Makanan atau Pendidikan: Mana yang Lebih Membentuk Generasi?

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Pribadi (Staff Periklanan)

Penulis: Nazwa Nabilah Lubis

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah resmi dimulai pada 6 Januari 2025 dengan total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp71 triliun untuk satu tahun. Pelaksanaan MBG ini merupakan hasil dari serangkaian uji coba yang telah dilaksanakan di sejumlah wilayah. Pada tahap awal, program MBG ditargetkan dapat menjangkau sekitar 3 juta orang di seluruh Indonesia. Kemudian pada Agustus 2025, jumlah penerima diharapkan mampu menembus angka 15 juta orang.

Baca Juga: Katanya Genjatan Senjata, tetapi Serangan Israel Tetap Ada

Dengan sejalannya program MBG ini, masih banyak masyarakat yang mempermasalahkan soal gizi seimbang yang diberikan. Hal ini disebabkan program ini tidak sesuai dengan gizi yang diharapkan sehari-hari oleh masyarakat, dan program ini belum tersebar merata ke seluruh wilayah di Indonesia.

Hal ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat karena ketidakefektifan program ini. Tak sedikit juga dari masyarakat yang masih mengaitkan dan membandingkan program makan bergizi gratis ini dengan program pendidikan gratis.

Kedua aspek tersebut merupakan hal yang memiliki dampak besar untuk kesejahteraan generasi ke depannya. Lalu, sebenarnya mana yang seharusnya menjadi prioritas? Apakah salah satunya atau keduanya?

Makanan merupakan kebutuhan primer manusia yang harus terpenuhi demi keberlangsungan hidup seseorang. Pemberian makan siang gratis saat ini menjadi salah satu program yang sedang dibangga-banggakan untuk membawa negara ini menjadi negara yang gizinya terpenuhi. Makan siang gratis yang difokuskan untuk anak-anak bertujuan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan mencegah tengkes yang makin meningkat.

Hal tersebut dapat membantu anak-anak mendapatkan energi yang cukup untuk berkonsentrasi penuh sehingga lebih fokus selama masa pembelajaran. Diharapkan program ini juga dapat membantu masyarakat di kalangan ekonomi rendah untuk tetap mendapat standar gizi yang baik.

Kemudian, pendidikan juga menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh generasi penerus bangsa. Pendidikan merupakan sebuah investasi masa depan untuk putra dan putri bangsa. Negara juga seharusnya dapat berkontribusi secara maksimal untuk pendidikan dengan membebaskan biaya pendidikan.

Pendidikan gratis dapat membuka akses dan peluang yang lebih besar bagi putra dan putri bangsa dari semua latar belakang, termasuk dari keluarga yang ekonominya rendah, dan tetap mendapatkan akses pendidikan yang baik. Program ini juga membantu unutk mengurangi kasus buta huruf khususnya di desa-desa terpencil yang sulit akses pendidikannya. Angka kemiskinan juga dapat menurun karena pendidikan menjadi faktor utama untuk mendobrak kualitas hidup.

Makanan dan pendidikan sama-sama penting dan saling melengkapi dalam membentuk masa depan yang lebih baik. Keduanya memiliki peran dalam membangun individu yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi tantangan global.

Beberapa manfaat dari MBG adalah meningkatkan konsentrasi dan prestasi belajar, mencegah berbagai penyakit kronis di masa depan, dan memberikan tubuh energi untuk beraktivitas. Kemudian beberapa manfaat dari pendidikan adalah meningkatkan kemampuan ekonomi, mengurangi ketimpangan sosial, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan, serta mengembangkan kewarganegaraan yang baik.

Namun, Abraham Maslow seorang psikolog Amerika dan seorang pelopor aliran psikologi humanistik mempelajari orang-orang paling cemerlang di dunia dan mengusulkan hierarki kebutuhannya. Ia merumuskan bahwa makanan berada di tingkat paling bawah yang berarti makanan merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar.

Pendidikan tidak termasuk dalam salah satu kategori ini. Dalam rumusannya, pendidikan dapat dibagi menjadi keamanan, harga diri, dan terutama aktualisasi diri. Ia menyimpulkan bahwa manusia juga dapat memperoleh nafkah atau pekerjaan tanpa pendidikan, setidaknya pekerjaan yang dapat menghasilkan cukup uang untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Kenaikan PPN 12 Persen: Apakah Langkah yang tepat untuk Pemulihan Ekonomi Indonesia?

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles