Salah Langkah, TikTok Dapat Menjadi Racun 

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Bendahara Umum
(Dok. Pribadi)

Penulis : Karmila Sinaga

Virus Corona yang merebak di Indonesia sejak 2020 lalu, mengakibatkan masyarakat masih harus melakukan segala aktivitasnya dari rumah, mulai dari bekerja hingga sekolah. Banyak kebiasaan-kebiasaan baru yang dilakukan masyarakat selama di rumah saja untuk menghilangkan rasa bosan, stres, dan tekanan lainnya. 

Hadirnya aplikasi TikTok menjadi hiburan bagi masyarakat sekaligus tempat mengekspresikan diri di tengah kacaunya dunia. Aplikasi TikTok yang diluncurkan pada september 2016 lalu, merupakan aplikasi nomor satu yang paling banyak diunduh masyarakat. Dilansir dari laman Kompas.com dari data statistik per Februari 2021, pengguna aktif harian TikTok secara global diperkirakan mencapai 35, 28 juta pengguna.

Seiring berjalannya waktu, aktivitas di luar rumah mulai aktif kembali dengan adaptasi kebiasaan baru yang berhubungan dengan protokol kesehatan. Terciptanya regulasi baru tidak membuat masyarakat untuk melupakan kebiasaannya ketika beraktivitas dari rumah, yakni bermain TikTok. 

TikTok sebagai media eksistensi, kini tidak hanya digunakan di saat stres atau bosan tetapi sebagai tempat mencari informasi. Segala informasi yang masyarakat butuhkan bisa didapatkan di TikTok, misalnya petunjuk pembuatan skripsi. Terciptanya regulasi baru pada platform ini ditunjukkan dengan banyaknya individu mencari peluang dengan kreativitasnya untuk menjadi seorang influencer sebagai cara menunjukkan eksistensi diri di dunia sosial. Hasil karya mereka pun dapat dinikmati para pengguna lainnya di seluruh dunia. 

Dilansir dari laman Kumparan, aplikasi TikTok bisa menyuguhkan berbagai konten yang dapat bermanfaat untuk masyarakat karena banyaknya edukasi baru dan luas yang didapatkan. Berkembangnya inovasi dan teknologi seseorang, maka timbul semangat berkompetisi dan tampil di depan umum serta menambah teman dan penghasilan. 

Dengan jumlah pengguna yang sangat banyak dan manfaat yang dihasilkan dari penggunaan TikTok, aplikasi ini juga menjadi sorotan publik serta menuai kritikan pedas dari masyarakat. Dari laman Kumparan, konten negatif yang diberikan TikTok juga sangat banyak sehingga dapat berdampak pada pemborosan waktu, timbulnya hoaks. Aplikasi yang belum ramah kepada kalangan anak di bawah umur dapat menjadi sebuah media perundungan dan sarkasme. Konten hedonisme juga dengan mudah ditemukan di aplikasi ini. 

Secara tidak langsung, TikTok juga menjadi penyebab generasi remaja khususnya perempuan untuk bergoyang, tanpa kenal malu. Mereka bisa berjoget di tempat tertutup maupun terbuka sesuka hati mereka yang tentunya dapat merusak moral. TikTok juga dijadikan sebagai media untuk eksis dan memperlihatkan perbedaan status di masyarakat, yang tentunya dapat menimbulkan kecemburuan sosial kepada beberapa orang.  

Penulis menyimpulkan, TikTok merupakan platform digital yang sedang naik daun dewasa ini. Aplikasi ini memberikan dampak positif maupun negatif dalam kehidupan sosial. Meskipun masyarakat berpikir lebih banyak dampak negatif dari pada dampak positif dari penggunaan TikTok ini, tetapi kita tidak bisa menyalahkan perkembangan teknologi maupun tempat masyarakat berkreativitas di platform ini. Mari kita bijak dalam menggunakan teknologi dan memilih konten untuk konsumsi pribadi dengan lebih baik lagi.   

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles