Menilik Simbol Demokrasi: Tapak Tilas Pemilu di Indonesia

- Advertisement - Pfrasa_F

 

(Desainer: Farhan Rizky Wahyudi)
(Desainer: Farhan Rizky Wahyudi)

Penulis: Farhan Rizky Wahyudi

Pemilihan Umum (Pemilu) adalah simbol bagi hidupnya demokrasi di suatu negara. Pesta bagi rakyat yang berdaulat menentukan pemimpin untuk memajukan negara. Pada 2024 ada beberapa negara lainnya yang menyelenggarakan pemilu, salah satunya Indonesia yang dilaksanakan pada Rabu, 14 Februari 2024 lalu. Terhitung sejak reformasi, hak memilih dan dipilih semakin menambah dinamika perpolitikan di negara besar ini.

Lantas, bagaimana sejarah penyelenggaraan pemilu di Indonesia pada awal masa kemerdekaan? Sejarah mencatat pelaksanaan simbol demokrasi ini baru terlaksana 10 tahun sejak proklamasi dikumandangkan. Hal tersebut cukup wajar, mengingat masih rapuhnya negara baru ini, yang kala itu di bawah agresi militer Belanda dengan pemberontakan di berbagai daerah hingga hiperinflasi.

  • Pemilu 1955, Sebuah Permulaan

Untuk pertama kalinya Republik Indonesia melangsungkan pemilu. Pada saat itu juga, Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum terbentuk. Maka dari itu, dibentuklah Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) yang bertugas mempersiapkan dan menyelenggarakan Pemilu 1955 untuk memilih Anggota Konstituante dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Hasil pemilu tersebut didapatkan 257 kursi dari total 37.785.299 suara dan sekitar 29 partai atau nama terdaftar yang mendapatkan kursi di DPR. Lalu, 520 kursi dari total 37.837.105 suara dan sekitar 34 partai atau nama terdaftar yang mendapatkan kursi di Anggota Konstituante.

  • Pemilu 1971, Bangkit dari Masa Orde Lama

Pemilu ini diikuti 10 partai politik dan didapatkan 360 kursi dari total 54.669.509 suara. Partai Golongan Karya (Golkar) dan Nahdlatul Ulama (NU) mendapatkan kursi terbanyak dan sisanya diisi oleh Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).

  • Pemilu 1977-1997, Periode Orde Baru

Selama periode ini, partai politik yang mengikuti pemilu hanya ada tiga, yakni Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Mengutip data dari Pemilu 1997, didapati 112.991.150 total suara masuk, meskipun pemilu terakhir pada masa Presiden Soeharto menuai banyak protes dari berbagai wilayah. Bahkan dibeberapa tempat, pemilu diselenggarakan ulang karena kecurangan yang dinilai terlalu parah.

  • Pemilu 1999, Awal Reformasi

Akibat ketidakstabilan politik, pemilu kembali dilaksanakan lebih cepat dari yang seharusnya. Hal itu terjadi pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie. Pada waktu ini pula, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dibentuk. Terdapat perbedaan mencolok bagi peserta pemilu, di mana sebelumnya hanya 3 partai politik yang menjadi peserta pemilu, kemudian pada tahun 1999 bertambah hingga 48 partai.

  • Pemilu 2004, Pemilihan Presiden Pertama

Setelah perkembangan yang alot, pemilihan calon Presiden (capres) dan calon Wakil Presiden (cawapres) diadakan pertama kalinya di tahun ini. Selain itu, 2004 menjadi tahun pertama KPU bertugas sebagai penyelenggara pemilu yang bersifat nasional, tetap, mandiri, serta netral dari unsur partai politik dan pemerintah. Putaran pemilu pertama berlangsung pada 5 Juli 2004 untuk memilih anggota parlemen dan 20 September 2004 untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. Pada saat itu, terpilihlah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden Republik Indonesia ke-5.

  • Pemilu 2009, SBY Lanjut Periodisasi Kedua

Tak banyak perubahan sistem pemilu tahun itu, di mana pemilihan calon anggota dewan serta capres dan cawapres dilaksanakan dalam rentang waktu terpisah, yakni 9 April 2009 dan 8 Juli 2009. SBY kembali terpilih melanjutkan periode kedua dengan wakilnya Boediono.

  • Pemilu 2014, Akhir Masa Jabatan SBY

Setelah menjabat selama dua periode, SBY tak dapat mencalonkan diri kembali sebagai Presiden, karena sesuai aturan perundang-undangan, jabatan Presiden dan Wakil Presiden sebanyak-banyaknya dua periode. Terdapat dua calon terdaftar dalam pemilihan, yakni pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-Jusuf Kalla. Hingga akhirnya, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang memenangkan pemilu dan dilantik sebagai Presiden pada 20 Oktober 2014 menggantikan SBY.

  • Pemilu 2019

Jokowi dengan kekuatan elektabilitasnya berhasil memenangkan pemilu selanjutnya dengan rival yang sama, Prabowo Subianto. Fakta menarik setelah penyelenggaraan pemilu ini, Presiden Jokowi mengajak lawan politiknya itu masuk ke dalam kabinetnya sebagai Menteri Pertahanan hingga menjelang akhir pemerintahannya.

  • Pemilu 2024

Pemilu kali ini terasa segar bagi kaum muda apalagi Gen Z yang rata-rata baru pertama kali merasakan pesta demokrasi. Bahkan, dalam demografi pemilih, suara merekalah yang paling mendominasi. Ada tiga pasangan capres dan cawapres yang ikut dalam pemilu tahun ini, yakni Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD. Karena besarnya potensi pemilih muda, kampanye antar paslon terasa sangat segar dan kreatif mengikuti perkembangan zaman.

Data diperoleh dari laman resmi KPU ditambah referensi tambahan dari berbagai sumber.

Baca Juga: Konflik Agraria di Indonesia

Editor        : Fadillah Hanum

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles