Addin 434: Bulan Ramadan Momentum Panen Pahala

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Najwa Aini)

Penulis: Nurul Hidayat

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan bagi manusia yang menyeru kepada yang makruf dan yang mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.S. Ali Imran: 110)

Tanpa terasa kita telah memasuki bulan suci Ramadan. Bulan yang penuh keistimewaan, karena di bulan inilah momentum kita untuk panen pahala, memupuk keimanan, dan melejitkan ketakwaan. Sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah Swt. karena masih diberi kesempatan untuk merasakan nikmat-Nya menjalani ibadah Ramadan.

Bulan Ramadan adalah bulan yang senantiasa dinanti oleh umat Islam, karena di bulan ini, Allah berikan pahala yang berlipat bagi semua amal kebajikan yang kita lakukan. Allah juga memberikan rahmat dan ampunan bagi siapa saja yang berpuasa dengan penuh keimanan dan berharap kepada rida-Nya. Sebagaimana yang telah tertera pada Surah Ali Imran ayat 10 di atas, bahwa kita adalah umat terbaik karena terpilih untuk dilahirkan dalam keadaan Islam, yang tentunya sebagai umat Islam kita wajib menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah Swt.

Baca Juga: Addin 433: Salah karena Niat

Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan berharap rahmat dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (H.R. Muttafaq ‘Alaih).

Hadis di atas memberitahu kita sebagai seorang muslim, kita harus bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya di bulan suci Ramadan ini. Hal ini dikarenakan setiap waktu yang berjalan tanpa melakukan suatu perkara yang mencerminkan sebagaimana umat Islam, maka waktu itu hanya sekadar berjalan dan terkikis habis tanpa memiliki makna dari setiap waktu yang dihabiskan.

Untuk itu, di bulan suci Ramadan, mulailah dengan memperbanyak berbuat baik, juga beramal saleh. Sehingga, kita mendapatkan rahmat, ampunan, dan tentu saja pahala yang berlipat-lipat. Hal ini jelas, melihat beberapa hadis terkait bagaimana Allah Swt. melipatgandakan pahala bagi umatnya yang berpuasa.

“Setiap amal kebaikan manusia akan dilipatgandakan pahalanya dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalas pahalanya. Hal itu karena orang yang berpuasa telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas membuktikan bahwa Allah Swt. akan melipatgandakan pahala, dari mulai sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Sedangkan untuk puasa, Allah yang akan memberikan balasan terbaiknya. Hal ini tentu tergantung dari apa yang kita perbuat selama bulan suci Ramadan. Maka, bisa kita bayangkan satu saja perbuatan amal kebaikan yang kita lakukan akan mendapatkan pahala yang luar biasa. Namun, ada pengecualian untuk orang yang berpuasa, yakni Allah sendiri yang akan membalas amal kebaikan yang kita lakukan.

Karena itu, di bulan yang penuh ampunan, bulan penuh rahmat, dan bulan yang selalu dinantikan oleh umat Islam ini, kita manfaatkan waktu Ramadhan selama sebulan ini dengan melakukan amalan-amalan kebaikan. Sebab, di bulan suci Ramadan pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Maksud dibelenggu di sini adalah, setan-setan tersebut akan dibatasi setiap perbuatannya untuk mengganggu umat Islam, karena umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa, sehingga sibuk menahan syahwatnya, sibuk menahan segala godaan makanan di mana-mana, serta sibuk dengan membaca Al-Qur’an dan senantiasa berzikir.

Hal ini akan lebih mudah untuk kita beramal saleh, sehingga akan dengan mudah kita panen pahala yang berlimpah di bulan suci Ramadan. Harus kita ketahui terkait amalan yang wajib dan amalan sunah, yang memiliki perbedaan pahala di antara keduanya. Maka tentu saja, di bulan suci Ramadan, tidak hanya memperbanyak amal perbuatan sunah, namun juga harus lebih memprioritaskan amalan yang wajib. Amalan wajib merupakan suatu perbuatan yang harus disegerakan untuk dilakukan dan memiliki lebih besar pahala daripada amalan yang sunah. Inilah alasan, mengapa umat muslim harus memprioritaskan amalan yang wajib.

