
Penulis: Hadist Sulistiawati
Korupsi di Indonesia sudah tampak seperti ajang kompetisi yang tiada akhir. Layaknya sebuah liga sepak bola, kasus korupsi terus-menerus bermunculan setiap tahun, bulan, bahkan setiap hari. Dengan berbagai aktor yang memainkan peran antagonisnya, menyalahgunakan kekuasaan mereka demi kepentingan pribadi semata. Setiap periode, bisa dipastikan ada nama-nama baru yang muncul dalam “klasemen” kasus korupsi terbesar. Namun, pertandingan ini bukannya berusaha untuk dihentikan, melainkan sistem hukum dan politik di Indonesia seolah-olah memberi ruang untuk berkembangnya korupsi ini.
Baca Juga: Penjarahan di Tengah Krisis: Koruptor Teriak Koruptor?
Kejadian ini semakin terlihat bahwa korupsi bukan sekadar perbuatan individu semata, melainkan sudah menjadi budaya yang sulit diberantas, mulai dari level paling bawah hingga atas di berbagai sektor, termasuk pemerintahan hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga terjadi korupsi. Bahkan, lembaga yang dianggap mampu menjadi pemberantasan korupsi ini, justru telah masuk ke dalam gua hitam ini.
Sebagai salah satu alasan liga korupsi di Indonesia ini terus berlanjut, yaitu karena budaya permisif yang masih melekat di dalam masyarakat. Tak jarang, orang yang menganggap korupsi sebagai sesuatu yang lumrah, terutama jika dilakukan dalam hal kecil, misalnya seperti praktik suap ketika kita meminta bantuan kepada orang untuk kepentingan kita. Lalu, setelah selesai mereka mengerjakan pekerjaan itu, tak jarang orang memberikan uang dengan alasan sebagai “uang terima kasih” ataupun “uang rokok”. Padahal, praktik seperti ini menjadi awal terjadinya korupsi besar.
Banyak juga masyarakat yang mendukung pemain politìk yang pada dasarnya sudah terbukti bahwa mereka terlibat dalam kasus korupsi ini. Sering kali, orang yang sudah pernah terjerat kasus korupsi ini kembali terpilih menjadi seorang pemimpin karena sudah dianggap berjasa dan memiliki popularitas yang tinggi. Hal inilah yang membuat kesadaran masyarakat terhadap bahayanya korupsi semakin rendah. Kita tidak boleh lengah terhadap hal-hal kecil yang bahkan bisa membawa kita ke era korupsi yang lebih parah nantinya.
Jika “liga” ini dibiarkan terus-menerus tanpa adanya sanksi yang tegas, maka kita akan terus menyaksikan pertandingan yang sama berulang kali dengan pemain baru dan menggantikan yang lama, sementara rakyatnya tetap menjadi korban. Inilah saatnya, kompetisi seperti ini harus dihentikan dengan aturan yang lebih ketat, hukuman yang lebih berat, serta sistem keuangan yang lebih transparan. Jika tidak segera dihentikan, maka bangsa ini akan terus berada dalam lingkaran korupsi yang dapat merugikan semua pihak, terkecuali pemainnya sendiri.
Untuk mencegah lebih dahulu terjadinya korupsi ini, kita bisa menanamkan pendidikan antikorupsi sejak dini. Anak-anak sangat penting untuk diajarkan tentang bahayanya korupsi serta cara mencegah terjadinya korupsi ini. Jika kesadaran ini dibangun sejak kecil, maka di masa depan kita bisa memiliki generasi yang lebih bersih dari kasus korupsi.
Korupsi bukan sekadar kejahatan biasa, tetapi ini merupakan suatu penyakit yang melekat yang dapat merusak bangsa. Jika kita ingin melihat majunya Indonesia, maka liga korupsi harus segera dihentikan. Dengan kita menghentikan korupsi lebih cepat, maka tidak akan ada lagi ruang bagi para koruptor untuk bermain dalam sistem pemerintahan maupun ekonomi negara ini.
Selain itu, masyarakat juga harus lebih kritis dalam memilih seorang pemimpin. Jangan mudah tergoda hanya karena dia tampan ataupun lebih terkenal, tetapi kita harus bisa lebih melihat apakah dia pernah menjadi pemeran yang terjerat kasus korupsi. Sementara itu, aparat penegak hukum sendiri harus lebih tegas dan tidak ragu untuk memberikan hukuman lebih berat bagi pelaku korupsi, tanpa pandang bulu.
Jika kita semua bisa bergerak bersama dalam memberantas korupsi ini, maka Indonesia bisa keluar dari kasus korupsi. Namun, jika kita terus membiarkan liga ini berlangsung, maka kita hanya akan menjadi penonton dalam sebuah kompetisi yang semakin merusak masa depan bangsa kita.
Baca Juga: Berharap Menjadi Lebih Baik dengan Sikap Antikritik

