
Penulis: Febri Nanda Monalisa
Surga adalah suatu tempat yang penuh dengan kenikmatan yang telah Allah siapkan bagi orang-orang yang bertakwa. Setiap muslim pasti menginginkan masuk ke surga Allah. Namun, tidak mudah meraihnya karena sangat banyak rintangannya. Allah telah menjanjikan surga bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya dalam Q.S Sad: 49-50, “Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sungguh, bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) tempat kembali yang terbaik (49), yaitu surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka (50).”
Surga dapat dimasuki bagi siapa saja yang telah memenuhi syarat atau ketentuan, dan dapat dimasuki dari pintu mana saja yang telah disediakan. Terdapat delapan pintu surga yang disediakan bagi orang-orang yang terpilih atau ahli ibadah yang telah mengerjakan kebaikan selama berada di dunia.
Pintu surga pertama, pintu solat yaitu bagi orang yang rajin solat. Kedua, pintu amal jariyah bagi orang yang semasa hidup di dunia merupakan ahli sedekah. Ketiga, pintu untuk ahli puasa untuk orang yang menghabiskan waktunya untuk lebih banyak berpuasa. Keempat, pintu jihad, orang yang semasa hidupnya selalu berjuang di jalan Allah. Kelima, pintu untuk orang yang berhaji. Keenam, pintu kanan yang dimasuki oleh orang-orang yang sempurna tawakalnya. Ketujuh, pintu berbakti kepada orang tua. Kedelapan, pintu taubat.
Salah satu pintu surga tersebut adalah Ar-Rayyan (puasa), yang disediakan bagi orang-orang yang berpuasa. Ar-Rayyan artinya puas atau segar. Menurut sebagian ulama, dinamakan Ar-Rayyan karena orang yang berpuasa tidak akan merasa haus lagi begitu memasuki pintu surga tersebut. Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Surga memiliki delapan pintu, di antaranya pintu tersebut dinamakan pintu Ar-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa” (H.R Bukhari No. 3257)
Pada hari kiamat, semua orang yang berpuasa akan dipanggil untuk masuk ke surga melalui pintu khusus. Ketika semua orang yang berpuasa sudah masuk, pintu itu pun ditutup. Dalam hadis muttafaq alaihi dari hadis Sahl Radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya di surga ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa di hari kiamat masuk dari pintu itu. Tidak dibolehkan seorang pun memasukinya selain mereka. Lalu dikatakan, ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Mereka pun bangkit, tidak ada seorang pun yang masuk kecuali dari mereka. Ketika mereka telah masuk, (pintunya) ditutup dan tidak ada seorang pun yang masuk lagi,” (H.R Bukhari, 1763. Muslim, 1947)
Dari keterangan hadis Rasulullah tersebut, menegaskan bahwa janji Allah benar adanya. Saat berpuasa orang-orang yang beriman harus menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan, minum, atau berjimak. Maka kelak Allah akan membalas semua itu dengan yang lebih baik. Rasulullah mengabarkan dalam hadis Qudsi, bahwa berpuasa itu adalah ibadah yang khas. “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali amalan puasa. (Puasa) itu untuk Allah dan Dia nanti yang akan membalasnya,” (H.R Bukhari Muslim)
Tetapi, untuk dapat memasuki pintu surga Ar-Rayyan seorang mukmin harus mempuasakan seluruh anggota badannya dari dosa, tidak boleh melakukan hal-hal yang dapat merusak puasanya, dan tidak melakukan hal yang sia-sia atau tidak bermanfaat. Inilah puasa yang diperintahkan Allah, bukan hanya sekedar menahan makan dan minum. Hingga bermanfaatlah puasanya dan tercapai ketakwaannya kepada Allah. “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Q.S Al-Baqarah: 183).
Namun, pada saat berpuasa kita masih saja mengikuti hawa nafsu, masi berbuat maksiat, tidak membaca Al-Qur’an, dan berbuat keburukan lainnya. Bagaimana bisa pintu surga Ar-Rayyan terbuka untuk kita? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengingatkan kita dalam sabdanya. ”Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi dia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga,” (HR. Ath-Thabrani)
Puasa yang tidak dicemari oleh dosa-dosa adalah puasa yang sempurna yang diharapkan dapat diterima di sisi-Nya sehingga kelak kita diberi balasan masuk surga melalui pintu Ar-Rayyan. Wallahu a’lam Bish-shawabi
Editor: Nurul Liza Nasution

