Menjaga Pandangan di Era Konten Tanpa Batas

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://toffeedev.com/blog/)

Penulis: Tengku Wafa’ Alifah

Di zaman sekarang, manusia hidup di tengah arus informasi yang sangat pesat. Berbagai konten di segala platform media sosial bisa dilihat hanya dengan satu sentuhan layar. Semua konten dapat diakses dengan mudah dan oleh siapa saja. Melalui gadget, seseorang bisa mengakses berita, hiburan, gambar, video, dan berbagai bentuk konten lainnya tanpa batas waktu dan tempat. Konten-konten tersebut menyebar dan mengalir bebas di media sosial. Kemudahan ini membawa berbagai manfaat, memudahkan bekerja, mencari informasi dan belajar. Namun, di balik konten-konten yang mengalir bebas tersebut ada tantangan besar yang sering diabaikan, yaitu sulitnya menjaga pandangan.

Dalam bebasnya konten yang mengalir tersebut, pasti tidak semuanya baik untuk dilihat. Akses untuk mencari atau melihat sesuatu sangat mudah untuk didapat. Saat ini, hal-hal yang merusak hati dan pikiran bisa muncul kapan saja melalui layar digital. Orang tidak mesti melihat secara langsung, cukup dengan satu perangkat lunak saja. Terkadang sesuatu yang tidak layak tersebut muncul bukan karena dicari, tetapi karena lewat begitu saja di media sosial. Hal inilah yang menjadi landasan bahwa penting untuk setiap orang menjaga pandangannya.

Baca Juga: Bebas dari Kecanduan Gadget: Kendali Waktu, Jaga Ibadah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 30–31:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya …”

Menjaga pandangan bukan sekadar menjaga penglihatan, tetapi juga bentuk menjaga kesucian hati. Dalam ayat ini, disebutkan bahwa bukan hanya laki-laki saja yang diperintahkan untuk menjaga pandangan, tetapi perempuan juga, yang berarti perintah ini berlaku untuk semua kalangan. Pandangan yang tidak dijaga bisa menjadi celah pintu masuk bagi setan untuk membisikkan keburukan pada hati manusia yang memicu munculnya keinginan buruk, angan-angan yang tidak sehat, bahkan terjerumus perbuatan dosa.

Banyak sekali kasus-kasus kejahatan yang timbul akibat tidak menjaga pandangan. Pada awalnya, bisa jadi hanya melihat, hingga akhirnya berujung pada sesuatu yang buruk, bahkan merugikan banyak orang. Inilah pentingnya membentengi diri dari konten yang dapat merusak nilai-nilai akhlak, iman dan ketenangan hati. Sebab, apa yang sering dilihat mata akan berpengaruh pada isi hati dan pikiran. Dengan menjaga pandangan, bukan hanya menjaga diri sendiri, tetapi juga menjauhi diri dari terjerumus pada perilaku yang tidak pantas.

Islam tidak melarang penggunaan media sosial, bukan berarti kita harus menutup diri dari kemudahan teknologi. Akan tetapi, yang ditekankan ialah bagaimana seorang Muslim dapat menjaga dirinya dan menyadari akan pentingnya membatasi diri dari hal-hal yang tidak layak dilihat. Karena bila pandangan tidak dijaga, iman dan pikiran akan terpengaruh. Akibatnya, ibadah jadi terasa berat dilaksanakan, ditunda-tunda, dan makin jauh dari Allah. Prioritas ibadah menjadi tertinggal dan berujung pada kelalaian.

Di era konten yang mengalir bebas tanpa batas, ada beberapa cara untuk membatasi diri dan menjaga pandangan agar tidak terpapar konten negatif media sosial. Pertama, kita dapat membatasi atau mengatur penggunaan media sosial yang sering menampilkan konten tidak bermanfaat dengan fitur yang tersedia pada aplikasi atau platform media sosial. Kedua, memilih akun, tontonan, dan bacaan yang mengarah pada kebaikan. Ketiga, segera melewati atau menutup konten yang tidak pantas. Keempat, memperbanyak aktivitas yang bermanfaat agar waktu tidak habis hanya untuk menggulir layar tanpa tujuan. Kelima, perbanyak ibadah dan hindari penggunaan gadget yang berlebihan.

Konten boleh makin bebas, teknologi boleh makin maju. Tetapi seorang Muslim harus tetap bijak dengan memiliki batas dalam menggunakannya. Sebab, kitalah yang paling tahu apa yang baik dan buruk untuk diri kita. Jangan sampai mata yang Allah berikan untuk melihat kebaikan, justru digunakan untuk hal yang mendatangkan dosa.

Baca Juga: Bukan Hanya tentang Melakukan, tetapi tentang Meninggalkan

Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles