Penulis: Fathurrahman
Pagi itu, langit di sekitar kawasan perlintasan rel kereta api tampak cerah. Suara klakson kendaraan bercampur dengan deru mesin kereta yang sesekali melintas. Di antara keramaian itu, sekelompok orang yang berbusana oranye dan atribut bertuliskan KAI tampak sibuk membagikan brosur kepada para pengendara yang melintas. Mereka bukan berbagi, melainkan menyebarkan pesan keselamatan.
Kegiatan itu bukan kegiatan biasa. Di dua titik perlintasan, Penjaga Jalan Lintasan (PJL) Wahidin dan PJL Megawati, sejumlah petugas dan relawan dari Komunitas Railfans Divre 1 Sumatera Utara, PT KAI Divre 1 SU, dan PT Railink bergandengan tangan melaksanakan Sosialisasi Keselamatan di Perlintasan Sebidang. Mereka turun langsung ke jalan, membagikan brosur, memberi edukasi, dan berbicara dengan pengguna jalan. Semua dilakukan dengan cara yang ramah dan sederhana.
Baca Juga: Kampung Nelayan Seberang, di Mana Laut Menjadi Ikatan Persaudaraan
Selain itu, ada semangat kemanusiaan yang mengalir di setiap senyum para relawan. Mereka tahu, di balik satu detik kelalaian, bisa ada nyawa yang melayang. Sosialisasi dilakukan dengan cara yang bersahabat, menyapa pengendara, membagikan brosur, hingga menempelkan stiker imbauan. Di sela-sela kegiatan, sesekali terdengar bunyi peluit tanda kereta akan melintas. Para petugas pun segera bergerak, memastikan semua pengguna jalan berhenti sementara.
“Tujuan kami adalah agar masyarakat lebih sadar. Banyak kecelakaan di perlintasan karena tergesa-gesa atau menganggap sepele,” ujar salah satu anggota komunitas Railfans dengan nada serius. Ia menambahkan, keselamatan di perlintasan sebidang bukan hanya tanggung jawab petugas KAI, tetapi juga pengguna jalan.
Kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa rel kereta bukan sekadar lintasan besi, tetapi juga jalur kehidupan. Satu kesalahan kecil, menembus palang saat sirine berbunyi atau tidak menengok kanan-kiri, bisa berakibat fatal.
Melalui spanduk besar bertuliskan “STOP!!! Kereta Api Akan Melintas”, para relawan berharap pesan keselamatan itu tertanam kuat di benak masyarakat. Apalagi, di sekitar perlintasan sering terlihat anak-anak sekolah, ibu rumah tangga, hingga pekerja yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
Menjelang siang, kegiatan sosialisasi perlahan usai. Para relawan dan petugas berkumpul di pinggir rel, berfoto bersama dengan latar kereta api yang baru saja melintas. Meski sederhana, kegiatan itu membawa makna besar: nyawa manusia lebih berharga dari kecepatan sesaat. Mereka pulang dengan wajah lega, membawa harapan bahwa mulai hari itu, lebih banyak orang akan berhenti sejenak, menoleh kanan dan kiri, sebelum menyeberang rel kereta api–karena di balik setiap perjalanan, ada keluarga yang menanti di rumah.
Baca Juga: Nikmatnya Suasana Sore Medan di Stadion Kebun Bunga
Editor: Fadillah Hanum

