Apa Kabar Rektor UIN SU?

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Pemimpin Umum (Dok. Pribadi)

Penulis: Ahmad Fadhlan

Tepat pada 21 September 2022 lalu, di saat momen-momen khidmat Wisuda hybrid ke-78 di kampus I UIN SU, publik dikejutkan dengan isu penonaktifan Rektor UIN SU yang diserahkan Kemenag melalui Tim Inspektorat Kemenag RI. Kabarnya, penyerahan itu disaksikan oleh Khairunas, Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) UIN SU.

Melansir dari situs kemenag.go.id, Rektor UIN SU, SH, diberikan hukuman disiplin (hukdis) oleh Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas. Hukdis yang diberikan berupa penurunan jabatan setingkat lebih rendah selama 12 bulan. Meski begitu, SH tetap diberikan kesempatan melakukan upaya administratif selama 14 hari. Jika SH tidak mengajukan upaya administratif dalam rentang waktu yang telah ditentukan, atau mengajukan namun ditolak, hukdis yang dijatuhkan berlaku efektif pada hari ke-15.

Jika pada hari ke-15 hukdis telah efektif, maka jabatan SH turun satu tingkat menjadi Lektor Kepala. Jika menjadi Lektor Kepala, otomatis SH tidak memenuhi syarat sebagai Rektor UIN SU yang kemudian akan dinonaktifkan.

Sayangnya, sampai sekarang publik tidak tahu pasti alasan apa yang mendasari dikeluarkannya keputusan Menteri Agama itu. Para pejabat kampus yang diwawancarai reporter LPM Dinamika mengaku tidak tahu banyak hal mengenai SK penonaktifan itu, rata-rata jawabannya sama, yaitu tinggal menunggu waktu saja. Isu yang membuat suasana kampus cukup panas ini pun mendorong mahasiswa melakukan aksi di depan biro kampus pancing dengan tuntutan kembalikan kehormatan kampus UIN SU.

Kendati demikian, di masa kepemimpinannya selama hampir dua tahun ini, SH sudah banyak melakukan perubahan di UIN SU. Namun ironisnya, ujug-ujug mau menjadikan kampus berintegritas yang berlandaskan nilai-nilai Wahdatul ‘Ulum di dalam persepsi merdeka belajar, ternyata masih banyak “Pekerjaan rumah” yang harus diselesaikan. Mulai dari kelanjutan gedung mangkrak, kejelasan dana mahad al jamiah yang tidak jelas keberadaannya, alias diolah oleh rektor sebelumnya, penerimaan dosen BLU yang maladministratif, isu plagiasi karya ilmiah, Sema-U dan Dema-U yang terus hanya jadi wacana wakil rektor III, fasilitas kampus yang masih kurang memadai, sampai berita perusakan sekretariat LPM Dinamika yang sudah menjadi isu nasional pun tak kunjung mendapat respons konkret dari rektor.

Memang, melanjutkan kepemimpinan rektor sebelumnya yang tersandung kasus korupsi dan mencemari reputasi institusi bukanlah hal yang mudah. Hal yang sangat disayangkan lagi, menurut beberapa keterangan, orang-orang di baliknyalah yang bermain hingga seperti sekarang ini terjadi. Bermain apa? Penulis pun tidak tahu permainan seperti apa yang sedang dimainkan. Kita lihat saja, sampai berapa lama identitas oknum-oknum ini bertahan di balik ketiak rektor. Wajar saja rektor yang kena imbasnya karena tingkah bawahannya yang memanfaatkan situasi dan kondisi.

Lantas, sikap apa yang harus kita ambil terhadap kondisi tampuk kepemimpinan kampus yang seperti ini? Pertama, sebagai mahasiswa hal ini tentunya tidak boleh menjadi alasan terganggunya perkuliahan. Tugas pertama kita adalah tetap belajar. Kedua, jangan mudah percaya pada segala informasi, mari bertabayun terlebih dahulu.

Kita percaya bahwa kehidupan tak selalu berada di atas. Kadang di bawah, kadang di atas tinggi sekali, dan kadang juga di bawah rendah sekali. Itu semua memang subjektif, artinya dari hati kecil kita sendiri lah yang mengaminkan kondisi itu yang kemudian menjadi sugesti sendiri.

Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua, khususnya bagi pejabat-pejabat kampus, dan oknum-oknum yang pintar memanfaatkan situasi seperti ini.

Seperti inilah dinamika kampus yang tak pernah stabil, akan selalu ada saja naik turunnya, baik buruknya, dramanya, ceritanya, dan lain sebagainya. Tugas kita sebagai mahasiswa adalah belajar, mari kita kawal terus, jadilah mahasiswa yang peka akan isu-isu yang terjadi di sekitar. Karena tugas akhir mahasiswa juga mencari permasalahan, bukan?

Apa pun hasilnya nanti, tepatnya di Bulan Oktober, semoga itu menjadi keputusan yang terbaik untuk UIN SU, kampus kita tercinta. Terima kasih pak atas pengabdianmu selama ini untuk UIN SU. Teruntuk kita semua, ingat, setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya.

Reformasi Birokrasi! Hidup Mahasiswa!

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles