
Penulis: Maulidya Asrianti
Setiap hari berbagai konten baru muncul ke media sosial. Kita tidak bisa menyalahkan seorang konten kreator atas kontennya, tapi setidaknya kita bisa menilai mana konten yang baik dan tidak. Konten nyeleneh pun kembali muncul. Beberapa waktu lalu, netizen Indonesia digemparkan dengan video yang menampilkan seorang wanita lansia sedang melakukan aksi mandi lumpur.
Nenek tersebut melakukan aksi hingga berjam-jam lamanya, bahkan tubuhnya pun sampai gemetar karena menggigil. Bukan sekali dua kali aksi ini dilakukan. Pemilik akun beberapa kali melakukan aksi tersebut lewat siaran langsung di TikTok. Video tersebut pun viral dan mengundang simpati sekaligus kecaman dari netizen.
Usut punya usut, aksi tersebut dilakukan demi mengumpulkan pundi-pundi uang yang kini dikenal sebagai fenomena “mengemis online”. Diketahui pada aplikasi tersebut, ketika pemilik akun melalukan siaran langsung lalu penonton memberikan gift, maka si pemilik akun bisa menukarkannya menjadi rupiah. Gift-nya pun bermacam-macam, paling tinggi bisa mencapai jutaan rupiah.
Netizen yang iba pun memberikan like dan gift pada siaran langsung tersebut. Siapa yang tidak iba ketika seorang nenek di usianya yang sudah senja harus melakukan aksi nyeleneh. Pun kita tidak bisa melarang orang untuk memberikan simpatinya. Spekulasi bermunculan, netizen Indonesia mulai menganggap ini merupakan praktik eksploitasi.
Karena ramai dibincangkan, polisi daerah tempat pemilik akun tersebut berasal yakni Nusa Tenggara Barat (NTB) memeriksa nenek juga si pemilik akun tersebut. Dilansir dari merdeka.com, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa nenek yang diketahui namanya Raimin itu, tidak bisa dikategorikan sebagai korban karena ia bagian dari para pembuat konten. Adapun alasan nenek Raimin mau melakukan hal tersebut karena kebutuhan finansial.
Miris sebenarnya melihat hal seperti ini. Banyak kejadian baru yang timbul dari fenomena ini dan menyebabkan beberapa kebiasaan buruk mulai bermunculan, di antaranya terbiasa meminta belas kasihan, memanfaatkan simpati orang lain, hingga berbohong.
Dengan memanfaatkan belas kasihan orang lain, pelaku akan membiasakan meminta-minta di dalam hidupnya. Dengan ini pula, pelaku akan terus melakukan kebohongan dan berpikir bahwa dengan semudah itu untuk mendapatkan uang. Tentu ini akan membuat pelaku menjadi orang pemalas selamanya.
Tidak hanya berdampak pada pribadi seseorang, hal ini justru merugikan masyarakat. Lansia bukan lagi waktunya untuk bekerja, apalagi dengan cara eksploitasi. Mereka ini termasuk salah satu bagian yang mendapat jaminan, perlindungan serta layanan dari pemerintah. Bahkan Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia (RI) sendiri memiliki program untuk menyejahterakan hidup lansia.
Selain itu, dengan viralnya hal-hal seperti ini, tidak menutup kemungkinan akan berdampak pada konten kreator lain. Mereka yang memang bersungguh-sungguh untuk menjadi konten kreator, kalah perhatian dengan mereka yang hanya mencari belas kasihan dan sensasi.
Akhir kata, memang tidak ada salahnya kita memberi, tapi alangkah baiknya jika kita berpikir dua kali untuk melakukannya pada orang seperti itu. Dengan begitu, kita bisa membuat pelaku berhenti mengemis sehingga tidak ada lagi modus-modus mengemis. Dengan adanya sanksi sosial, kita semua berharap orang-orang yang memutuskan untuk melakukan hal tidak baik, akan berpikir dua kali ketika ingin melakukannya.

