Ketika Sepiring Makan Merenggut Ingatan

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://wartakota.tribunnews.com/)

Penulis: Afriana Alawiah. AR

Apa yang seharusnya dirasakan seorang anak ketika menerima sepiring makanan gratis dari negara? Semestinya rasa syukur. Semestinya ada keyakinan bahwa makanan itu hadir untuk membuatnya lebih sehat, lebih kuat belajar, dan lebih siap mengejar masa depan. Akan tetapi, pertanyaan itu menjadi getir ketika sepiring makanan yang seharusnya membawa manfaat justru menjadi persoalan kesehatan.

Kisah Febiola Br. Purba menjadi salah satu gambaran yang membuat publik kembali bertanya. Siswi berusia 16 tahun dari SMK Swasta Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dikenal sebagai siswi berprestasi, juara kelas, dan Wakil Ketua OSIS. Setelah insiden dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 13 Agustus 2026, ia dilaporkan mengalami gangguan kesehatan serius, termasuk gangguan daya ingat dan kemampuan berbicara.

Kabar mengenai kondisi Febiola menjadi sorotan karena di balik sosoknya ada seorang anak yang sedang menempuh pendidikan, menjalankan tanggung jawab di sekolah, dan memiliki masa depan yang masih panjang. Sejumlah pemberitaan menyebut Febiola mengalami kehilangan ingatan dalam tingkat yang sangat berat, bahkan disebut mencapai sekitar 70 persen. Sampai saat ini, hubungan langsung antara konsumsi MBG dan gangguan ingatan yang dialaminya masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan medis dan penyelidikan. Data pemantauan Kementerian Kesehatan hingga 2 September 2026 mencatat 560 kejadian keracunan yang berkaitan dengan pelaksanaan MBG dengan 50.059 orang terdampak. Kejadian tersebut tersebar di 36 provinsi dan 245 kabupaten/kota.

Bahkan, setelah periode pencatatan tersebut, kasus dugaan keracunan masih muncul di sejumlah daerah. Reuters melaporkan bahwa sedikitnya 300 siswa di Kabupaten Karo jatuh sakit dalam salah satu rangkaian insiden, sementara pada awal September lebih dari 1.700 siswa dan guru dilaporkan sakit dalam berbagai kejadian yang berlangsung hanya dalam beberapa hari. Makanan bergizi tidak cukup hanya bergizi, tetapi juga harus aman. Bahan bakunya harus layak, proses pengolahannya harus memenuhi standar kebersihan, penyimpanannya harus benar, waktu distribusinya harus diperhitungkan. Selain itu, setiap dapur penyedia makanan harus mendapatkan pengawasan yang serius. Program dengan sasaran jutaan anak tidak boleh bekerja dengan prinsip “yang penting makanan sampai”. Namun, yang harus dipastikan adalah makanan sampai dalam keadaan layak dan aman dikonsumsi.

Kasus Febiola juga mengingatkan kita bahwa dampak sebuah kebijakan tidak selalu dapat diukur melalui jumlah porsi yang berhasil dibagikan. Keberhasilan MBG tidak semestinya hanya dihitung dari berapa juta makanan yang tersalurkan. Ukurannya juga harus mencakup seberapa aman makanan tersebut, seberapa baik pengawasannya, dan seberapa cepat negara bertindak ketika terjadi masalah. Sebab, satu porsi makanan mungkin hanya terlihat sebagai satu porsi dalam laporan administrasi. Tetapi bagi seorang anak, satu porsi itu adalah makanan yang masuk ke tubuhnya. Jika terjadi kesalahan, konsekuensinya dapat dibawa pulang oleh anak tersebut kepada keluarganya, bahkan mungkin berlangsung jauh lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan makanannya.

Di balik angka 50.059 orang terdampak, ada manusia dengan cerita masing-masing. Ada anak yang harus dirawat. Ada orang tua yang cemas. Ada sekolah yang kehilangan konsentrasi belajar siswanya. Selain itu, ada keluarga yang mungkin harus menanggung biaya serta trauma setelah sebuah program yang seharusnya memberi manfaat justru membawa kekhawatiran. Maka, “gratis” tidak boleh menjadi kata yang menutupi persoalan kualitas.

Kita tentu berharap Febiola dapat kembali pulih, kembali mengenali orang-orang yang dicintainya, kembali belajar, dan kembali mengejar cita-citanya. Akan tetapi, harapan untuk satu anak juga harus menjadi pelajaran bagi sebuah sistem. Karena tujuan utama MBG bukan sekadar membuat anak kenyang. Tujuannya adalah membuat mereka lebih sehat dan lebih siap menyongsong masa depan. Jika sepiring makanan justru membawa seorang anak pada kehilangan kesehatan, maka negara tidak boleh acuh. Gratis saja tidak cukup. Bergizi saja tidak cukup. Anak-anak Indonesia berhak mendapatkan makanan yang bergizi, aman, dan dipertanggungjawabkan. Ayo kawal kasus ini!

Editor: Ummy Syafitri 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles