Fenomena ‘Mokel’ di Bulan Ramadan, Tren yang Menggiurkan atau Mengkhawatirkan?

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. https://www.liputan6.com/)

Penulis: Ummy Syafitri

Mokel adalah istilah gaul populer di Indonesia, terutama selama Ramadan. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa, ‘mokel’ yang berarti ‘membatalkan’ atau ‘tidak melanjutkan’. Dilansir dari laman Liputan6.com, dalam konteks puasa Ramadan, ‘mokel’  didefinisikan sebagai tindakan membatalkan puasa sebelum waktunya, biasanya dilakukan sembunyi-sembunyi. Istilah ini umumnya digunakan untuk menggambarkan situasi di mana seseorang tak mampu menahan lapar atau haus selama berpuasa, sehingga memutuskan makan atau minum tanpa sepengetahuan orang lain. Istilah ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama di media sosial, untuk menggambarkan seseorang yang sengaja melanggar puasa.

Meskipun ‘mokel’ terdengar santai, penting memahami bahwa membatalkan puasa tanpa uzur syar’i (alasan yang dibenarkan syariat Islam) dilarang dalam Islam. Seperti dalam dalil Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 187:

“Dan makanlah dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”

Di media sosial, tagar #mokel sering muncul selama Ramadan, biasanya disertai cerita lucu atau pengalaman pribadi terkait pembatalan puasa. Ini menunjukkan istilah tersebut telah menjadi bagian budaya pop dan cara orang berbagi pengalaman selama puasa.  Saat ini, banyak masyarakat, terutama anak muda, mengikuti tren ‘mokel’ dengan tagar #mokelwithyou.

Tren ini, membuat banyak anak muda khususnya mahasiswa, tergiur membatalkan puasa karena fear of missing out (FOMO).  Akibatnya, banyak mahasiswa menghabiskan waktu di kafe dan tempat tongkrongan lain, lalu mengunggahnya di media sosial agar terlihat keren. Mereka terang-terangan menyatakan tidak berpuasa tanpa merasa bersalah.

Mengapa banyak anak muda yang mudah terjerat tren ini hanya karena FOMO? Apakah hanya karena candaan atau karena kesadaran?

Menurut penulis, tren ini disebabkan oleh relasi dan berbagai pengaruh media sosial seperti Instagram dan TikTok.  Anak muda sangat mudah terjerat FOMO, mulai dari bercanda hingga benar-benar melakukannya. Awalnya diam-diam, kini mereka berani melakukannya terang-terangan dan memamerkannya di media sosial.

Jika kebiasaan ini berlanjut, nilai spiritual puasa akan berkurang. Secara spiritual, ‘mokel’ dapat dianggap sebagai pelemahan niat dan komitmen dalam menjalankan ibadah puasa. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran, pengendalian diri, dan kedisiplinan.  Dengan ‘mokel’, mereka kehilangan kesempatan mengembangkan kualitas spiritual ini.

Selain itu, secara psikologis ‘mokel’ bisa menimbulkan rasa bersalah dan kecewa. Ini terutama terjadi jika dilakukan diam-diam dan berpura-pura masih berpuasa di depan orang lain. Ketidakjujuran ini mengganggu ketenangan batin dan mengurangi makna spiritual puasa.

Kebiasaan ‘mokel’ di bulan Ramadan dapat dihindari dengan mempersiapkan kondisi diri, menjaga pola makan, mengisi waktu luang dengan ibadah dan aktivitas positif lainnya. Selain itu, mencari lingkungan pertemanan yang baik akan membantu anda agar tidak terjerumus ke dalam FOMO yang buruk.

Pada akhirnya, Ramadan adalah momentum untuk memperkuat ikatan spiritual dan sosial. Dengan menjaga dan merawat relasi pertemanan yang sehat, kita dapat melewati tren-tren yang kurang bermanfaat dan fokus pada esensi ibadah serta kebersamaan yang lebih bermakna.

Editor: Aqlia Matslina Fattah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles