Cermin Kehidupan

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto : Google
Foto : Google

Oleh: Lilin Karlina

Subuh menjelang, nampak seperti biasa terdengar suara kokok si jago ayam jantan yang bersahutan sebelum lantunan merdu azan berkumandang memecah sunyi desa ini. Seolah menjadi alarm setiap pagi yang tidak pernah berhenti. Suhu dingin itu menguji manusia yang terhanyut ke dalam mimpi-mimpi dibalik kain selimut tebal yang menutupi diri. Bangun lalu berbondong-bondong mendatangi masjid dan surau, atau tetap diam tak berkutik merasa terusik karena dikekang oleh kekeruhan hati. Hati yang penuh dengan kekesalan dan rasa benci lalu mendengkur kembali. Tak sadar akan kesibukan makhluk langit dan bumi yang tidak berhenti bertasbih seraya memuji kebesaran Allah yang Maha Esa.

Udara sejuk menyelimuti menambah suasana hening di pagi nan sunyi. Sebuah gedung yang sedang dalam proses pembangunan menambah keramaian di pagi buta dengan suara gemersik yang tiada henti dari terbit pajar hingga terbenam matahari. Para pekerja yang tiada henti mencucurkan keringat sebagai upaya mengais rezeki. Tubuh yang kekar, tangguh, sabar akan ujian menjadi panutan dalam kegigihan. Mata ini berkaca-kaca saat menyaksikan betapa pedihnya perjuangan para pemburu uang. Sebuah masjid berdiri kokoh, penuh dengan kesucian, di isi dengan orang-orang yang hendak melaksanakan perintah Allah menambah susana hangat di pagi hari. Menara masjid yang tinggi menjulang pun tak kalah eloknya, nampak sedap sekali dipandang mata dari kejauhan dengan lampu berwarna warni menambah keindahan dalam setiap pancarannya. Setiap mata memandangnya seakan membawa kesadaran bahwa kita tidak sepatutnya melalaikan akan kewajiban yaitu sholat. Tepat di atas menara itu, dua alat pengeras suara menghadap ke segala arah agar terdengar jelas ke segala penjuru desa, azan berkumandang telah tiba. Masjid Burhannuddin namanya, masjid yang selalu dipenuhi para jamaah yang hendak beribadah.

Pemandangan itu semakin mengagumkan ketika menyaksikan barisan-barisan panjang yang berjejer rapi di dalam bangunan masjid. Seolah barisan pasukan yang saling merapat dan kompak dengan seorang pemimpin sebagai Imam.  Mereka ruku’ dan sujud dengan kerendahan hati di hadapan Penciptanya. Taat mengikuti sang Imam. Gemuruh ucapan “aamiin” setelah membaca al-fatihah yang diucapkan bersamaan pasti menggetarkan hati orang-orang yang melintas di sana. Terkadang satu atau dua orang yang datang kemudian karena ketinggalan. Namun, tak sekejap mengganggu kekhusyukan yang lain, melainkan segera menyesuaikan dan menambah jumlah pasukan. Sebuah persatuan yang kokoh tak terkalahkan. Setiap subuh tak pernah luluh mereka taat melaksanakan perintah dengan patuh. Hal ini menyadarkanku bahwa kesibukan taklah berarti tanpa menjalankan kewajiban. Sempat aku berfikir kehidupan di kota itu tidak sama halnya dengan di desa. Tetapi, pemikiranku selama ini justru berbanding terbalik, kehidupan di kota justru lebih kompak dalam beribadah. Walaupun berbagai kesibukan yang melanda namun ketaatan dalam beribadah tidaklah dilupakan.

Dengan usia yang tua, tubuh yang semakin melemah tidak menjadi penghalang untuk melaksanakan kewajiban. Berdiri diantara barisan shaf pertama, membuatku terpukau dan merasa malu. Tampak mereka begitu khusyuk dalam setiap gerakan. Sesekali air mata mengalir saat mendengar dan menyimak bacaan merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibaca oleh sang Imam. Betapa menggetarkan jiwa setiap orang yang mendengarnya. Semua dinding kesombongan seolah runtuh hancur berkeping-keping menjadi tak berguna. Hati yang mati seakan dihidupkan kembali dengan cahaya Rabbi. Dengan tunduk patuh penuh keikhlasan, mereka melaksanakan tanpa beban, seolah sudah menjadi kebutuhan. Kebutuhan ruh yang terjaga dari segala macam kotoran hati. Ruh yang bersih dan  lapang cerminan hamba-hamba yang beriman.

Sementara tubuhku yang masih kuat dan dengan jarak rumah  yang hanya ditutup dengan dinding penghalang antara kos dan masjid saja, tidak selalu menyadarkanku untuk menginjakkan kaki di masjid itu. Sungguh ini menjadikanku sadar akan kelalaianku selama ini yaitu menginjakkan kaki di masjid itu. Angin pun menyaksikan dengan bertasbih lalu berhembus dengan lembut  menerpa barisan pepohonan yang rapi nan hijau, menggoyangkan pucuk-pucuk daun muda segar yang baru saja tumbuh. Nampak daun-daun muda segar itu bergoyang riang seolah berteriak syukur memuji kebesaran Dzat yang telah menciptakan dan memberi kehidupan kepada mereka. Tak sabar mereka menyambut terpaan cahaya mentari yang menembus dan menerobos melalui gumpalan-gumpalan embun putih yang khusyuk dalam tasbihnya. Cahaya itu seolah ingin bergabung dengan tasbih embun, namun embun tak mau terusik oleh siapapun kemudian perlahan pamit pergi. Tasbih malam sudah tidak terdengar lagi, kini berganti dengan tasbih burung-burung kecil yang berkicau sambil bertengger di atas pohon-pohon yang rindang dan bersiap mencari rezeki kehidupan. Tak pernah bosan, tak pernah segan. Sebuah ikhtiar yang menjadi pelajaran bagi orang-orang yang memikirkan.

Begitulah keadaan penduduk desa itu dalam keseharian. Kesadaran akan kebajikan sudah tertanam kuat dalam jiwa-jiwa mereka. Yang tua saling berkasih sayang terhadap yang muda, dan yang muda merasa hormat kepada yang lebih tua. Peraturan yang dijalankan karena sadar hal itu tidak lain ialah untuk kebaikan. Sebuah sistem masyarakat yang dibangun secara sempurna. Tak ada kezaliman, tak ada kemaksiatan. Semua ditata dengan berlandaskan keadilan dan kesejahteraan. Pemimpin dan para pengurus semua bekerja mengayomi penduduk dengan kesabaran. Memecahkan  setiap persoalan dengan keadilan dan kebijaksanaan. Mereka memimpin bukan karena haus akan jabatan, mereka andil dalam setiap persoalan umat bukan karena ingin terkenal. Melainkan karena mereka faham dan sadar betul akan sebuah tanggung jawab terhadap kemaslahatan umat. Saling menasihati dalam kesabaran dan mengingatkan dalam kebaikan. Karena menerapkan apa yang sudah diajarkan oleh sang utusan. Seperti halnya yang diterapkan oleh orang tua ketiga aku atau dengan sebutan lain ibu kos, di mana rumah yang ia naungi adalah sebagai tempat tinggalku saat ini. Berbagai pembicaraan yang dilontarkan dengan keluh kesah dari ucapan warga sekitar, membuat orang tua ketiga aku menerapkan peraturan-peraturan yang tak pernahku duga sebelumnya. Walaupun sedikit menjengkelkan namun itu semua demi kebaikanku.

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles