Ini Bukan Sekadar Bercanda, tetapi Masalah Adab

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. X @ziatuwel)

Penulis: Rika Wulandari

Memuliakan manusia lain adalah tugas semua manusia di muka bumi ini. Tidak terkecuali presiden, menteri, raja, ratu, atau bahkan pemuka agama sekalipun. Sungguh menyedihkan kala seorang manusia yang diharap menjadi khalifah di buminya Allah ini bisa menjaga hubungan baik dengan manusia, tetapi yang terjadi malah menjatuhkan harga diri umat lainnya. Pada dasarnya tidak ada candaan yang hanya disenangi oleh sebelah pihak, meskipun pengalihannya dengan diselimuti kalimat, “Hanya bercanda, kok!”

Baca Juga: Mematahkan Stigma Patriarki Melalui Pemberdayaan Wanita

Suatu candaan bisa dianggap sebagai lelucon apabila kedua belah pihak ikut tertawa. Jika tidak, candaan tersebut hanya terdengar sebagai olok-olokan di telinga orang sekitar. Merespons kejadian baru-baru ini di mana seorang publik figur yang dikenal dengan dakwahnya, mengucapkan kata-kata yang sangat tidak enak didengar dari ucapan selayaknya pendakwah.

Menyambangi seorang penjual es teh dengan kata makian dengan dalih candaan, jelas bukan hal yang etis untuk dilakukan. Bahkan saat bercanda pun, kata “Gobl*k” masih terdengar menyakitkan. Apalagi ketika ucapan tersebut dilontarkan di tengah-tengah kajian dakwah, di depan khalayak ramai, dan hanya tertuju kepada satu orang di depan mata.

Sorakan jemaah yang meminta bantuan sang publik figur untuk melariskan dagangan penjual es teh, malah dibalas dengan kalimat menyayat hati. Peluhnya mencari pembeli belum terbalas, tetapi yang diterimanya malah kalimat pedas dan tertawaan atas dirinya.

Dengan tegas, Allah Subhanahu wa taala (Swt.) pernah menerangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 11, sebagai peringatan, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”

Barangkali yang dimaksud sang publik figur benar-benar hanyalah candaan, Islam sudah mengajarkan bagaimana seharusnya adab dalam bercanda. Tidak semua hal bisa dijadikan lelucon, dan tidak semua lelucon bisa sesuai dengan keadaan. Islam tetap mengingatkan untuk tetap bercanda sesuai dengan porsinya dan tidak pernah mengajarkan penganutnya untuk merendahkan satu sama lain. Sebagaimana dalam hadits sahih riwat At-Tirmidzi, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang yang dituakan di antara kami.” Sebagai seorang penyiar yang juga dijadikan panutan masyarakat, harusnya bisa lebih memilah kalimat yang akan disampaikan untuk tetap saling menghargai. Tidak terkecuali kepada yang muda, atau kepada yang tetua.

Kejadian ini mengingatkan manusia untuk tetap menjaga lisan dan adab di tengah tingginya ilmu yang dimiliki. Adab ialah fondasi agar ilmu yang tertanam dilimpahi keberkahan oleh Allah Swt. Bercanda dalam Islam adalah bercanda yang tidak melukai, mempermalukan, dan selalu mengindahkan adab. Tanpa mengurangi rasa hormat, sebagai manusia yang juga harus menghormati satu sama lain, ada baiknya kita kembali mengintrospeksi diri dan selalu berbuat kebaikan kepada manusia lainnya.

Ini bukan sekadar bercanda, mari kembali memeriksa apa yang akan kita lontarkan. Karena akan sangat tidak lucu ketika kita tertawa dan berniat bercanda, tetapi lawan bicara kita tertegun dan menyimpan pedihnya dalam-dalam. Bukan tentang sebagai apa posisi kita, tetapi tentang memanusiakan manusia.

“Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Mengapa terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’” (Q.S. At-Taubah: 65).

Baca Juga: Bulan Syawal, Awal Baik dari Segala Keinginan

Editor        : Aqlia Matslina Fattah 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles