
Penulis: Afrianti Safitri
Salah satu penyakit paling mematikan dan dikhawatirkan di Indonesia adalah kanker serviks. Penyakit ini umumnya menyerang wanita dan menular melalui hubungan seksual. Itu sebabnya, Menteri Kesehatan mengupayakan keberadaan vaksin kanker serviks. Vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) dilakukan untuk mencegah wanita Indonesia terkena kanker serviks sejak usia dini. Sebab, kasus kanker serviks ini berbeda dengan Covid-19 yang jika sudah terdampak dapat divaksin. Orang yang sudah terkena kanker serviks tidak akan ada gunanya divaksin, karena sudah tidak berlaku.
Merujuk pada laman cnnindonesia.com, program vaksinasi HPV dimulai sejak 2021 lalu, namun hanya di beberapa daerah. Vaksin akan mulai diwajibkan tahun ini untuk seluruh wanita Indonesia. Fokus dari vaksin gratis ini adalah anak Sekolah Dasar usia 10–13 tahun, sedangkan untuk wanita di luar usia itu dapat melakukan vaksinasi secara mandiri dan berbayar di fasilitas kesehatan. Pelaksanaannya dimulai Agustus dan September bersamaan dengan kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
Niat baik dari Menkes ini tentu disambut antusias oleh seluruh masyarakat di Indonesia, terutama kaum wanita, bahkan sempat menjadi trending topic di Twitter. Namun, tetap saja masih ada oknum-oknum tertentu yang kontra dengan diwajibkannya vaksin HPV untuk anak usia dini. Salah satu ulasan singkat dari seorang pria di Twitter yang mengajak para orang tua untuk tolak vaksin HPV menjadi ramai diperbincangkan.
Dalam ulasannya dikatakan bahwa wanita yang terkena kanker serviks adalah wanita yang sudah aktif dalam berhubungan seksual, jadi tidak ada alasan anak usia dini harus mendapat vaksin, dan hanya akan membahayakan. Menarik kesimpulan bahwa vaksin ini hanya akal-akalan pihak farmasi yang memanfaatkan anak usia dini untuk meraup keuntungan.
Ulasan tersebut ternyata banyak dijadikan pertimbangan bagi banyak orang tua di kolom komentar. Namun, banyak juga pengguna remaja hingga dewasa yang menganggap bahwa itu hanyalah opini buruk karena citra pemerintah yang kurang baik. Lalu muncullah kalimat, “Yang divaksin yang punya rahim, yang ribut yang tidak punya rahim”.
Pada akhirnya pembahasan akan kembali lagi pada titik awalnya. Infeksi HPV yang menjadi penyebab kanker serviks hanya bisa ditularkan melalui hubungan seksual. Sedangkan keberadaan vaksin HPV adalah untuk mencegah, bukan menanggulangi. Itu sebabnya target vaksin kanker serviks ini adalah anak usia dini, untuk mencegah terinfeksi HPV sebelum melakukan hubungan seksual. Karena, jika sudah melakukan hubungan seksual dan terkena kanker serviks, maka vaksin tidak akan ada gunanya. Lalu, apakah target vaksin kanker serviks untuk anak usia dini membahayakan?

