Pemilik Kos Makan Daging Kucing Bikin Ricuh Dunia Maya

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Pribadi)

Penulis: Sahla Amrina Anwar

Seorang bapak pemilik indekos di Semarang diduga memakan sepuluh kucing dalam setahun. Aksinya terciduk setelah pemilik kucing berbulu oranye menanyakan keberadaan hewan peliharaannya kepada bapak kos tersebut.

Baca Juga: Banyak Gen Z Menjadi Generasi Sandwich, Mampukah Mereka Survive?

Laki-laki berinisial NY itu mengaku bahwa dia kekurangan uang untuk membeli daging di pasar. Walaupun dia pengusaha indekos, tetapi penghasilannya tidak mencukupi untuk membeli daging sapi atau ayam yang harganya lebih mahal dan memilih alternatif lain untuk memakan daging kucing selama sepuluh tahun terakhir.

Dalam konferensi pers, dia memberikan pengakuan mengejutkan dan kontroversial dengan terang-terangan menyatakan bahwa daging kucing yang ia konsumsi memiliki rasa enak dan kalori rendah, yang menurutnya baik untuk kesehatannya. Dia menjelaskan membutuhkan asupan daging untuk membantu mengobati penyakit diabetes yang telah lama diidapnya.

Hal tersebut memicu warga untuk terus berargumen tentang perilaku juga sikap bapak tersebut. Bukannya memberikan kesan aman dan nyaman di lingkungan indekos, yang dilakukannya justru malah sebaliknya. Para penghuni indekos mengira bahwa bapak tersebut telah mengalami gangguan jiwa dan mental.

Beberapa pengakuan penghuni indekos juga mengungkapkan kejadian-kejadian janggal yang dialaminya selama tinggal di kos tersebut. Penghuni menceritakan bahwa pada suatu hari bapak kos tersebut datang ke kamarnya dengan membawa alat pemukul dan mengaku baru saja memukul seekor kucing yang akan dimakannya.

Kejadian lain yang tak kalah mengejutkan yang dialami penghuni indekos juga terjadi saat Ramadan tahun lalu, ketika penghuni indekos lain menemukan seekor kucing yang sedang direbus di dalam rice cooker milik bapak tersebut. Ini justru menimbulkan kepanikan para penghuni indekos.

Hal tersebut pastinya menambah rasa ketidaknyamanan di antara para penghuni indekos. Tidak hanya sekali dua kali, kejadian janggal tersebut berlangsung cukup lama dan mengakibatkan wilayah indekos tidak kondusif dan beberapa dari mereka memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru.

Beberapa penghuni indekos lainnya juga mengatakan bahwa bapak tersebut kerap mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi, sosok yang dalam ajaran Islam diyakini akan datang di akhir zaman untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Tentu saja hal ini sangat tidak masuk akal, penghuni indekos mengira bahwa bapak tersebut telah mengalami kerusakan mental.

Tentu saja perilaku bapak pemilik indekos tersebut tidak benar dan melanggar norma kemanusiaan. Pertama, penting dicatat bahwa memakan daging kucing dilarang tegas dalam ajaran agama Islam. Kucing merupakan salah satu hewan peliharaan yang sangat populer dan banyak disukai oleh masyarakat. Namun, kucing tidak termasuk dalam kategori hewan ternak yang diperbolehkan untuk dikonsumsi.

Dalam Mazhab Syafii yang sahih, daging kucing haram dimakan karena termasuk dalam kategori hewan yang mempunyai taring untuk memangsa. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Jabir radiallah anhu:

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang makan daging kucing dan jual belinya,” (Hadis Riwayat Abu Daud, at-Tirmizi, dan Ibn Majah).

Dari sudut pandang kesehatan dan etika, mengonsumsi daging kucing dianggap tidak layak. Daging kucing bukanlah produk hewani yang sesuai untuk dapat dikonsumsi manusia. Banyak penyakit yang dapat ditimbulkan akibat memakan daging kucing, seperti tuberculosis, brucellosis, salmonellosis, botulism, staphylococcal meat intoxication, taeniasis, trichinosis, clostridiosis, hingga rabies.

Berita bapak indekos yang memakan kucing mungkin menarik perhatian. Penting untuk diingat bahwa itu bukanlah solusi untuk penyakit diabetes atau suatu solusi untuk mengatasi masalah perekonomian. Sebaliknya, itu menyoroti pentingnya mencari bantuan dan dukungan dari orang lain saat menghadapi kesulitan dan ini sangat memengaruhi kesehatan jiwa dan mental seseorang.

Hal yang tak kalah penting, pada saat kita menyembelih kucing untuk dikonsumsi, berarti kita telah menanamkan perilaku kekejaman dan kesadisan, terutama bagi anak-anak juga remaja yang menyaksikan kejadian tersebut. Mereka akan lebih peka terhadap tindak kekerasan, baik itu pada hewan, maupun pada sesama manusia. Untuk mencegah segala kemungkinan-kemungkinan tersebut, ada baiknya jika kita melakukan tindakan pencegahan dari awal, yaitu dengan menghentikan dan menghindari kebiasaan mengonsumsi daging kucing.

Baca Juga: Pemilihan itu Demokrasi Bukan Demo dan Aksi UIN SU!

Biodata Penulis: 

  • Nama            : Sahla Amrina Anwar
  • Jurusan        : Hukum Keluarga Islam
  • Semester     : III
  • Nomor HP    : 081325078414
  • Media sosial: @sahlaamrina

Editor: Syahda Khairunnisa 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles