
Penulis: Riska Nurasnida Siregar
Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. selalu hadir sebagai momen perayaan yang penuh kekhidmatan. Di berbagai sudut kota hingga lingkungan kampus, gema selawat meriah mengudara untuk memperingati hari kelahiran sosok pembawa risalah kedamaian bagi alam semesta. Namun, di tengah semarak perayaan seremonial tersebut, tidak sedikit dari kita yang lupa mengajukan satu pertanyaan reflektif ke dalam diri, sejauh mana nilai-nilai dan akhlak luhur Rasulullah telah benar-benar meresap ke dalam perilaku hidup kita sehari-hari, khususnya saat bertutur kata di dunia digital?
Hari ini, realitas kehidupan manusia tidak lagi sebatas pada ruang-ruang interaksi fisik. Kehadiran media sosial telah membuka ruang kebebasan berpendapat yang sangat luas bagi siapa saja. Sayangnya, ruang digital yang seharusnya menjadi wadah pertukaran gagasan positif tak jarang berubah menjadi arena yang bising dan toksik. Budaya saling menghujat, maraknya ujaran kebencian, tuduhan tanpa verifikasi, hingga komentar pedas yang mengabaikan empati seolah dianggap wajar demi mengejar popularitas atau kepuasan emosional sesaat. Pertanyaannya, mengapa jempol kita begitu mudah melukai sesama di dunia maya?
Baca Juga: Ketika Rabiulawal Mengingatkan Kita pada Akhlak yang Hilang
Padahal, Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan dan tutur kata dalam setiap aspek kehidupan. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 70:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Dari ayat tersebut kita belajar bahwa kesalehan seorang hamba tidak hanya diuji melalui ibadah ritual di atas sajadah, melainkan juga melalui kebenaran dan kesantunan perkataan yang diucapkannya.
Meneladani Rasulullah saw. di era digital tidak cukup diukur dari seberapa sering kita mengunggah kutipan keagamaan atau membagikan ulang konten bernuansa islami di lini masa. Lebih dari itu, substansi peneladanan terletak pada kemampuan kita mengendalikan jempol dan lisan saat berinteraksi di kolom komentar. Rasulullah saw. adalah cermin keteladanan tertinggi dalam bertutur kata. Beliau senantiasa mengajarkan prinsip qaulan karima (perkataan yang mulia) dan qaulan ma’rufa (perkataan yang baik), ucapan yang menyejukkan, membangun, serta menghormati harkat sesama manusia, bukan yang merendahkan atau memicu perpecahan.
Selain kesantunan, nilai integritas (Al-Amin) yang melekat pada diri Nabi juga menjadi benteng amat penting dalam mengarungi derasnya arus informasi saat ini. Di tengah maraknya hoaks dan manipulasi berita yang berpotensi memecah belah umat, seorang muslim dipanggil untuk menjadi penyaring informasi yang bijak. Kebiasaan meneliti kebenaran berita (tabayun) sebelum membagikannya adalah manifestasi nyata dari sifat jujur dan tepercaya yang diteladankan oleh beliau.
Allah Swt. juga mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 11 yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mencela kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang dicela) lebih baik dari mereka (yang mencela) …”
Ayat ini menyinggung kebiasaan kita yang kerap merasa paling benar lalu dengan mudah menghakimi orang lain di media sosial. Sering kali manusia terlalu sibuk menilai keburukan orang lain di kolom komentar, tetapi lupa memperbaiki moralitas akunnya sendiri.
Momentum Maulid Nabi sepantasnya menjadi ajang evaluasi diri (muhasabah) atas jejak digital yang telah kita tinggalkan. Jempol dan akun media sosial yang kita miliki adalah cermin dari kedalaman akhlak yang kita bawa. Jangan sampai kesalehan yang kita bangun di dunia nyata justru gugur akibat ketidaksantunan dan kebencian yang kita tebar di dunia maya.
Percayalah, menghidupkan ajaran Rasulullah di era modern tidak selalu membutuhkan aksi yang besar dan muluk-muluk. Ia bisa dimulai dari hal paling sederhana di genggaman kita: memilih untuk tidak jemawa dalam berargumen, menahan diri dari menyebarkan fitnah, serta konsisten menyebarkan empati dan kedamaian di setiap postingan. Sebab, ketika Maulid Nabi dihayati dengan kesadaran penuh, kita akan menyadari bahwa perayaan terbaik bukanlah seberapa meriah mimbar yang kita dirikan, melainkan seberapa santun akhlak yang berhasil kita hadirkan di tengah bisingnya dunia digital.
Baca Juga: Bulan Muharam: Menjadikan Hijrah sebagai Awal Perubahan Diri
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