Contoh amalan sunah yang banyak dilakukan umat muslim di bulan suci Ramadan ini, seperti salat tarawih dan witir yang tentu pahalanya berlipat-lipat. Di samping itu, amalan yang wajib adalah mempelajari makna Al-Qur’an, beserta tafsirnya. Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca dan dihafalkan, namun juga harus dipahami maknanya. Dengan begitu, akan sampai kepada kita maksud dari setiap ayat yang terkandung di dalamnya.

Ini mengingatkan kepada kita, bahwa amalan yang wajib untuk dilaksanakan memiliki pahala yang berlipat ganda, daripada amalan yang sunah. Sesuai dengan maksud hukum dari wajib, yaitu suatu perbuatan yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala, namun jika ditinggalkan mendapatkan dosa. Sementara, hukum sunah dari segi makna adalah dikerjakan mendapatkan pahala ditinggalkan tidak mendapatkan dosa.

Maka, dengan mengetahui makna dari hukum wajib dan sunah, sepatutnya umat muslim lebih mengedepankan perbuatan yang wajib daripada perbuatan yang sunah. Hal ini, bukan berarti tidak diperbolehkan untuk melaksanakan amalan sunah, namun sebelum mengerjakan perkara yang sunah, sepantasnya melaksanakan amalan yang wajib terdahulu. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan, “Barang siapa mengerjakan sebuah kewajiban pada bulan ini (bulan suci Ramadan), niscaya ia akan mendapatkan pahala dari orang yang melaksanakan 70 kebaikan di muka bumi ini.”

Maka bisa kita bayangkan, satu kali kita mengkaji Al-Qur’an, sama dengan kita membaca Al-Qur’an selama 70 hari di bulan lain selain Ramadan. Sehingga sangat disayangkan apabila tidak melaksanakan sebuah kewajiban.

Kemudian juga dakwah, menyampaikan kebenaran Islam dan menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an. Dua hal tersebut juga mendapatkan pahala yang luar biasa, karena salah satu amalan yang wajib, sehingga akan dilipat gandakan setiap pahala yang didapat melalui perbuatan wajib yang kita lakukan.

Adapun hal penting, yang harus kita lakukan agar kita benar-benar bisa panen pahala di bulan Ramadan ini adalah meluruskan niat, ikhlaskan niat, melakukan semua amalan di bulan Ramadan semata-mata karena mengharapkan rida Allah Swt. Di samping itu, kita memiliki kemauan yang banyak tentu harus sesuai dengan syariat Allah, baik sesuai Al-Qur’an maupun Hadis.

Selain dari hal-hal yang telah disebutkan di atas, tentu saja amalan yang wajib harus lebih banyak kita laksanakan. Membangun kebiasaan dan produktivitas yang sesuai dengan syariat Islam. Sehingga momen Ramadan 1444 H ini akan meninggalkan kesan yang baik di dalam diri kita. Karena kita tidak bisa memprediksi di masa yang akan mendatang, apakah kita masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadan. Untuk itu, pertemuan yang hanya berlangsung selama sebulan dalam waktu satu tahun harus kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Teruslah muhasabah diri, agar selalu menjadi pribadi yang baik, yang tujuan utama atas segala perbuatannya diperuntukkan meraih rida Allah Swt.

Di samping itu, bukan berarti pada bulan-bulan yang lain tidak melakukan amalan kebaikan karena hanya ingin memanen pahala di bulan suci Ramadan saja. Maka ini adalah pemikiran yang salah. Jadikan bulan suci Ramadan sebagai waktu kita untuk memperkokoh keimanan dan ketakwaan, bukan hanya dari segi menjalankan puasa tanpa memanfaatkan waktu lain untuk melakukan amalan-amalan kebaikan. Jadikan momentum bulan Ramadan dengan terus mengingat bahwa ada banyak kebaikan yang akan datang kepada kita, apabila kita benar-benar dalam menjalankan ibadah Ramadan ini. Melakukan setiap perbuatan juga harus didasari dengan niat ikhlas untuk meraih rida Allah Swt.

Baca Juga: Addin 432: Membangun Pemuda Tangguh

  • Nama : Nurul Hidayat
  • Jurusan : Komunikasi dan Penyiaran Islam
  • Fakultas : Dakwah dan Komunikasi
  • Semester : VI (Enam)
  • No. Hp : 0822-1301-9488
  • Sosial Media : @_nrllhdyt

Editor: Fadillah Hanum

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles