
Penulis: Windy Sakila Nazwa
Sering kali kita mendengar sebutan hedonisme. Apalagi sebutan tersebut di tahun ini seakan-akan familier di telinga masyarakat Indonesia. Hedonisme sendiri merupakan gaya hidup yang berlebih. Sama halnya dengan pandangan hidup segelintir orang yang beranggapan bahwa ia akan merasakan bahagia dengan mencari kebahagian sebanyak mungkin dan menghindari perasaan yang sekiranya membuat ia sakit. Melakukan segala cara untuk terlihat bahagia dengan memperlihatkan kekayaan yang dipaksa seakan-akan ia memiliki segalanya.
Gaya hidup konsumtif yang bersifat kebiasaan yang fokusnya untuk memenuhi hasrat, kenikmatan pribadi tanpa memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Istilahnya, lakukan saja sesuka hati, urusan berdampak belakangan. Orang-orang yang memiliki gaya hidup ini cenderung memiliki sifat ria, dengan memamerkan kebahagiaan yang berlebih kepada khalayak. Biasanya, hedonisme ini erat kaitannya dengan kekayaan, kebebasan, dan materialis.
Beberapa orang menjadikann hedonisme ini sebagai kebiasaan yang rasanya sulit untuk
dilepaskan. Orang yang hedon cenderung memiliki beberapa sifat. Pertama, ia konsumtif, artinya jika ia menginginkan suatu barang tidak berpikir apakah barang tersebut berguna atau hanya sebagai ajang pamer. Kedua, dalam berteman banyak yang diseleksi, hal ini terjadi karena orang hedon mengutamakan teman yang sekirannya membuat keuntungan dan sepaham. Ketiga, segalanya harus mewah, orang hedon hanya ingin hidup bermewah mewahan.
Namun, ada dua golongan orang yang selalu terlihat mewah. Golongan pertama ia mampu secara finansial dan material. Golongan kedua, ia memaksakan kehendak tanpa memikirkan keadaan, seperti berutang, menggadaikan aset, dan sebagainya. Makanya, orang yang memiliki gaya hidup ini mereka tidak memiliki skala prioritas, hanya kebutuhan gaya saja yang terpenuhi.
Belakangan ini, perlakuan hedonisme ditunjukkan langsung oleh beberapa pejabat pemerintahan. Jika dilihat, bukan baru sekarang hal itu terjadi. Akan tetapi, baru sekarang hal ini terlihat. Dimulai dari yang sangat hangat di media, kasus penganiyaan yang dilakukan oleh sang anak berimbas dengan pemeriksaan aset yang dipunya. Hal tersebut karena diusut sang istri dan anak memiliki gaya hidup hedonisme. Sehingga terkuaklah fakta bahwa harta yang ia punya sedikit banyaknya adalah hasil korupsi.
Terkait gaya hidup hedonisme pejabat pemerintahan, Presiden RI menyinggung para pelaku hedonisme. Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk tidak memamerkan jabatan, pangkat, hingga kekayaan terlebih jika diunggah ke media sosial. Gaya hidup hedonisme tak pantas dilakukan aparat birokrasi.
Dari kasus yang ada, artinya carilah kesenangan sesuai batas kemampuan. Memaksakan segala kehendak merupakan perbuataan yang juga tak disukai Allah Swt. Beli barang seperlunya dan sebutuhnya. Banyak dampak buruk yang dirasakan hanya untuk kesenangan sesaat yang dimiliki. Hidup sederhana bukan berarti miskin dan tak punya kebahagiaan. Melainkan orang yang terlihat sederhanalah yang memiliki kebahagiaan dan rasa puas yang cukup dalam dirinya.

