
Penulis: Nazwa Nabilah Lubis
Baru-baru ini, viral sebuah tagar yang beredar di media sosial, terkhususnya platform media yang menyediakan wadah berdiskusi seperti TikTok, Instagram, dan X. Tagar viral tersebut adalah #sellsingapurabuyindonesia yang merupakan seruan boikot terhadap layanan e-commerce dan keuangan dari Singapura.
Tagar ditujukan untuk memberi seruan dukungan dari masyarakat Indonesia yang muncul sebagai balasan terhadap pernyataan negatif “Sell Indonesia” yang berasal dari salah satu media Singapura. Jika diartikan secara singkat, arti tagar ini bertujuan untuk mendorong orang-orang agar menjual harta/aset di Singapura dan membeli aset di Indonesia sebagai bentuk dukungan dari rakyat terhadap ekonomi nasional.
Baca Juga: Di Balik Tagar “Menuju Indonesia Bangkrut”
Latar belakang terbentuknya tagar tersebut dimulai dari sentimen global yang banyak menjual aset Indonesia (saham, obligasi, bahkan rupiah). Tagar ini menjadi penyebab kekhawatiran dari investor global atas kebijakan ekonomi Pak Prabowo. Kebijakan ekonomi yang diterapkan Presiden Prabowo dinilai makin intervensionis dan memperbesar peran negara dalam perekonomian.
Penyebab lainnya selain atas kebijakan ekonomi Presiden Prabowo adalah ketidakpastian kebijakan, pelemahan rupiah, dan juga ancaman penurunan status Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dimulai dari banyaknya menteri ekonomi yang sering berganti sehingga investor tidak tahu arah kebijakan ekonomi ke depan, ditambah nilai rupiah yang saat ini sedang jatuh di angka Rp18.000/USD.
Singapura terancam dapat mengalami kerugian yang sangat besar akibat para investor mulai menghentikan peredaran saham mereka. Singapura adalah magnet modal asing, sehingga tempat dari miliaran dolar termasuk Indonesia berhenti dengan aman. Ada empat poin mengapa Singapura dianggap merugikan Indonesia pada kondisi ini. Pertama, Singapura adalah tempat pelarian para koruptor, kedua, tempat penyimpanan hasil korupsi, ketiga, mendanai buzzer asing, dan terakhir menjatuhkan nilai rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Dari fenomena ini, ada sisi positif dan sisi negatif yang terlihat. Sisi positifnya dapat menumbuhkan semangat nasionalisme yang tinggi, adanya juga dukungan terhadap fundamental ekonomi dan adanya keseimbangan narasi dan juga respons yang cukup tegas dari pemerintah.
Sedangkan sisi negatif yang tampak dari fenomena ini adalah kepercayaan investor luar yang tentu saja lebih memilih melepas atau bahkan memindahkan sahamnya dari Indonesia. Dampaknya juga terasa kepada masyarakat, di mana rupiah makin turun dan harga impor tetap naik. Pertumbuhan ekonomi juga tertekan serta politik dan kebijakan negara bisa jadi terganggu.
Banyak masyarakat yang sudah mulai sadar akan apa yang terjadi dan mulai kembali memunculkan sikap nasionalisme. Ada banyak cara untuk membuat rupiah dan IHSG naik kembali dan mengembalikan Indonesia ke pasar global dengan cara membeli produk lokal, mendukung UMKM, berinvestasi di Indonesia, dan mengurangi ketergantungan pada pihak asing.
Selain itu, ada juga sisi kuat lain yang dilakukan oleh masyarakat pada gerakan tagar ini, yaitu dengan cara bangga terhadap Indonesia, perlawanan terhadap narasi negatif yang muncul dari luar, dan juga penolakan terhadap anggapan bahwa Indonesia selalu kalah dibanding Singapura.
Fenomena tagar viral ini mengingatkan kita pada awal tahun 2025, yang mana pada saat itu tagar #KaburAjaDulu dan #IndonesiaGelap yang muncul karena kondisi negara saat itu yang dianggap sedang tidak ada harapan. Kedua tagar itu muncul dari kegelisahan, kecemasan, serta upaya pencarian alternatif dari anak muda karena keadaan negara saat itu belum optimal ditambah melihat pendapatan di luar negeri lebih menjanjikan.
Baca Juga: 5 Film Romcom 2000-an yang Cocok Jadi Pelepas Penat Mahasiswa!
Editor: Dinda

