Bantuan Diulurkan Tanpa Hati, Kemanusiaan Berserak Tanpa Arti

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Tempo.co)

Penulis: Kauria Rawia

Ada banyak cara mempermalukan rakyat, tetapi menjatuhkan bantuan dari langit lalu membiarkan mereka memungut sisa-sisanya dari tanah, mungkin adalah cara yang paling efisien. Tidak perlu banyak tenaga, pikiran, dan tanpa memakai hati, cukup lempar dari helikopter dan biarkan rakyat berlutut mengaisnya. Selesai. Yang penting pemerintah hadir. Barangkali inilah babak terbaru dari teater kemanusiaan kita.

Kalau ini bukan satir kehidupan, apa lagi namanya? Lalu, ketika publik marah, jawaban mereka adalah kalimat-kalimat standar yang sudah dilatih. “Kami mengutamakan keselamatan.” Keselamatan siapa? Itu bukan keselamatan, tetapi penghinaan yang dibungkus dengan label “prosedur”.

Baca Juga: Sistem Pendidikan Tertinggal, Kualitas SDM Terjungkal

Ini hanyalah mekanisme, bukan empati, yang bergerak hanyalah mesin, bukan nurani, yang sibuk hanyalah helikopter, bukan pikiran, yang jatuh bukan hanya bantuan, tetapi logika, yang hancur bukan karung beras, melainkan kemanusiaan yang kita banggakan dalam pidato-pidato seremonial.

Sungguh luar biasa cara negara ini bekerja. Setelah itu pasti muncul kalimat yang lebih elit tetapi tak kalah klise. “Akan dievaluasi,” katanya. Seakan-akan nurani adalah standard operating procedure (SOP) yang harus dibahas dahulu dalam rapat, atau mungkin setelah rapat evaluasi, nurani bisa kembali dipasang dan diuji coba kembali? Betapa praktisnya negara ini.

Agaknya guru-guru di Indonesia punya tugas baru untuk membuat modul ajar berjudul Langkah-langkah Menyalurkan Bantuan Tanpa Merendahkan Rakyat. Lucu, ya? Modul yang mungkin dibuat meski negara ini sudah berkali-kali dilanda bencana. Lalu, rakyat? Mereka tetap datang karena lapar tidak bisa menunggu negara menemukan hatinya. Mereka tetap membungkuk karena tanah adalah tempat terakhir yang bisa mereka andalkan. Mereka tetap memunguti beras dengan bajunya karena martabat pun pada akhirnya kalah oleh perut yang kosong.

Padahal pertolongan itu bukan sekadar barang sampai, tetapi juga caranya, rasa hormat yang ikut dibawa, dan martabat yang seharusnya tidak ikut jatuh bersama beras yang berserakan. Bagaimana bisa mereka tidak sadar bahwa setiap butir beras yang tercampur tanah adalah potongan harga diri yang terinjak? Setiap warga yang membungkuk memunguti bantuan itu sedang memendam malu yang bahkan tidak ditanggung oleh pemberinya. Setiap video yang viral itu bukan hanya dokumentasi bencana alam, tetapi dokumentasi bencana empati.

Jika pemerintah sungguh ingin menolong, seharusnya hadirlah dengan hati, bukan hanya dengan helikopter, tapi juga pikiran, bukan dengan dalih prosedur, namun diiringi nurani. Pertolongan tanpa hati bukanlah bentuk rasa cinta, melainkan deklarasi terang-terangan bahwa kemanusiaan kita sedang turun harga.

Peristiwa ini sebagai bukti bahwa rakyat hanya penting ketika kamera menyala, dan martabat manusia tidak lebih bernilai daripada kecepatan distribusi. Pertanyaannya bukan lagi tentang “Kenapa bantuan diberikan seperti ini?” melainkan “Sejak kapan kita berhenti menjadi manusia?”

Ketika pertolongan diberikan tanpa hati, kemanusiaan tidak lagi punya arti, yang tersisa hanyalah negara yang sibuk bekerja, tetapi lupa belajar menjadi manusia. Dan rakyat dipaksa bersyukur atas bantuan yang diberikan tanpa nilai kemanusiaan. Apakah menjadi manusia merupakan pekerjaan paling sulit di republik ini? Jika kita terus diam, suatu hari nanti ketika bantuan kembali tiba tanpa hati, ketika kemanusiaan kembali kehilangan arti, kita tidak lagi layak menyalahkan siapa pun. Kecuali diri kita sendiri.

Baca Juga: Kritik Terbata, Demokrasi Terluka, Mana yang Katanya Merdeka

Editor: Safna Dawita

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles