada perzinaan. Apalagi setiap momen di bulan Februari, makin marak pula virus cinta ini menggerogoti hati dan pemikiran pemuda muslim. Sampai akhirnya memang benar-benar buta karena cinta, buta dengan syariat Allah Subhanahu wa ta’ala.
Momen di Februari itu adalah momen Valentine dan biasanya ditandai dengan dekorasi ala pink dan cinta-cintaan. Setiap pasangan akan ikut merayakannya dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang Allah Subhanahu wa ta’ala haramkan. Miris, bukan? Iya, karena perayaan Valentine itu punya cerita yang kelam dan tragis. Tetapi, malah dijadikan sebagai hari kasih sayang, ngawur nih.
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra:32).
Allah Subahana wa ta’ala sudah mengatakan kepada hambanya untuk tidak mendekati perbuatan zina. Mendekatinya saja tidak diperbolehkan apalagi sampai melakukan perzinaan, ya? Naudzubillah.
Setelah berhasil memaknai hakikat cinta sebenarnya, kita juga dituntut untuk senantiasa mengingat. Sejatinya hidup tidaklah hanya di dunia saja. Justru, dunia ini hanya tempat persinggahan. Maka dari itu, merugilah bagi orang-orang yang terlalu mengejar kebahagiaan di dunia yang fana.
Sebagai pemuda Muslim harapan peradaban, sejatinya kita telah dilabeli dengan gelar umat yang terbaik. Kita adalah generasi pemimpin, bukan generasi pengikut. Kalau pacaran membuat kamu bahagia, coba ganti standar kebahagianmu. Kebahagiaan yang hakiki, yaitu mencapai rida Allah Subhanahu wa ta’ala.
Pemuda Muslim seharusnya cerdas dengan Islam yang sempurna. Jangan pula sampai kehilangan identitas sebagai Muslim, sebaliknya jadikan akidah Islam sebagai landasan dalam berpikir dan bertingkah laku. Sehingga, setiap perbuatan punya batasan-batasannya sesuai standar Al-Qur’an dan As-Sunah. Tidak ada lagi pemikiran untuk melakukan perbuatan dengan jalan hawa nafsu.
Biodata Penulis:
- Nama : Tri Puji Astuti
- Jurusan : Ilmu Komunikasi
- Fakultas : Ilmu Sosial
- Semester : Tiga (3)


sangat sangat bermotifikasi sekali kak
jadi semakin kuat iman di sekelilingan teman teman yg pacarann. semoga allah jugak mengistiqomakan kita semua agar dijauhii apa yg allah tidak sukaaa