
Penulis: Ella Paradita
Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan bumbu dapur satu ini. Salah satu bumbu yang tidak bisa dipisahkan dalam bahan masakan sehari-hari. Seakan menjadi bahan yang paling utama dan hambar rasanya jika tidak ada, bumbu ini dikategorikan ke dalam bentuk buah, berwarna hijau saat belum matang dan merah ketika matang. Buah ini memiliki rasa pedas yang membuat kebanyakan orang merasa tidak lengkap jika tidak ada dalam makanannya. Ya, buah ini adalah cabai.
Cabai yang kita lihat di pasaran ternyata membutuhkan proses panjang dan harus dalam perawatan yang baik sebelum dijual. Maka dari itu, berikut ini adalah proses penanaman cabai sampai layak dijual.
Baca Juga: Wisata ke Taman Hewan Siantar
Pertama, mencari tanah dan pupuk kandang atau organik untuk penyemaian. Pupuk kandang atau organik biasanya terbuat dari kotoran sapi. Sebelum penyemaian dilakukan, hal pertama ialah mencari tanah dan pupuk kandang. Setelah tanah dan pupuk kandang sudah tersedia, maka tanah dan pupuk disaring sehingga tidak ada lagi tanah yang menggumpal. Setelah itu, tanah dan pupuk kandang dicampur menjadi satu.
Kedua, proses pengisian tanah ke dalam polybag kecil. Tanah dan pupuk yang sudah tercampur kemudian diisi dan dimasukkan ke dalam polybag kecil tersebut. Namun, sebelum diisi tanah, polybag harus dipotong terlebih dahulu agar menghemat tanah. Kemudian kaki polybag diiris hingga memberikan udara supaya ketika disiram airnya bisa keluar.
Ketiga, pembuatan rumah untuk proses penyemaian cabai. Rumah ini sering dikatakan sebagai gubuk cabai. Biasanya terbuat dari kayu atau bambu untuk kerangkanya dan diberi plastik untuk dinding-dindingnya. Rumah ini digunakan untuk proses penyemaian, polybag–polybag yang sudah terisi tanah disusun di rumah cabai ini.
Keempat, proses penyemaian. Setelah polybag sudah tersusun, tahap selanjutnya adalah memasukkan satu persatu benih cabai pilihan ke dalam polybag yang sudah terisi tanah dan pupuk. Setelah itu, tutup semua polybag menggunakan karung bekas atau plastik besar.
Kelima, cek penyemaian. Tahap ini dilakukan untuk melihat apakah benih yang dimasukkan ke dalam polybag sudah tumbuh atau belum. Jika dilihat sudah tumbuh, maka harus membuka polybag yang sebelumnya ditutup karung supaya bisa tumbuh lebih besar.
Keenam, perawatan bibit. Benih cabai yang sudah mulai tumbuh sudah bisa dikatakan menjadi bibit cabai. Bibit ini tentu perlu perawatan sebelum ditanam ke lahan luas. Penyiraman setiap pagi dan sore, jika ada yang mati bisa dibuang dan disisipkan bibit tersebut. Perawatan bibit dilakukan selama 40 hari di dalam rumah cabai sebelum ditanam ke lahan.
Ketujuh, menyiapkan lahan. Sambil menunggu bibit siap untuk ditanam, langkah selanjutnya ialah menyiapkan lahan. Para petani biasanya menyiapkan lahan dengan mencangkul dan membuat guludan untuk tempat menanam cabai.
Kedelapan, memasang mulsa. Tanah yang sudah digulud kemudian dipasang mulsa untuk menjaga kelembapan tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga membuat tanaman cabai nantinya tumbuh dengan baik.
Kesembilan, proses pencoblosan mulsa dan pembuatan lubang. Setelah mulsa sudah terpasang, proses selanjutnya adalah mencoblosnya dan membuat lubang pada mulsa yang sudah dicoblos.
Kesepuluh, penanaman bibit ke lahan. Setelah bibit sudah bisa untuk ditanam dan lahan sudah siap, maka selanjutnya adalah penanaman bibit. Cara menanam bibit tidak asal menanam saja, kita harus membuka polybag kecil terlebih dahulu dan mengeluarkan bibitnya satu persatu lalu dimasukkan ke dalam guludan yang sudah dipasang mulsa dan sudah dilubangi.
Itulah beberapa tahapan sebelum cabai siap dipanen dan layak dijual. Cukup rumit bukan? Tentu, jika dilihat dari harganya yang sekarang, sudah cukup seimbang dengan jerih payah para petani cabai saat ini. Semoga bisa menambah wawasan kita dan semoga bermanfaat.
Baca Juga: Yuk! Simak Perbedaan Sikap Optimis, Pesimis, dan Realistis
Editor: Syahda Khairunnisa

