
Penulis: Wayugiarso
Monumen Nasional (Monas) pada 1 Mei 2026 kemarin bukan sekadar menjadi titik kumpul massa dalam balutan warna-warni bendera serikat, melainkan menjadi panggung teatrikal politik yang sangat matang. Di bawah terik matahari Jakarta yang menyengat, tepat pada hari Jumat yang sakral bagi banyak orang, perayaan Hari Buruh Nasional (May Day) tahun ini menyuguhkan sebuah anomali visual yang menarik perhatian masyarakat luas. Presiden ke-8 RI, Prabowo Subianto, melakukan aksi yang tidak lazim dalam pakem protokoler kepresidenan. Ia menanggalkan baju safarinya di depan ribuan buruh.
Kedatangan Prabowo yang disambut dentuman musik ska dari Tipe-X lewat lagu “Percayalah Padaku” seolah menjadi skor film yang mendukung narasi “persatuan”. Saat ia mulai berjoget dengan gerakan silat khasnya, sebuah koreografi yang menjadi memori kolektif sejak kampanye 2024, keriuhan pecah. Namun, puncaknya adalah ketika sang presiden mulai melepas satu per satu kancing kemeja safari cokelatnya.
Baca Juga: Amerika dan Dominasi Global, Realitas atau Sekadar Citra yang Dibentuk Media?
Bagi banyak orang, ini mungkin hanya dianggap sebagai aksi spontan seorang pemimpin yang kepanasan. Namun, bagi kita sebagai mahasiswa yang terbiasa membedah realitas sosial, ada makna yang jauh lebih dalam untuk digali.
Dalam lintasan sejarah politik Indonesia, baju safari sering kali diposisikan sebagai representasi wibawa, kekakuan protokoler, dan simbol status elite. Safari adalah seragam yang menjaga jarak antara penguasa yang duduk di kursi empuk dengan rakyat yang berdiri di jalanan. Ketika Prabowo melepas pakaian itu lalu melemparkannya ke arah massa, ia seolah-olah sedang secara simbolis “membuang” sekat-sekat elitisme tersebut. Ia sedang melakukan dekonstruksi terhadap citra penguasa yang kaku.
Kemudian, yang tersisa adalah sebuah kaos dalam hitam berkerah V. Secara semiotika, kaos dalam adalah pakaian paling jujur yang dimiliki seorang manusia. Ia adalah lapisan yang menempel langsung pada kulit, menyerap keringat, dan biasanya disembunyikan. Dengan tampil hanya mengenakan kaos dalam di hadapan ribuan pasang mata, pesan visual yang dikirimkan sangat kuat: “Aku adalah bagian dari kalian yang berpeluh di lapangan ini.” Ini adalah upaya untuk menunjukkan kerentanan sekaligus kekuatan, sebuah pesan bahwa pemimpin tidak takut untuk terlihat “apa adanya” demi merangkul rakyat pekerja.
Namun, narasi di Monas tidak hanya berhenti pada soal pakaian. Prabowo melanjutkan aksinya dengan berbagi kaos dan paket sembako kepada para buruh. Di sini, kita melihat pergeseran dari sekadar simbolisme visual menuju aksi afektif yang menyentuh urusan perut. Pembagian sembako ini menjadi bentuk perhatian instan yang memberikan bantuan nyata di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. Kehadirannya di atas mobil Garuda Maung, bersalaman dengan tangan-tangan kasar para pekerja, adalah potret kepemimpinan yang mengedepankan pendekatan personal dan emosional.
Sebagai mahasiswa yang kritis, kita tentu harus melihat fenomena ini melampaui euforia panggung. Momen di Monas ini secara tidak langsung telah menetapkan standar yang tinggi bagi pemerintahan Prabowo ke depan. Publik, terutama kaum buruh, tidak hanya menanti “baju” atau “topi” yang dilemparkan dari panggung. Mereka menanti kebijakan yang memiliki daya tekan yang sama kuatnya dengan lemparan tersebut. Sembako dan kaos adalah solusi jangka pendek yang bersifat karitatif. Namun, paket kebijakan yang sesungguhnya mereka nantikan adalah regulasi yang berpihak pada kesejahteraan pekerja, perlindungan hak-hak buruh, hingga upah yang layak di tengah tuntutan hidup yang makin mencekik.
Paradoks muncul ketika lagu perjuangan seperti “Internasionale” diputar dalam sebuah acara yang juga melibatkan pembagian paket bantuan dari pemerintah. Hal ini menunjukkan bagaimana pemerintah berusaha melakukan harmonisasi antara semangat perlawanan buruh dan pengayoman negara. Tantangan sesungguhnya bagi Presiden Prabowo sekarang bukanlah bagaimana cara membuat massa berteriak riuh di Monas, melainkan bagaimana memastikan bahwa keringat yang ia tunjukkan melalui kaos dalam hitam itu bertransformasi menjadi kebijakan yang konkret dan substansial.
Kita tidak boleh lupa bahwa politik adalah seni mengelola harapan. Aksi pada May Day 2026 ini telah menanamkan harapan yang besar di hati para pekerja. Keberanian untuk tampil “telanjang” dari atribut elitisme harus dibarengi dengan keberanian untuk melawan kepentingan-kepentingan yang merugikan kaum buruh dalam ruang-ruang gelap pengambilan kebijakan di istana.
Kesimpulannya, apa yang terjadi di Monas kemarin adalah sebuah kemenangan dalam hal komunikasi publik. Prabowo berhasil mencuri perhatian dengan gaya populisme yang segar dan tak berjarak. Namun, sebagai kaum terpelajar, tugas kita adalah mengawal agar “kaos dalam hitam” itu tidak hanya menjadi kostum panggung, melainkan simbol dari kerja keras yang nyata untuk memastikan piring-piring di meja makan setiap buruh di Indonesia tetap terisi, bukan hanya karena bantuan sembako sesaat, melainkan karena sistem ekonomi yang adil dan beradab. Perjalanan dari atas panggung Monas menuju kemakmuran buruh yang sejati masih sangat panjang, dan jabat tangan hangat di atas Garuda Maung hanyalah langkah awal yang harus dibuktikan konsistensinya.
Baca Juga: Daycare Little Aresha, Ketika Tempat Penitipan Anak Menjadi Ruang Trauma
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

