Edisi 482: Tabayun Sebelum Menerima Informasi

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Hemmi Nabilah Hasibuan)

Penulis: Windari Syntia

Di zaman digital yang serba cepat ini, arus informasi datang tanpa henti. Setiap hari kita disuguhi kabar dari berbagai arah mulai dari media sosial, pesan grup, hingga unggahan anonim yang sering kali dikemas begitu meyakinkan. Namun, di tengah derasnya arus itu, umat Islam diajarkan satu prinsip penting yang kini terasa makin asing, yaitu tabayun atau memverifikasi kebenaran sebelum memercayai dan menyebarkan suatu informasi.

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk mudah percaya, apalagi menjadi penyebar kabar yang belum pasti kebenarannya. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman pada surah Al-Hujurat ayat 6. “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat di atas menjadi dasar moral dan sosial bagi setiap Muslim dalam menyikapi informasi yang datang.

Sayangnya, budaya tabayun kerap kali tergeser oleh dorongan emosional dan ego kebenaran diri. Begitu sebuah kabar sejalan dengan perasaan atau keyakinan, kita cenderung langsung memercayainya tanpa berpikir panjang. Di sinilah sebenarnya jebakan yang berbahaya itu muncul, bahwa kita tidak sedang mencari kebenaran, tetapi pembenaran. Padahal, kebenaran sejati tidak ditentukan oleh seberapa keras kita meyakininya, tetapi oleh bukti dan kejujuran dalam mencarinya.

Tabayun sebagai Benteng Moral

Tabayun bukan sekadar kewajiban intelektual semata, melainkan juga sebagai benteng moral kita sebagai seorang Muslim. Nabi Muhammad saw. pernah bersabda. “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan setiap yang didengarnya.” (HR. Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa penyebaran informasi tanpa verifikasi terlebih dahulu bisa membuat seseorang tergolong sebagai penyebar dusta meskipun ia tidak bermaksud demikian. Artinya, niat baik pun tidak cukup jika disertai dengan kelalaian dalam hal-hal yang mungkin sering kita anggap sepele.

Dalam konteks modern, tabayun juga menjadi prinsip etika bermedia. Sebelum menekan tombol “bagikan” atau “unggah ulang”, seorang Muslim sudah sepatutnya mengecek sumbernya terlebih dahulu, apakah kabar yang kita dapatkan tersebut memang benar adanya, bersifat netral, ada bukti yang mendukung, atau justru hanya opini yang dibalut emosi semata. Tabayun bukan berarti ragu pada segalanya, tetapi menunda kepercayaan sampai kebenaran itu dapat dipastikan.

Dampak Sosial dari Lalainya Tabayun

Kegagalan melakukan tabayun bukan hanya sekadar urusan pribadi, tetapi juga bisa menyangkut ranah sosial. Kabar bohong bisa memicu perpecahan, kebencian, hingga kekerasan. Banyak konflik di masyarakat berawal dari kesalahpahaman yang tumbuh subur dikarenakan berita palsu. Dalam skala kecil, mungkin hanya menimbulkan rasa curiga. Namun, dalam skala besar, hal ini akan mampu menghancurkan keharmonisan umat.

Ironisnya, sebagian orang merasa sedang berjuang di jalan kebenaran, padahal bisa saja kemungkinan yang disebarkan adalah sebuah ketidakbenaran. Hal ini bisa saja terjadi karena pengaplikasian tabayun yang tidak dilakukan. Jika setiap Muslim meneladani akhlak Rasulullah saw. yang berhati-hati dalam menyampaikan berita, tentu media sosial bisa menjadi ladang dakwah bagi kita, bukannya sebagai arena konflik. Dunia maya seharusnya bisa kita manfaatkan dengan menjadikannya sebagai sarana mempererat ukhuah, bukan tempat untuk saling menjatuhkan demi popularitas atau gengsi intelektual.

Menumbuhkan Sikap Tabayun di Era Digital

Untuk menumbuhkan budaya tabayun, perlu tiga hal yang harus kita ketahui, yaitu kesadaran, ketenangan, dan tanggung jawab. Kesadaran bahwa setiap informasi tidak selalu benar, ketenangan agar tidak terburu-buru menilai atau menyebarkan serta tanggung jawab bahwa setiap unggahan memiliki konsekuensi. Dunia digital tidak mengenal istilah “hapus dosa”, karena sekali kabar tersebar maka akan sulit dikendalikan.

Sebagai generasi terdidik, kita sebagai mahasiswa tentunya memiliki peran penting dalam hal ini. Tabayun bisa dimulai dari hal sesederhana memeriksa sumber berita terlebih dahulu, membaca lebih dari satu sudut pandang, serta berdiskusi dengan orang yang lebih paham dengan konteks informasi yang didapat. Kritis bukan berarti sinis, dan berhati-hati bukan berarti lambat. Justru dengan tabayun, kita menunjukkan kedewasaan berpikir dan integritas moral yang tinggi.

Lebih jauh lagi, tabayun dapat menjadi karakter yang membentuk wajah peradaban Islam yang damai dan lebih rasional. Ketika umat Islam dikenal sebagai masyarakat yang berhati-hati, tidak mudah terprovokasi, dan menjunjung kebenaran, maka citra Islam akan terangkat kembali sebagai agama ilmu dan akhlak. Namun sebaliknya, jika umat Islam ikut larut dalam budaya sensasi dan kabar palsu, maka nilai dakwah akan menjadi kabur dan kehilangan maknanya.

Tabayun sebagai Cermin Iman

Pada akhirnya, tabayun bukan hanya soal literasi digital, tetapi juga bukti keimanan. Orang yang beriman tentunya tidak akan mudah tergoda oleh sensasi dan provokasi. Ia sadar bahwa setiap kata yang disampaikan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Oleh karena itu, tabayun bukan sekadar sikap intelektual, melainkan juga ibadah yang melibatkan hati dan akal sekaligus.

Ketika umat Islam membiasakan tabayun, kita tidak hanya akan menjaga diri dari dosa, tetapi juga menjaga masyarakat dari perpecahan. Dunia boleh makin cepat, tetapi kecepatan tanpa kebenaran hanya akan menimbulkan kerusakan. Jika kita ingin membangun masyarakat yang damai dan beradab, maka langkah pertama bukanlah memperbanyak berita, tetapi memperbanyak kehati-hatian. Kebenaran tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari sebuah ketelitian. Lalu, tabayun adalah jalan untuk mengembalikan kemuliaan itu, bahwa dalam setiap kabar, ada tanggung jawab di hadapan Allah yang tidak bisa dihapus oleh sekadar klik dan bagikan.

Biodata

  • Nama: Windari Syntia
  • Jurusan: Komunikasi dan Penyiaran Islam
  • Fakultas: Dakwah dan Komunikasi
  • Semester: III
  • Instagram: @windarisyntia

Editor: Safna Dawita

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles