
Penulis: Hilma Shofia
Kopi merupakan salah satu minuman favorit bagi hampir semua orang di seluruh dunia, baik anak remaja hingga para lansia. Tumbuhan kopi banyak kita temukan di dataran tinggi seperti pegunungan, memiliki jenis dan keanekaragaman masing-masing.
Lambung kita memiliki kadar keseimbangan antara faktor agresif yang menyebabkan kerusakan secara langsung dan ada pula faktor defensif yang melindungi. Faktor agresif yang ditimbulkan di antaranya, yaitu penyakit asam lambung. Dan, setiap orang memiliki faktor agresif yang berbeda beda tergantung dari apa yang mereka konsumsi.
Kopi merupakan minuman yang terdiri dari berbagai jenis bahan dan senyawa kimia, termasuk lemak, karbohidrat, asam amino, asam nabati yang disebut dengan fenol, vitamin dan mineral. Kopi diketahui merangsang lambung untuk memproduksi asam lambung sehingga menciptakan lingkungan yang lebih asam dan dapat mengiritasi mukosa lambung.
Bagi beberapa penderita gastritis diperbolehkan untuk mengonsumsi kopi, tetapi tetap dalam kadar yang sesuai. Meskipun begitu lebih baik, bagi penderita gastritis untuk menghindari minuman yang mengandung kafein tersebut. Seseorang penderita asam lambung yang sering meminum kopi memiliki risiko 3,57% mengalami penyakit gastritis dibandingkan yang tidak sering minum kopi. Kafein yang terkandung di dalam kopi yang memicu asam lambung, karena kafein memproduksi gas dalam lambung secara berlebihan sehingga seseorang sering mengalami kembung di perut.
Konsumsi kafein yang berlebihan membuat produksi asam lambung naik serta masalah-masalah saluran gastrointestinal disebabkan oleh kelebihan konsumsi kafein, termasuk luka di lambung dan kerongkongan. Ini memperbesar risiko seseorang terkena penyakit lambung, tukak lambung, dan tukak usus halus. Kafein dapat menyebabkan lambung memproduksi asam tambahan sehingga bisa menimbulkan masalah pada saluran pencernaan
Menurut data dari World Health Organization (WHO) tahun 2004, persentase dari angka kejadian gastritis di dunia, diantaranya Inggris 22,0%, China 31,0%, Jepang 14,5%, Kanada 35,0%, dan Perancis 29,5%. Data untuk Indonesia menurut WHO angka kejadian gastritis pada beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274,396 kasus dari 238.452.952 jiwa penduduk atau sebesar 40,8%.
Penyakit gastritis di negara berkembang dominan diderita oleh para remaja berbeda dengan negara maju penyakit gastritis dominan diderita oleh para lansia. Bukan hanya dengan mengonsumsi kopi yang dapat menyebabkan asam lambung, mengonsumsi minuman beralkohol, memiliki kebiasaan merokok serta mengonsumsi teh manis secara berlebihan juga dapat menyebabkan penyakit gastritis.
Bagi penderita gastritis sangat tidak dianjurkan untuk mengonsumsi kopi dalam keadaan perut kosong, jika hal itu terjadi seseorang bisa saja mengalami tubuh gemetar sampai nyeri perut yang tidak tertahan. Pola makan yang tidak teratur menjadi salah satu pemicu seseorang mengalami gastritis. Jenis makanan dan banyaknya makanan yang dikonsumsi termasuk seringnya mengonsumsi makanan yang berisiko terkena gastritis, terlebih lagi apabila lambung dibiarkan kosong selama 3–4 jam lebih akan memicu timbulnya berbagai penyakit dan dapat terkena gastritis.
Gaya hidup yang tidak baik seperti kebiasaan mengkonsumsi rokok juga cukup berpengaruh terhadap penyakit gastritis, karena rokok adalah silinder kertas yang berisi daun tembakau cacah. Dan di dalam rokok juga terdapat jenis zat kimia yang sangat berbahaya bagi tubuh jika dikonsumsi.
Terdapat banyak jenis kopi dengan keanekaragaman masing-masing, namun ada 2 jenis kopi yang banyak beredar dipasaran diantaranya kopi jenis Robusta dan Arabika. Untuk jenis kopi instan yang banyak beredar di pasaran Indonesia merupakan jenis robusta, kopi jenis ini mempunyai rendemen hasil ekstraksi yang tinggi, sementara kopi arabika biasanya digunakan untuk memperbaiki cita rasa dan aroma.
Penyakit gastritis tidak bisa dibiarkan begitu saja karena itu akan menimbulkan efek fatal. Jika penyakit ini terus dibiarkan dan berakibat semakin parah maka lambung kita akan berakibat luka-luka (ulkus) atau yang sering disebut dengan tukak lambung. Bukan hanya itu jika penyakit ini terus dibiarkan tanpa melakukan pengobatan serta menjaga pola makan dan gaya hidup, akan menyebabkan seseorang mengalami kanker lambung bahkan bisa sampai menyebabkan kematian.
Editor: Adelini Siagian

