Dari Nikmat Menjadi Nikmat

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Nurul Sakinah)

Penulis: Ismu Nanda Innisa

Semua manusia diciptakan dengan dibekali nikmat bersamanya di dunia. Dan, semua nikmat-Nya akan menjadi pertanggungjawaban tersendiri. Allah Subhanahu wa ta’ala tidak membiarkan hamba-Nya terlunta-lunta, sampai orang yang dikatakan paling sengsara dalam hidupnya akan tetap menerima nikmat dari Rabb-nya. 

Diketahui hamba atau tidak, Allah ta’ala pasti memberikan kenikmatan untuk tiap hamba-Nya. Pada saatnya nanti tiap manusia akan ditanya tentang nikmat yang telah diberikan-Nya. Allah ta’ala menjelaskan dalam firmannya. “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan yang kamu megah-megahkan di dunia itu.” (QS. At-Takatsur : 8) 

Salah satu nikmat yang akan ditanya oleh Allah adalah nikmat kesehatan. Dijelaskan pada hadis, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Sesungguhnya nikmat yang akan ditanyakan kepada hamba dihari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan. “Bukankah kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. At-Tirmidzi) 

Nikmat kesehatan merupakan nikmat yang terbesar namun hal ini tidak banyak disadari oleh banyaknya manusia. Bahkan banyak yang menyia-nyiakan nikmat ini. Mengenai ini juga dijelaskan oleh Nabi pada Hadis Riwayat Al-Bukhari. “Ada dua nikmat yang manusia banyak tertipu yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” 

Pada zaman sekarang banyak sekali nikmat yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala namun tidak dipergunakan dengan sebaiknya. Salah satunya adalah nikmat harta. Nikmat ini dapat berujung petaka yaitu jika kita pergunakan harta tersebut untuk sesuatu yang dilarang oleh-Nya. Salah satunya adalah berfoya-foya untuk hal yang tidak membawa manfaat. Padahal Rasulullah telah mengatakan bahwa bagusnya keislaman seseorang apabila ia meninggalkan apa yang tidak berguna baginya. 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. “Di antara bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” (Hadis hasan, HR. At-Tirmidzi no. 2317 dan selainnya)

Kita juga telah diperintahkan oleh Allah untuk menyedekahkan sebahagian dari harta yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana firman Allah ta’ala. “Infakkanlah sebagian dari apa yang aku berikan kepada kalian sebelum kematian mendatangi kalian kemudian dia mengiba: “Ya Rabb, andai engkau menunda saja aku sedikit saja agar aku bisa bahasa dekat dan aku menjadi orang yang saleh.” (QS. Al Munafikun : 10) 

Mengenai sedekah ini dijelaskan oleh Rasulullah pada hadis dari Abu Malik Al-Asy’ari Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda. “Salat adalah nurun (cahaya), sedekah merupakan burhan (bukti), sabar itu dhiyaa’un (sinar panas), sementara Al-Quran bisa menjadi pembelamu dan sebaliknya menjadi penuntunmu.” (HR. Muslim 223)

Di dalam hadis ini terdapat kata burhan yang memiliki arti adalah sedekah karena sedekah merupakan bukti kejujuran iman seseorang. Artinya sedekah dan pemurah identik dengan sifat seorang mukmin sebaliknya, kikir dan bakhil terhadap apa yang dimiliki identik dengan sifat orang munafik. 

Sedekah memiliki banyak manfaat. Diantaranya sebagai kunci rezeki. Namun jangan sampai kita bersedekah dengan tujuan hanya mengharapkan balasan dunia semata. Allah berfirman. “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami akan berikan kepadanya sebagian keuntungan di dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syura : 20)

Dari nikmat yang telah Allah berikan dapat menjadi nikmat pula jika kita mempergunakan nikmat tersebut pada jalan yang benar. Terlebih lagi jika kita mampu mensyukuri apa yang telah Allah berikan. “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (Nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)

Dari ayat ini dapat kita simpulkan, jika nikmat yang telah diberi Allah kita syukuri maka akan berbuah nikmat pula. Bahkan Allah akan menambah kenikmatan tersebut. Seluruh nikmat yang ada pada diri kita saat ini adalah pemberian dari Allah Subhanahu wa ta’ala baik nikmat kecil maupun nikmat besar sekalipun. Bahkan Allah memberikan nikmat tanpa kita minta. Nikmat ini akan datang seakan-akan tak pernah henti datang kepada kita. 

Semoga kita menjadi hamba yang bahagia dengan banyak bersyukur kepada-Nya. Bersyukur dengan mengakui di dalam hati bahwa semua nikmat tersebut berasal dari Allah, seraya mengucapkan hamdalah dengan lisan. Dan mempergunakan nikmat tersebut dalam hal ketaatan dan kebaikan bukan dalam maksiat apalagi perbuatan menyimpang. 

Editor: Rindiani

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles