
Penulis: Tri Puji Astuti
Jika berbicara tentang musibah, pasti yang akan terlintas di benak kita pertama kalinya adalah penderitaan. Penderitaan sebab kehilangan sesuatu yang berharga, baik itu rumah, kendaraan, bahkan orang-orang terkasih kita. Terlebih lagi musibah besar yang dampaknya lebih luas. Maka tak salah jika musibah dihubungkan dengan penderitaan.
Sejak awal 2021, Indonesia mengawali lembaran baru dengan begitu banyak coretan tinta hitam. Satu per satu berita tentang kemalangan dan musibah bermunculan. Mulai dari tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 pada 9 Januari 2021 yang memberikan duka mendalam bagi masyarakat Indonesia. Disusul oleh bencana longsor Cimanggung Sumedang yang menelan puluhan korban jiwa.
Berselang satu pekan, kejadian gempa bermagnitudo 6,2 juga menghantam Kab. Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat, pada 15 Januari 2021. Sepekan lalu, Indonesia pun kembali berduka, asap hitam mengepul dari kebakaran tangki minyak milik Pertamina RU VI Balongan, Indramayu, Jawa Barat, pada 29 Maret 2021.
Sebanyak lima orang mengalami luka berat, 15 orang luka ringan, dan tiga orang hilang. Akibat dari kebakaran ini pun meluas, sampai akhirnya para warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian terpaksa mengungsi dan meninggalkan rumah mereka.
A. Menyikapi Musibah
Setiap musibah itu merupakan kehendak dari Allah Subhanahu wa ta’ala, namun musibah juga akan terjadi jika manusia lalai dan tidak peduli dengan lingkungan. Lantas bagaimana cara kita menyikapi musibah yang menimpa kita? Apakah kita harus marah dan kesal? Atau haruskah kita menuntut pemerintah mencegah atau menyingkirkan apa pun yang dapat menimbulkan sebuah bencana?
Kalau semua hal di atas dapat mengembalikan segala sesuatu yang hilang akibat sebuah musibah, mungkin saat ini seluruh masyarakat Indonesia akan berlomba-lomba untuk marah dan menuntut keadilan di gedung pemerintahan. Namun, itu bukan tindakan yang tepat dan bermartabat. Amarah dan emosi merupakan fitrah seorang manusia, wajar bila kita bersikap demikian.
Cara sederhana yang dapat dilakukan adalah sabar dan bersikap positif yang akan membantu meredakan amarah. Cara ini pasti terdengar klise, tetapi cukup ampuh. Kesabaran harus dipupuk dan dipelihara, sebab Allah Subhanahu wa ta’ala memang akan menguji sejauh mana kesabaran para hamba-Nya. Terdapat kabar gembira yang akan dipetik oleh orang-orang yang sabar.
“Gembirakanlah orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’ Mereka itulah yang bakal mendapat keberkahan dan rahmat dari Tuhan mereka. Mereka pula yang akan mendapat petunjuk”. (Q.S. Al-Baqarah [2]:155-157).
Membangun kesabaran bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Maka dari itu, sabar yang mesti dibangun bukanlah kesabaran yang pasif, melainkan kesabaran yang positif dan aktif. Dengan kata lain, kesabaran itu disertai dengan perenungan untuk mengambil pelajaran guna membangun sikap, tindakan, dan aksi ke depan demi kehidupan yang lebih baik lagi.
Bukan sekadar sabar, ikhlas, dan pasrah dengan keadaan, namun berusahauntuk tegar dan memperbaiki keadaan. Sabar yang disertai perenungan itu penting, karena di dalamnya termasuk mempelajari bagaimana cara pencegahan demi meminimalisasi kerugian yang mungkin terjadi.
B. Hikmah di Balik Musibah
Dengan memupuk sikap sabar dan rida, musibah yang datang akan mendatangkan banyak hikmah dan kebaikan. Di antaranya:
- Musibah bisa menghapus dosa
Sebagaimana sabda Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam:
“Tidaklah seorang Mukmin tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengan itu Allah meninggikan derajat atau Allah akan menghapus dari dirinya satu dosa. (HR Muslim, at-Tirmidzi dan Ahmad).
2. Allah Subhanahu wa ta’ala ingin menunjukkan kekuasaannya kepada manusia
Sebagai manusia yang bersifat lemah, terbatas dan serba kurang tentu kita membutuhkan sesuatu yang lebih kuat untuk membantu kita. Dialah yang Maha Besar dan tidak mempunyai kekurangan sekecil apa pun. Secanggih apa pun teknologi di dunia, namun tetap saja belum dapat memprediksi bencana gempa bumi secara akurat.
Dilansir dari CNN Indonesia, Kabid gempa bumi dan peringatan dini tsunami Dr. Daryono M.Si. menyebutkan tidak ada satu pun lembaga resmi dan pakar yang kredibel dan diakui mampu memprediksi gempa. Bahkan ketika didukung teknologi yang lebih canggih. Maka dari itu tidak sepantasnya sebagai manusia yang lemah bersikap sombong hati di hadapan kekuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala.
Karena itu, musibah yang terjadi haruslah menumbuhkan kesadaran dan keberanian untuk meluruskan segala hal yang salah. Allah Subhanahu wa ta’ala mendatangkan musibah untuk mengingatkan dan mengembalikan kesadaran terhadap kebesaran-Nya. Dengan musibah, manusia diharapkan kembali menyadari bahwa sebagai makhluk ciptaan dan hamba Al-Khaliq tidak selayaknya bermaksiat kepada-Nya.
Editor: Afrianti Safitri

