
Penulis: Putri Khairunniswa
Jika kita ditanya, ilmu agama apa yang menjadi hal paling penting untuk dipelajari kaum muslim? Bisa jadi rata-rata jawabannya adalah ilmu fikih, seperti salat, sedekah, puasa, dan ibadah lainnya. Pelajaran fikih merupakan pelajaran untuk menyempurnakan amal seorang muslim. Namun, apabila kita kembali bertanya, apa sebab diterimanya amal oleh Allah? Maka jawabannya adalah iman.
Mengapa jawabannya iman? Karena para ulama telah menegaskan bahwa iman merupakan hal yang utama sebelum amal. Artinya, amal yang dikerjakan sebanyak mungkin tidak akan memiliki nilai apabila dibangun dengan kepercayaan yang keliru. Bagaikan orang yang menegakkan rumah yang megah dan menawan, sementara tumpuan atau fondasinya tidak kuat. Apakah rumah tersebut dapat kita pastikan tidak runtuh? Demikian pula dengan persoalan ilmu agama apa yang wajib dipelajari terlebih dahulu dalam kehidupan seorang muslim, pastilah jawabannya adalah memperbaiki iman. Karena dengan iman yang benar, amal yang dikerjakan tidak akan sia-sia.
Baca Juga: Edisi 485: Hijab Bukan Sekadar Formalitas
Dalam konteks inilah esensi pentingnya belajar akidah yang benar. Salah satu bentuk keimanan adalah mengenal Allah. Mustahil kita beribadah, tetapi tidak mengenal siapa yang menciptakan kita. Salah satu cara mengenal Allah adalah dengan memahami sifat-sifat-Nya, bukan dengan membayang-bayangkan. Kini, kita melihat banyak orang sudah berani mengutarakan tentang Allah hanya dengan membaca terjemahan Al-Qur’an atau sekadar mendengar potongan tausiah di media sosial. Memang, kemudahan tersebut merupakan anugerah pada zaman sekarang. Akan tetapi, marilah kita melihat dampaknya.
Salah satu bentuk keimanan yang lurus ialah mengenal Allah sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan sunah. Akan tetapi, mengenal Allah bukanlah perkara sederhana. Banyak ayat yang apabila dipahami tanpa bimbingan ulama dapat menghasilkan keyakinan yang keliru. Salah satunya adalah kesalahan memahami ayat-ayat mutasyabihat secara zahir sehingga lahir pemahaman yang menyerupakan Allah.“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pengasih, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Thaha: 5)
Sebagian memaknakan ayat ini dengan arti bahwa Allah duduk di atas ‘Arsy. Sementara itu, ayat ini perlu dikaji dengan benar. Coba kita renungkan, Allah adalah pencipta segala sesuatu, termasuk ‘Arsy, tempat, langit, bumi, arah, ruang, kursi, dan segala-galanya. Allah telah ada sebelum diciptakan segala sesuatu. Artinya, Allah tidak membutuhkan apa pun. Jika disebutkan istiwa dalam Al-Qur’an, ulama menegaskan bahwa tidak boleh memaknainya sebagai duduk. Duduk berarti membutuhkan tubuh, ruang, tempat untuk diduduki, ukuran, dan mengalami perubahan, sedangkan Allah tidak membutuhkan apa pun. Maka, hal ini mustahil bagi Allah.
Sebagian ulama menakwil ayat ini dengan makna yang lebih sesuai dengan keagungan Allah, yakni menunjukkan kekuasaan dan kedudukan yang tinggi, bukan duduk secara fisik seperti makhluk. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya.“… Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Asy-Syura: 11)
Ayat ini menyampaikan landasan tauhid (keutuhan keesaan Allah) dan kekuasaan-Nya. Kalimat “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” adalah salah satu ayat landasan dalam akidah Islam yang mengungkapkan bahwa Allah Maha Sempurna dan mutlak berbeda dari makhluk ciptaan-Nya.
Al-Qur’an bukan hanya sebuah kitab yang dapat kita pahami hanya dengan membaca artinya saja. Banyak ayat yang tidak bisa dipahami hanya dengan logika. Di dalamnya terdapat ayat yang maknanya nyata, namun ada juga ayat yang memerlukan penafsiran oleh para ulama. Sebab itulah, terdapat sebuah istilah yang dikenal dengan sanad keilmuan, yaitu keilmuan yang bersambung dari Rasulullah hingga para ulama saat ini.
Sanad ini bukan sekadar pajangan nama, akan tetapi merupakan bukti bahwa ilmu telah diwariskan dengan tanggung jawab dan kehati-hatian. Maka, sejak zaman para sahabat, ilmu sudah diwariskan melalui metode talaqqi, yaitu dipelajari langsung dari Rasulullah. Metode ini masih diterapkan hingga hari ini agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami ilmu agama. Itulah mengapa dalam memahami, menafsirkan, dan mempelajari ilmu agama maupun ayat-ayat dalam Al-Qur’an harus memiliki guru.
Jangan pernah merasa cukup hanya dengan belajar autodidak dan pemahaman mandiri melalui teknologi canggih. Kemudahan tersebut dapat memberikan informasi, tetapi tetap tidak dapat menggantikan guru. Maka, carilah guru yang memiliki akhlak yang baik serta sanad keilmuan yang jelas agar kita tidak keliru dalam berkeyakinan.
Belajarlah dengan bertahap dan mendalami ilmu dengan sungguh-sungguh. Jangan segan mengucapkan kalimat, “Saya belum tahu,” ketika memang tidak tahu, karena sikap ini akan melindungi kita dari kesalahan dalam memahami ilmu agama. Marilah kita memperbaiki iman sebelum kita sibuk mengumpulkan amal. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita keimanan yang lurus dan membimbing kita untuk mencintai ilmu agama. Sebab, makin kokoh iman kita, akan diterima pula amal yang kita kerjakan.
Baca Juga: Edisi 484: Akhlak sebagai Fondasi Ilmu dalam Islam
Biodata Penulis:
- Nama: Putri Khairunniswa
- Prodi: Tadris Bahasa Indonesia
- Fakultas: Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
- Semester: VI
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

