
Penulis: Novilya Musfira Bahri
Piala Dunia 2026 baru saja usai. Spanyol juara setelah mengalahkan Argentina di final yang dramatis. Selama lebih dari sebulan, jutaan orang di Indonesia ikut euforia, nonton bareng, taruhan kecil-kecilan, debat panas di warung kopi, dan bergadang hingga larut malam mendukung tim favorit. Namun, sekarang setelah pesta bola selesai, muncul laporan yang mengkhawatirkan di banyak tempat, yaitu kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) meningkat.
Ini bukan kebetulan semata. Fenomena ini sudah sering terlihat di berbagai negara saat ajang olahraga besar seperti Piala Dunia berlangsung atau usai. Stres emosional, alkohol yang mengalir deras, keuangan rumah tangga yang jebol karena taruhan, dan frustrasi ketika tim kesayangan kalah sering menjadi pemicu ledakan amarah di dalam rumah. Bahkan, yang menjadi korban utama adalah istri dan anak-anak.
Baca Juga: Navigasi Lapangan: Tantangan dan Tip Nyata untuk Sesama Jurnalis Muda
Menurut berbagai studi internasional, selama Piala Dunia, laporan kekerasan terhadap pasangan intim bisa naik secara signifikan, terutama pada hari pertandingan tim favorit atau saat mengalami kekalahan telak. Di Indonesia, meski data resmi pasca-Piala Dunia 2026 belum lengkap, pola serupa terlihat dari laporan Komnas Perempuan dan lembaga bantuan yang menyebut adanya peningkatan panggilan darurat terkait KDRT pada minggu-minggu setelah final. Banyak suami yang selama turnamen menjadi “raja di depan TV”, pulang dengan muka masam, lalu meluapkan kekesalan kepada keluarga.
Sepak bola memang olahraga yang penuh emosi, tetapi di masyarakat patriarkal seperti Indonesia, maskulinitas toksik sering bercampur dengan fanatisme. Pria merasa “harga dirinya” dipertaruhkan saat tim kalah. Kalau tim menang, euforia berlanjut dengan minum-minum. Kalau kalah, mereka mencari pelampiasan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman malah menjadi arena pertandingan berikutnya. Istri yang selama ini menahan diri karena suami sedang “asyik bola” tiba-tiba menjadi sasaran pukulan, makian, atau kontrol ekonomi yang lebih ketat.
Fenomena ini makin parah karena faktor ekonomi. Banyak keluarga miskin atau menengah ke bawah yang “berinvestasi” untuk nonton, membeli paket TV berbayar, pulsa, makanan ringan, bahkan meminjam uang untuk taruhan. Setelah Piala Dunia selesai, tagihan datang, utang menumpuk, dan stres finansial memicu konflik. Alkohol yang sering menyertai acara nonton bareng juga memperburuk situasi karena menurunkan kontrol diri. Hasilnya? Kekerasan fisik, psikis, bahkan seksual di balik pintu rumah.
Pemerintah, PSSI, dan media punya andil di sini. Selama Piala Dunia, kampanye nonton bola yang sehat memang ada, tetapi masih minim. Iklan alkohol dan taruhan online justru marak. Edukasi tentang dampak psikologis ajang besar terhadap rumah tangga hampir tidak ada. Akibatnya, masyarakat dibiarkan hanyut dalam euforia sesaat tanpa persiapan menghadapi hangover emosional setelahnya.
KDRT pasca-Piala Dunia bukan sekadar “efek samping” acara olahraga, tetapi kesalahan kolektif kita dalam membangun budaya maskulinitas yang sehat. Pria harus diajarkan bahwa mendukung tim bola tidak boleh mengorbankan keluarga. Kalah atau menang di lapangan hijau bukan ukuran kejantanan di rumah. Perempuan bukan pelampiasan kekesalan.
Solusinya? Pertama, lembaga seperti Komnas Perempuan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) harus proaktif memantau dan memublikasikan data KDRT pasca-ajang besar. Kedua, kampanye masif pra- dan pasca-Piala Dunia tentang manajemen emosi dan keuangan keluarga. Ketiga, perkuat layanan perlindungan korban, hotline 24 jam, rumah aman, dan proses hukum yang cepat. Keempat, dorong peran ayah dan suami sebagai pelindung, bukan penguasa rumah tangga.
Euforia Piala Dunia memang indah, tetapi jangan biarkan ia meninggalkan luka di rumah-rumah. Kekerasan dalam rumah tangga adalah kekalahan sesungguhnya bagi peradaban kita. Kalau kita bangga menjadi bangsa pecinta bola, kita juga harus bangga menjadi bangsa yang melindungi perempuan dan anak di dalam rumah sendiri. Sudah saatnya kita menendang keluar budaya diam dan pembenaran terhadap KDRT.
Baca Juga: Normalisasi LGBT: Ketika yang Dahulu Dianggap Menyimpang, Kini Terasa Biasa
Editor: Tengku Wafa’ Alifah

