
Penulis: Maulidya Asrianti
Klitih atau nglitih, kata yang berasal dari Bahasa Jawa ini merupakan sebutan untuk mereka si pembuat ulah yang kerap melukai seseorang, yang dalam hal ini adalah perbuatan disengaja. Mirisnya, klitih merupakan sebuah kelompok pelajar di bawah umur. Anak-anak di bawah umur ini kerap berkeliaran saat malam hari, dengan mengincar siapa saja yang dianggap musuh lalu melakukan penyerangan secara tiba-tiba.
Baru-baru saja, klitih ini kembali ramai diperbincangkan warganet, bahkan sampai menjadi trending topic di Twitter. Pasalnya, komplotan ini tiba-tiba saja melakukan aksi penyerangan terhadap seorang pelajar asal Kebumen yang bersekolah di Yogyakarta. Dilansir dari kompas.com, pada Minggu, 3 April 2022, korban bersama temannya sedang mencari makan untuk sahur pada pukul 02.10 WIB.
Saat kejadian berlangsung, mereka yang beranggotakan lima orang mulai memancing korban dengan menipiskan jarak motor. Terjadi aksi kejar-kejaran, pelaku pun memutar balik menunggu korban lalu menghantamkan gir ke kepala korban. Nahas, korban meninggal.
Menyikapi hal ini, akun Twitter @PoldaJogja pun membuat twit sebagai bentuk imbauan kepada masyarakat. Untuk lebih peduli terhadap keberadaan anak jika waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Karena biasanya mereka melakukan penyerangan saat dini hari.
Fenomena klitih ini terjadi di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Dilansir dari kompas.com, tercatat sebanyak 43 kasus kekerasan sejak 2016. Tidak ada tindakan hukum terhadap pelaku karena masih di bawah umur. Anak-anak tersebut dikembalikan ke orang tuanya.
Pada awalnya, arti kata klitih tidak menjurus kepada hal negatif. Klitih sendiri memiliki arti kelayapan. Namun, sekarang kata ini identik dengan kekerasan. Motif penyerangan yang dilakukan anak-anak di bawah umur ini berawal dari permusuhan antar kelompok sekolah, aksi saling balas dendam.
Sampai saat ini, sudah beragam motif penyerangan yang dilakukan, salah satunya yaitu menjadi syarat agar diterima menjadi anggota. Mereka tidak mencuri, merampok, ataupun melakukan perampasan. Mereka melakukannya demi kepuasan diri.
Di umur mereka yang menginjak dewasa ini, rasa pengetahuan akan jati dirinya semakin besar. Di sinilah pentingnya keberadaan keluarga. Perhatian yang penuh akan kasih sayang dan keharmonisan keluarga sangat diperlukan. Sudah sepantasnya sebagai anggota keluarga memantau pergaulan anak. Tidak bermaksud mengekang, melainkan menjaga anak tersebut.

